Doea Tanda Tjinta: Meleburnya Pluralisme
Budaya

Doea Tanda Tjinta: Meleburnya Pluralisme

by Sherra
Mon, 01-Aug-2016

Kreativitas Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan Dajuk Ferianto tak perlu diragukan lagi. Kembali terbukti lewat pementasan lakon “Doea Tanda Tjinta” di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, [29 & 30 Juli 2016].

Lakon “Doea Tanda Tjinta” berlatar zaman pergerakan kemerdekaan, ketika gagasan Indonesia merdeka menjadi ancaman pemerintah Hindia Belanda. Bukan cuma soal gagasan kemerdekaan Indonesia, pertunjukan Heritage of Indonesia yang disponsori Djarum Foundation ini juga mengisahkan perjalanan anak keturunan Tionghoa yang diperankan Olga Lydia.



Olga diminta ayahnya untuk menikahi kompeni Belanda dan menjadi warga Hindia Belanda. Namun ia berusaha mempertahankan keyakinan dan prinsipnya untuk lebih mendukung pergerakan Indonesia merdeka. Hingga sebuah warisan jam mengungkap rahasia masa lalunya.

Walaupun kisah sejarah, namun celetukan para aktor mengundang gelak tawa penonton. Bahkan saat ada sebagian penonton yang tak mengerti waktu para aktor nyeletuk dengan bahasa Jawa.


Agus Noor, sang sutradara bilang, “Pentas ini sebenarnya ingin menyampaikan kisah yang sering dilupakan banyak orang. Ada partisipasi orang-orang Tionghoa dalam pergerakan kemerdekaan. Ingin mengingatkan bahwa kemerdekaan dibangun oleh banyak orang, suku, dan etnik. Multikulturalisme itu terjadi.”


Selain Olga Lidya, pemain lainnya yang pentas adalah: Merlyn Sopjan, Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Susilo Nugroho, Trio GAM [Gareng, Joned, Wisben].



Progam “Indonesia Kita” ini diiringi dengan musikal keroncong oleh Sinten Remen. Tentu, diaransemen dengan gaya terbaru yang bikin pentas tambah asik. Apalagi ditambah dengan suara merdu Endah Laras, Heny Janawati, dan Subardjo HS. [][teks & foto @saesherra]