Secercah Sejarah dari Kacamata Taufik Abdullah
Budaya

Secercah Sejarah dari Kacamata Taufik Abdullah

by Pandu
Wed, 03-Feb-2016

Prof. Dr. Taufik Abdullah menjadi tamu Salihara dalam ceramah "Historiografi Indonesia dalam Perspektif Sejarah". Sebagai menu pembuka, Taufik Abdullah memberikan makalah setebal 14 halaman yang merangsang peserta untuk ikut berdialog tentang praktik ilmu sejarah, termasuk ideologi dan metodologi.

Perlu diingat, sejarah tidak lepas dari penulisan. Maka itu, pertanyakan sudut pandang atau latar belakang yang dipakai oleh penulis. Karena itu, Taufik Abdullah menyadari bahwa akan selalu ada perdebatan tentang sejarah. Tentang bagaimana sebuah peristiwa bisa terjadi dan mengapa. Ia menyebut dengan lantang kepada sejarawan, "Nggak usah belagak ‘I’m the truth.'"

Taufik Abdullah yang sudah dikenal sebagai peneliti sejak 1962, juga memberi sedikit pencerahan tentang kelambu hitam Peristiwa Gestapu 1965. Pasalnya, seorang guru dan murid bertanya tentang kejadian itu. Sejauh ini PKI tidak lagi ‘dicantumkan’ dalam pembunuhan massal berantai, tapi belum diketahui dalang sejarah berdarah tersebut.

“Perlu dipahami, bahwa Gestapu itu [peristiwa] tentara membunuh tentara. Iya dong? karena fakta sejarah seperti itu,” jawab Taufik Abdullah. Ia menyebut, sementara dalang di balik Peristiwa Gestapu itu baru spekulasi-spekulasi yang belum diuji kebenarannya.

Kutipan perang termahsyur abad ke-21 yang ditemukan peneliti Alex Haley berbunyi “sejarah ditulis oleh pemenang”. Secara halus Taufik Abdullah menyiratkan hal tersebut.

“Ada satu babak yang tidak boleh diganggu gugat oleh kami [peneliti]. Itu ranah yang nggak boleh diganggu. Kalau mau membahas sejarah Mataram 1 atau 2 sih silahkan saja. Boleh. Tapi kalau soal Gestapu, tunggu dulu.”

Taufik Abdullah pun sempat mengkritik awal penulisan sejarah Indonesia yang sekadar kebalikan dari yang dikatakan Belanda. Bila Belanda bilang buruk, maka itu baik untuk bangsa, serta sebaliknya. Ditambah penulisan sejarah dengan unsur Jawa sentris yang kental, sampai ada kekeliruan bahwa bangsa ini dijajah 350 tahun.

“Siapapun yang sempat belajar ilmu sejarah pasti paham bahwa accepted history hanya berlaku untuk jawaban tentang ‘apa, bila mana, siapa, di mana’ untuk peristiwa yang pasti saja. Sedangkan jawaban ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’ adalah wilayah dari sejarah yang akan senantiasa memperbaiki dirinya,” tutup Taufik Abdullah. [][teks @HaabibOnta | foto Witjak Widhi Cahya]