Tradisi Makan Bajamba
Budaya

Tradisi Makan Bajamba

by Pohan
Fri, 30-Oct-2015

Tiap daerah di Indonesia memiliki makanan khas yang berbeda. Perlengkapan alat makannya pun bermacam-macam. Di Bali, ada piring tradisional Ingke. Bentuknya seperti nampan atau piring yang terbuat dari anyaman lidi daun kelapa.

Nah, sebentar kita melongok ke Minangkabau. Di sana ada tradisi makan Bajamba atau bisa diartikan makan bersama. Biasanya makan Bajamba ini dijumpai pada saat acara pesta atau baralek, baik itu pesta adat atau pesta kecil lainnya.

Makan Bajamba awal mulanya kebiasaan masyarakat di Kabupaten Agam. Kemudian menyebar luas di lingkungan sekitar Minangkabau. Konon makan Bajamba salah satu penerapan dari Rasulullah SAW, karena tata cara makan Bajamba sesuai dengan sunnahnya.

Yang dimaksud sesuai sunnah, makan Bajamba bukan sekadar makan bersama-sama seperti yang biasa kita lihat. Makan Bajamba terbilang unik karena menunya menggunakan piring besar. Ukuran diameter piring sekitar setengah meter, dan terbuat dari besi. Orang Minang biasa menyebutnya dengan talam.

Dalam makan Bajamba biasanya ada empat hingga enam orang yang makan bersama dalam satu piring besar [talam] itu. Perempuan duduk bersimpuh, melingkari talam, sementara laki-laki duduk bersila. Nasi diletakkan di atas talam dan lauk-pauknya diletakkan di bagian tengah nasi. Lauk yang disajikan masakan khas Minangkabau.

Menariknya, pada makan Bajamba, ada aturan-aturan yang harus dipatuhi agar tidak ada yang merasa terganggu dengan tindakan. Kita harus mendahulukan orang yang lebih tua untuk menyuap nasi. Setiap orang yang makan hanya boleh mengambil nasi yang berada di depannya, tidak boleh mengambil punya orang lain.

Dalam makan Bajamba, penyantapnya tidak boleh mengeluarkan suara, atau yang biasa disebut oleh orang Minang makan mancapak. Suara-suara bisa mengganggu selera makan orang di sekitarnya. Ketika makan tidak, mereka boleh memasukkan tangan ke mulut, namun dengan 'melompatkan' nasi ke dalam mulut menggunakan tangan. Biasanya tangan kiri berada di bawah tangan kanan agar bisa menampung nasi yang berjatuhan agar tidak kembali ke dalam talam.

Aturan lainnya, kepala tidak boleh menunduk dalam makan Bajamba karena bisa menghalangi yang lainnya untuk bisa leluasa dalam menyuap nasi. Kita juga harus menghabiskan semua nasi yang ada, tidak boleh tersisa. Jika kita selesai lebih dahulu dari yang lain, harus menunda cuci tangan sampai yang lainnya selesai makan.

Pelajaran yang bisa diambil dari makan Bajamba adalah kebersamaan. Tidak ada perbedaan status sosial karena semua makan bersama-sama yang bisa mempererat tali silaturahmi antara sesama, menanamkan nilai sopan santun, saling menghargai dan menghormati orang lain. Semoga kebudayaan Indonesia bisa dipertahankan. [][teks @pohanpow/fotonela.com | foto fadlymolana.wordpress.com, thawalib-parabek.sch.id]