Stasiun Kota Pernah Jadi Stasiun Termegah Se-ASEAN
Budaya

Stasiun Kota Pernah Jadi Stasiun Termegah Se-ASEAN

by Pandu
Tue, 28-Jul-2015

Sekitar 88 tahun silam, ketika Nusantara masih disebut Hindia-Belanda dan Jakarta masih bernama Batavia, berdiri stasiun megah di tengah kota. Dulu  persinggahan kereta api ini cuma  menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh [Bekasi].

Stasiun itu lantas dikenal dengan nama Stasiun Kota. Dahulu, stasiun ini paling megah serta modern se-ASEAN. Arsiteknya, Frans Johan Lowrens Ghijels mengawinkan desain konsep Barat dengan gaya Timur. Ini bisa terlihat dari balutan Art Deco yang kental di bagian atap dan pilar bangunan.

Arsitek kelahiran Tulungagung 8 September 1882 itu sengaja membuatnya sederhana. Jauh dari kesan rumit. Ia percaya akan filosofi Yunani Kuno bahwa kesederhanaan adalah jalan pintas menuju keindahan.

Penduduk Jakarta seringkali menyebut Stasiun ini dengan kata BEOS. Akronim dari kata Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij [Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur]. Karena nama “Kota” punya konotasi negatif bagi sebagian orang.

Sementara orang Belanda zaman dahulu menyebutnya dengan "Het Indische Bouwen” atau “Gedung Hindia”.

Sejak keluarnya Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993, Stasiun Kota telah menjadi Cagar Budaya yang status keberadaannya dilindungi pemerintah.

Sejauh ini, sudah ada 13 peron yang dibangun untuk menopang tingginya tingkat pengguna. Tahun 2013 tercatat ada 580 KRL yang setiap harinya bolak-balik untuk mengangkut penumpang.

Meski sudah beberapa era, kesan lampau masih terus dijaga ditambah beberapa renovasi agar tidak ketinggalan jaman. rangka atap frame berbentuk kupu-kupu, pintu kayu bergaya lama, ubin berpola waffle, dan ventilasi jendela yang jadul. Rasanya, di stasiun ini waktu seolah lambat berlalu. [][teks @HaabibOnta/berbagai sumber | foto Wikipedia]