Mengenal Suku Sasak
Budaya

Mengenal Suku Sasak

by Intern
Sun, 12-Feb-2017

Suku Sasak telah menghuni Pulau Lombok selama berabad-abad, kira-kira sejak 4.000 Sebelum Masehi. Lama juga ya? Jumlah penduduk Pulau Lombok kurang lebih 3 juta jiwa, 80%-nya merupakan penduduk asli yaitu Suku Sasak. 

Apa sih arti “Sasak”? Nama suku Sasak berasal dari kata sak-sak [dalam bahasa Sasak] yang berarti sampan. Mungkin, dinamai sampan karena letaknya di Pulau lombok. Untuk mencapai pulau yang berlokasi  di sebelah Timur Bali ini, kita harus menaiki perahu terlebih dahulu, makanya Suku Sasak dinamai sampan, deh.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa cikal bakal orang Sasak adalah percampuran antara penduduk asli Lombok dengan para pendatang dari Jawa. Berarti, pendahulu Suku Sasak sebagian berasal dari Jawa. Jangan-jangan, dulu yang ngasih nama Sasak salah satunya orang Jawa juga ya.

Bukti lainnya merujuk kepada aksara Sasak yang dipakai Suku Sasak untuk berkomunikasi, disebut sebagai “Jejawan”. Aksara ini berasal dari tanah Jawa. Jadi, nggak ragu kan kalau leluhur Suku Sasak itu keturunan Jawa.   

Budaya Suku yang sangat kentara di Lombok ini lumayan beragam, ada tarian perang yang bernama Tandang Mendet. Konon, tarian ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Selaparang. Terlihat beberapa penari yang jumlahnya 7-9 orang. Mereka ada yang membawa tombak, tameng dan pedang yang seolah-olah akan berperang. Umumnya, tarian ini dimainkan oleh laki-laki. Walaupun sedang menari, tapi tetap gagah ya?

Peresean, seni bela diri yang dulu digunakan oleh lingkungan kerajaan. Peresean awalnya adalah latihan pedang dan perisai bagi seorang prajurit. Nah, kalau tadi ada tarian Tandang Mendet yang personelnya hanya menari seolah-olah akan berperang, dalam seni bela diri Parasean hanya ada dua orang yang benar-benar mengadu kekuatan, kelincahan, dan kepandaian dalam bertarung. Terlihat para pemain bela diri tidak memakai pakaian tuh Commuters, wah kalau kena pukul langsung mengenai kulit yaa..

Rumah-rumah yang ada di Suku Sasak berbeda dengan arsitektur Bali pada umumnya. Atapnya berbentuk seperti topi. Kalau dilihat-lihat seperti topi prajurit perang ya? Selain bentuknya unik, atap rumah ini sangat menarik untuk dijadikan objek foto. Lucu yaa..

Rebo Bontong. Upacara ini dimaksudkan untuk dapat menghindari bencana atau penyakit. Biasa disebut sebagai tolak balanya Suku Sasak.Dengan membawa kepala kerbau yang dibungkus kain kafan. Siapa yang penasaran? Warga suku sasak yang menghadiri upacara di siang bolong tak terlihat lelah sedikitpun, Commuters. Karena dilakukan sebagai tolak bala agar terhindar dari penyakit, pasti dilakukan dengan semangat dan hikmat dong.

Selain Rebo Bontong ada upacara Bebubus Batu yang digelar untuk meminta berkah kepada Sang Maha Kuasa. Upacara ini dilaksanakan tiap tahun, dipimpin oleh penghulu dan kiai.

Suku Sasak masih sangat erat dengan budaya dan selalu tak lupa mengucap syukur sekaligus meminta kepada sang Maha Kuasa agar selalu dilimpahkan berkahnya. Makannya, upacara ini digelar setiap tahun tanpa absen lho. Penghulu dan Kiai yang memimpin dalam upacara ini ternyata berperan sebagai pemimpin doa, sekaligus membawa upacara ini kedalam suasana yang sakral. Tapi, bukan kaya pernikahan ya commuters. Doa-doa khusus yang dipanjatkan untuk meminta berkah inilah yang membuat Suku Sasak tak pernah lekang oleh zaman dan selalu eksis di Lombok.

Sudah cukup mengenal Suku Sasak? Kalau kalian hanya baca sejarah singkat dan mengenal budaya Suku Sasak lewat tulisan rasanya nggak asik ya. Ada yang ingin berkunjung, Commuters? Yuk, berangkaaaat..! [][teks @andiskaraf/wacana.co | foto WisataLombokSumbawa, CantikOfIndonesia]