'Angin Segar' bagi Pengrajin Barongsai
Budaya

'Angin Segar' bagi Pengrajin Barongsai

by Pohan
Sat, 06-Feb-2016

Barongsai jadi pertunjukan yang dinantikan saat perayaan tahun baru Imlek. Kita dapat menemuinya misalnya di sekitar klenteng atau tempat-tempat pusat keramaian. Tak heran, Imlek membawa angin segar bagi para pengrajin barongsai.

Slamet [68 tahun] termasuk pengrajin yang mendapat kebanjiran pesanan barongsai menjelang hari raya Imlek. Orang yang akrab disapa Pak Pong ini mengaku sudah menyiapkan kurang lebih 100 barongsai dengan ukuran kecil dan sedang yang dibuatnya dalam satu bulan ini. Ini sebagai antisipasi kalau permintaan pada barongsai membludak pada saat menjelang Imlek.

Ditemui di rumahnya di Kampung Pajeksan, Sosromenduran, Godongtengen, Yogyakarta, Pak Pong mengaku sudah menggeluti usaha ini sejak tahun 1999. Saat itu dia tertarik dengan bentuk barongsai yang unik. Tidak lebih dari 1,5 bulan mempelajari pembuatan barongsai, Pak Pong memberanikan diri untuk terjun sebagai pengrajin barongsai. Tidak hanya saat Imlek, hari-hari biasa pun Pong tetap membuatnya. Dia menjual barongsainya dengan harga Rp. 30-40 ribu untuk ukuran kecil.

“Barongsai kecil ini untuk mainan anak-anak, yang buat pentas beda lagi,” ujarnya, Rabu [03/02].

Menurut Pak Pong, barongsai yang digunakan dalam pementasan berdiameter 150 cm dan bulu matanya terbuat dari wool. Harganya bisa mencapai Rp. 3 juta.

Dalam proses pembuatan barongsai dalam satu hari, Pak Pong bisa menghasilkan 15 barongsai berukuran kecil.

“Barongsai yang kecil-kecil ini dibuat dari kertas daur ulang dan lem. Jadi, harus kena panas matahari, nggak bisa buat kalo musim ujan gini,” ujarnya.

Sedangkan untuk barongsai berukuran besar, Pak Pong menghabiskan waktu 1,5 bulan saat membuatnya.

Selain itu, Pak Pong juga bisa membuat liong atau naga, yang panjangnya  20 meter, dengan waktu pengerjaannya hingga memakan 3 bulan, sedangkan harganya bisa mencapai Rp. 7 juta. Dalam proses perancangan barongsai dan liong, Pak Pong tidak menghadapi kendala berarti.

Soal bahan baku pembuatan barongsai, Pak Pong mengaku, di Yogyakarta tidak begitu lengkap. Untuk beberapa bahan, ia harus memesan dari Semarang atau Bandung.

Selain sebagai pengrajin barongsai, Pak Pong juga salah seorang pemain barongsai. Sejak tahun 1999, Pak Pong sudah menjadi pemain barongsai. Hingga  menginjak usia yang 68, Pak Pong masih sanggup memainkan liong pada pementasan. [][teks & foto Ryza Wijayanda Nugraha]