Tortor, Tarian Sejak Abad ke-13
Budaya

Tortor, Tarian Sejak Abad ke-13

by Pohan
Sat, 17-Oct-2015

Kebudayaan Indonesia sangat beragam yang meliputi upacara adat alat musik, tari tradisional, lagu daerah, pakaian adat, dan lain sebagainya. Dalam judul ini kita sedikit membahas soal tari tradisional asal Sumatera Utara bernama Tortor.

Menurut Togarma Naibaho, pendiri Sanggar Gorga, kata Tortor berasal dari suara entakan kaki penarinya di atas papan rumah adat Batak. Awalnya tari ini muncul pada upacara kematian, panen, penyembuhan, dan pesta muda-mudi. Tortor semacam bagian ritual yang harus dilalui pada acara-acara adat tersebut.

Ada pesan tersendiri dari proses ritual itu. Togarma menjelaskan, ada 3 pesan utama dari upacara itu. Pertama, takut dan taat pada Tuhan, sebelum tari dimulai harus ada musik persembahan pada Yang Maha Esa. Kedua, pesan ritual untuk leluhur dan orang-orang masih hidup yang dihormati. Yang terakhir, pesan untuk masyarakat yang hadir dalam upacara itu. Kemudian berlanjut pada tema tertentu dalam upacara itu.

Durasi Tari Tortor pun bervariasi, mulai dari tiga hingga sepuluh menit bergantung dari permintaan satu rombongan yang mau menyampaikan suatu hal ke rombongan lain.

Seiring perkembangan zaman, Tari Tortor kini tidak hanya khusus ditampilkan pada upaca adat, tetapi juga pada upacara perkawinan di kota besar. Di upacara ini, Tortor bukan lagi kegiatan ritual melainkan sudah jadi hiburan sekaligus tonton. Adapaun Jenis Tari Tortor meliputi:

1. Tortor Pangurason

Ini tari pembersihan yang dilaksanakan pada acara pesta besar. Sebelum pesta digelar, lokasinya wajib dibersihkan dengan jeruk purut agar tidak ada musibah yang terjadi.

2. Tortor Sipitu Cawan

Nama lainnya adalah Tari Tujuh Cawan. Biasanya digelar  pada acara pengangkatan raja. Sipitu Cawan menceritakan tentang 7 putri yang berasal dari khayangan turun ke bumi dan mandi di Gunung Pusuk Buhit dan pada saat itu juga Pisau Tujuh Sarung [Piso Sipitu Sasarung] datang.

3. Tortor Tunggal Panaluan

Ini merupakan suatu budaya ritual. Ada Tortor Tunggal Panaluan yang dilaksanakan pada saat upacara ritual apabila suatu desa sedang dilanda musibah. Untuk Tortor ini, tarian dilakukan oleh para dukun untuk mendapatkan petunjuk dalam mengatasi musibah tersebut. [][teks @pohanpow/berbagai sumber | foto kombatak.blogspot.com, pesonabatak.blogspot.co.id]