Glodok, Pecinan Terbesar di Jakarta
Budaya

Glodok, Pecinan Terbesar di Jakarta

by Yogira
Mon, 08-Feb-2016

Penggemar elektronik keterlaluan kalau nggak tahu Glodok. Di sinilah pusat perdagangan elektronik terbesar dan legendaris Indonesia.

Dulu, jauh semodern kini, Glodok lebih dikenal sebagai perkampungan orang Tionghoa. Turun-temurun mereka tinggal di Glodok, yang kini dikenal juga sebagai Pecinan.

Glodok dikenal sebagai Pecinan terbesar di Jakarta karena sejak zaman Belanda sudah ada dan berkembang jadi perkampungan etnis Tionghoa. Awal Pertumbuhannya setelah peristiwa pembantaian Hindia Belanda terhadap orang Tionghoa pada tahun 1740. Kala itu, sebagian besar orang Tionghoa ditempatkan di Glodok.

Ada 3 versi paling dikenal asal mula penamaan Glodok. Pertama, dari bahasa Sunda “Golodog” [pintu masuk] karena dulu Sunda Kelapa [Jakarta] jadi pintu masuk ke Kerajaan Sunda. Versi kedua, glodok berasal dari suara air pancuran yang berbunyi “grojok-grojok” dari sebuah gedung kecil dekat Balai Kota. Versi ketiga, Glodok berasal dari kata gerobak, yang dulu dipakai untuk mengangkut air dari daerah Pancoran [kawasan di Glodok].

Meski kini kawasan Glodok ramai dan sarat gedung modern, masih ada beberapa bangunan tua yang masih bertahan sejak zaman Pecinan di sana mulai berkembang. Di Glodok masih tersisa peninggalan sejarah, antara lain: toko obat Lay An Tong, klenteng Toa Se Bio, rumah keluarga Souw, Gereja Santa Maria Fatima, dan De Groot Kanaal [Kali Besar.
[][teks @firza/berbagai sumber | foto en.wikipedia.org, mapio.net]