Pengembalian Makna Kiri oleh Belok Kiri Fest
Budaya

Pengembalian Makna Kiri oleh Belok Kiri Fest

by Pandu
Wed, 09-Mar-2016

Selama seminggu, di arus pinggiran sosial media terkuak kasak-kusuk tentang Belok Kiri Fest. Ini festivalnya para pegiat kiri tanah air yang dijadikan ajang kumpul, berdiskusi, juga asah-tukar pikiran. Dalam pemahaman paling dangkal, "Kiri" identik dengan komunis, dianggap strata paling busuk setelah peristiwa pembantaian ’65. Sebab itu, Belok Kiri Fest banyak mendapat tentangan dari berbagai golongan.

Acara yang semula direncanakan di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, harus bergeser ke kantor LBH Jakarta. Penyebabnya, acara tidak mendapat izin dari Polres Jakarta Pusat. Bahkan, penulis Tere Liye pun ikut merespons lewat status di Facebook. Ia menyebut, tidak terpesona oleh paham-paham luar. Serta menganggap kemerdekaan berhasil direbut karena satu kelompok saja.

Tere sudah menghapus postingan itu. Tapi sebenarnya apa yang harus ditakuti dari Kiri? Paham ini seolah najis, apapun yang berbau kiri haruslah dihindari karena dianggap tidak bermoral dan anti-agama.

Karena itulah, lewat Belok Kiri Fest, para pegiat coba membongkar persepsi keliru yang telah dibangun propaganda Orba. Lewat sesi bincang-bincang propaganda itu dikupas. Salah satunya film penumpasan G30S.  Pasalnya, selama Orba berkuasa, propaganda itu teruslah diulang, menebarkan ketakutan serta kebencian yang terus menyala akibat luka peristiwa '65.

Nara sumber acara ini mengungkapkan, sejak peristiwa G30S, rupa bangsa ini jadi berubah. Kebebasan berdiskusi dan berkelompok direnggut. Eksploitasi Papua yang kelewat batas. Demikian pula persoalan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa. Semua terjadi setelah tahun '65 ketika tangan besi mulai meminggirkan kelompok Kiri.

Padahal, Kiri sejatinya bukanlah sebuah gerakan komunis sekuler yang membahayakan bagi kehidupan beragama. Dalam sejarah tercatat bahwa Serikat Islam ‘Merah’ yang dipimpin Semaoen dan Tan Malaka ikut berjuang memerdekakan Sabang-Merauke. Bedanya, Serikat Islam ‘Merah’ lebih keras menentang penjajahan. Kelompok ini sama sekali menolak bekerja sama dengan Belanda. Ini bertentangan dengan SI ‘putih’ yang lunak.

Kata Kiri yang telah dipelintir maknanya oleh Orba, sejatinya berarti perlawanan, pemberontak, penentang bagi ketidakadilan yang dilakukan pemerintahan. Selalu begitu sejak zaman VOC sampai sekarang. Aktivitas kiri yang selalu menentang kebijakan, otomatis dianggap berbahaya bagi stabilitas pemerintahan yang amatlah dijaga Orba. Oleh sebab itu, mereka selalu dipinggirkan apapun caranya. Dari dulu sampai sekarang. Tapi apa salah jika berdiri di sebelah kiri? kalau kanan telah semena-mena? [][teks @HaabibOnta | foto Belok Kiri Fest/Tere Liye]