Di Sepuluh Tahun Karier Marcello Tahitoe
Celeb

Di Sepuluh Tahun Karier Marcello Tahitoe

by Pandu
Wed, 23-Mar-2016

Pertama kali muncul ke industri, Marcello Tahitoe pilih nama Ello untuk nama panggung. Debutnya dengan lagu "Pergi Untuk Kembali", berhasil meroket. Mengantar namanya sampai ke orbit industri musik. Album perdananya juga terjual 150.000 kopi, mendapatkan sertifikat platinum.

Memulai karier sejak 2005, dikontrak label sebesar Sony Music, Marcello telah menciptakan empat album. Di album teranyar, Jalur Alternatif, Marcello hadir dengan bentuk berbeda. Tidak lagi klimis dan memakai keyboard. Ia tampil maskulin dengan rambut gondrong, brewokan, jaket jeans, dan menggenggam gitar. Lebih garang dan rock n' roll.

Setelah menjalani karier sedekade, Marcello Tahitoe dapat kesempatan untuk jadi dirinya dari pihak label. Ia mengubah nama panggungnya dari Ello, menjadi Cello. Karena memang orang-orang terdekat dia semua memanggil Cello.

“Waktu gua pertama pakai nama Ello, temen-temen gua nggak ada yang kenal. Karena mereka memang taunya Cello. Tapi gua nggak peduli sih jika orang manggil Ello atau Cello, yang mana aja boleh,” terang Cello.

Cello dan pihak Sony Music mengakui bahwa mengubah image jauh lebih sulit daripada mengubah musik. Tidak seperti membalik tangan. Perlu melewati penyesuaian. Hal ini juga jadi alasan album keempat baru dirilis tahun 20016, meski materi sudah ada sejak 2010. Cello perlu tur dulu ke-15 kota pemekaran di Sumatera untuk memperkenalkan lagi dirinya. Sebagai Cello yang mencintai musik alternative tahun 90’an. Bukan Ello yang menyanyikan ‘syudud duuu’.

“Gue tetap bersyukur atas apa yang dulu gua dapat. Segala job, rezeki, juga karya. Tapi alangkah baiknya kalau kesininya gua lebih baik jadi diri sendiri,” akui Cello. Ia melanjutkan jika besar di tahun '90-an, wajar jika mencintai musik alternative, terutama Seattle Sound. “Dari dulu sebenarnya gue sudah begini, tapi cuma pada nggak tahu aja.”

Lelaki berdarah Maluku dan Batak ini mengaku tidak peduli apakah musiknya sesuai dengan trend pasar. Cello lebih mengurusi kualitas musiknya juga passion. Karena dulu ia cuma anak baru di industri, jadi nurut dengan apa yang dikatakan oleh label. “Gue sebenarnya lebih suka nge-band. Tapi kan dulu diminta solo terus bikin musik pop. Semua demi label, gue mengubah diri. Gue melakukan itu semua dengan hati dan bersyukur. Tapi sekarang gue lebih suka begini. Balik ke roots gue.”

“Gue bangga dan bahagia ketika musisi diapresiasi karena musiknya bukan karena penampilan luarnya,” tutup Cello. [][teks & foto @HaabibOnta]