Lost World: Urang Kanekes
Budaya

Lost World: Urang Kanekes

by Pandu
Tue, 07-Jun-2016

Di tengah laju kencang lalu lintas informasi, yang memudahkan semua orang untuk copy-paste, memamerkan segala aktivitas ke ruang publik sebagai kebudayaan baru, juga berlomba-lomba agar selalu update, sebuah desa kecil di Banten, tetap bergeming dan masih mengandalkan kaki dan mulut untuk bertukar informasi.

Desa itu dihuni Urang Kanekes, yang biasa kita sebut Suku Baduy. Nama Baduy sebetulnya pemberian Belanda pada kelompok masyarakat ini, karena lokasi tinggalnya yang dekat Gunung dan Sungai Baduy. Sementara, mereka lebih suka disebut Urang Kanekes, mengacu pada desa yang mereka tempati.

Populasi Urang Kanekes antara 5.000 – 8.000 orang. Terbagi jadi dua kelompok, Urang Kanekes Dalam dan Luar. Kelompok Kanekes Luar sudah melek pada kemajuan jaman. Mengerti bahasa Indonesia, menggunakan teknologi, menganut agama Islam, bahkan memakai jeans.

Urang Kanekes Dalam adalah kebalikannya. Mereka masih mempertahankan tradisi leluhur sampai sekarang. Tetap tinggal di wilayah Kanekes, tidak menggunkan teknologi apapun, selalu berjalan kaki ke mana-mana tanpa alas kaki, serta menghadapkan pintu rumah ke Utara atau Selatan.

Perbedaan yang mendasar ialah pakaian. Urang Kanekes Dalam selalu memakai baju putih atau biru tua dan ikat kepala putih. Sedangkan Kanekes Luar pakai baju hitam, bentuk ketidaksucian mereka.

Urang Kanekes yang masih menganut Sunda Wiwitan, percaya bahwa mereka adalah keturunan Batara Cikal. Satu dari tujuh dewa yang diutus ke Bumi. Urang Kanekes diwajibkan bertapa untuk menjaga perdamaian dunia. Sedangkan ahli sejarah mengatakan, Urang Kanekes adalah orang dari Kerajaan Tatar Sunda yang mengasingkan diri ke Hutan Kendeng. Kurangnya bukti tulis menyulitkan peneliti untuk menafsir asal-usul Urang Kanekes.

Urang Kanekes punya sebuah objek pemujaan bernama Arca Domas. Hingga kini lokasinya sangat dirahasiakan. Hanya Ketua Adat yang bisa mengunjunginya, itupun cuma sekali dalam setahun, karena dianggap amat sakral. Jika di Arca Domas terdapat air menggenang artinya, panen akan bagus tahun ini. Sebaliknya jika kering, maka akan ada bencana.

Sejak Desa Kanekes dijadikan objek wisata, interaksi dengan orang luar jadi intensif. Urang Kanekes Dalam pun mengijinkan jika ada yang mau menginap dengan syarat mengikut adat sang tuan rumah. Hanya saja sampai kini WNA masih dilarang mendekat sesuai aturan adat.

Urang Kanekes memang terisolasi dari dunia luar. Tapi mereka tetap mengikuti perkembangan jaman. Tanpa pernah melupakan adat lelulur dan kearifan lokal. [][teks @HaabibOnta/berbagai sumber | foto orangbaduy.com]