Hubungan Ketupat dengan Lebaran
Budaya

Hubungan Ketupat dengan Lebaran

by Sherra
Mon, 04-Jul-2016

Menjelang hari Raya Idul Fitri, pasti pasar akan ramai dengan penampakan janur. Saat Lebaran, hidangan yang kiranya wajib mejeng di meja makan sebagai sahabat opor, rendang, atau gulai ya ketupat. 

Tapi kenapa ya ketupat selalu eksis kala Lebaran?

Konon katanya, asal usul ketupat dari tradisi Jawa. Adalah Sunan Kalijaga yang memperkenalkan dua kali perayaan Lebaran atau Bakda pada umat Muslim di Jawa yakni Idul Fitri dan Lebaran Kupat, yang diperingati tujuh hari setelah Idul Fitri.

Saat Lebaran Kupat, umat Muslim membuat ketupat dari daun kelapa muda dengan isian beras dan dibagikan kepada tetangga serta saudara sebagai tanda kebersamaan dan menjalin ikatan tali silaturahmi.

Ada makna khusus soal ketupat. Dalam bahasa Jawa, ketupat atau kupat adalah kepanjangan dari ngaku [mengakui] dan lepat [kesalahan]. Ungkapan tersebut digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam menyiarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Kini kesakralan ketupat menjadi tradisi saat menjadi makanan yang selalu ada pada saat umat Muslim merayakan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha sebagai momen tepat untuk saling meminta maaf dan mengakui kesalahan.

Sebagian masyarakat Jawa memaknai rumitnya pembuatan anyaman ketupat dari janur sebagai cerminan kesalahan manusia, warna putih ketupat ketika dibelah melambangkan kebersihan setelah bermaaf-maafan, dan butiran beras yang dibungkus dalam janur merupakan simbol kebersamaan dan kemakmuran.

Meski begitu, ketupat pun bisa ditemui di daerah lain bahkan di negara Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Brunei, Singapore, dan juga Filipina. [][teks @saesherra/petrokimia-gresik.com, polyglotindonesia.org | foto gettyimages.com]