Panen Raya dari Berbagai Suku Nusantara
Budaya

Panen Raya dari Berbagai Suku Nusantara

by Intern 2
Tue, 08-Aug-2017

Bukan Indonesia namanya kalau tidak kaya akan seni dan budaya. Ada sekitar 1.300 lebih suku bangsa di Nusantara. Tiap suku mempunyai kebudayaan yang berbeda, baik dari segi berpakaian, alat musik, rumah adat, bahkan syukuran. Kali ini LINIKINI akan membahas kebiasaan syukuran panen yang dilakukan oleh 5 suku di Indonesia.

1. Kerja Tahun [Masyarakat Tanah Karo]

Hampir seluruh Masyarakat Tanah Karo mengandalkan perekonomiannya dari sektor pertanian karena memang letaknya yang berada di dataran tinggi. Jenis tanamannya meliputi padi, buah-buahan, sayuran, kopi, dan lain-lain.

Untuk mensyukuri berkat Tuhan, karena masyarakat diberi kesehatan, panen melimpah, dan untuk mendoakan hasil panen berikutnya, maka dilaksanakanlah Kerja Tahun atau pesta tahunan. Ada 3 aspek yang dilakoni. Pertama, aspek religi, yaitu mengucap syukur kepada Tuhan. Kedua, aspek sosial, yaitu mengundang kerabat dari jauh untuk merekatkan kembali hubungan. Ketiga adalah seni, yaitu hiburan bernuansa Karo, baik seni musik maupun tari.

2. Mappadendang [Masyarakat Bugis]

Mappadendeng adalah sebuah ritual merayakan panen oleh Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Kegiatan ritual ini adalah menumbuk gabah pada lesung dengan menggunakan kayu atau bambu. Ritual ini untuk menyucikan gabah hingga akhirnya menjadi beras dan bisa dikonsumsi oleh masyarakat.

Tabuhan yang keluar dari pukulan bambu ke lesung akan menimbulkan bunyi yang indah. Dari bunyi-bunyian ini, sekelompok pria akan mulai menggelar pertunjukan, seperti: tari-tarian dan nyanyian yang berisi banyak sekali rasa syukur kepada Sang Pencipta yang memberikan banyak rezeki. Oh ya, ada satu lagi yang unik dari Meppadendeng, kaum muda biasanya suka mencari jodoh pada gelaran ini.

3. Seren Taun [Masyarakat Sunda]

Seren Taun adalah salah satu ritual panen yang setiap tahun dilakukan Masyarakat Sunda dari zaman dahulu. Ritual ini adalah simbol dari rasa terimakasih yang diberikan Masyarakat Sunda kepada Tuhan.

Mereka akan menyerahkan beberapa bagian padi kepada ketua adat untuk disimpan di dalam lumbung yang dalam Bahasa Sunda sering disebut dengan leuit. Acara seren taun biasanya diawali dengan pengambilan air di sumber yang dikeramatkan. Selanjutnya air itu akan dicipratkan ke semua orang ketika melakukan penjemputan padi. Setelah prosesi ini selesai, penduduk akan melakukan pertunjukan kolosal seperti tari buyung, angklung baduy, dan angklung buncis. Penutup acara ini ada doa yang dibacakan dengan khidmat.

4. Methik [Masyarakat Jawa]

Ada dua tradisi Masyarakat Jawa ketika panen tiba. Biasanya di beberapa daerah Jawa Timur, mereka melakukan methik, yakni: semacam upacara ritual penghormatan kepada Dewi Sri sebelum panen datang.

Saat padi mulai menguning, pemilik sawah akan mengadakan selamatan di tengah sawah. Mereka akan memanjatkan doa-doa dan berharap sawah akan terus dijaga hingga akhirnya panen yang sangat besar akan datang. Tradisi kedua dilakukan setelah panen. Masyarakat akan berbondong-bondong menjalani ritual di tengah lapangan atau jalan-jalan. Dengan memakai pakaian adat Jawa, mereka berkeliling sambil menggelar pertunjukan. Puncaknya adalah memasukkan padi ke dalam lumbung dan memanjatkan doa.

5. Penti [Masyarakat Flores]

Penti adalah ritual panen yang berasal dari beberapa desa adat di Flores. Upacara ini untuk memanjatkan syukur kepada Sang Pencipta dan juga para roh-roh nenek moyang dan alam yang membantu membuat panen di desa itu jadi melimpah dan kegagalan yang sangat menakutkan tidak lagi datang.

Ritual biasanya di rumah utama desa ditandai dengan acara penyembelihan hewan, seperti ayam. Selanjutnya, akan ada yang namanya pertunjukan seperti tarian atau nyanyian hingga menjelang senja. Saat matahari akan hilang secara menyeluruh, pemuka adat akan menggelar pengorbanan lagi berupa dua ekor babi. Saat matahari terbenam diyakini bahwa roh akan datang dan ikut berpesta dalam merayakan panen yang besar. [][teks @apra_manuela/boombastis.com | foto boombastis.com, jamburmergasilima.blogspot.com]