Tanjung Luar, Kampung Orang Laut
Ekonomi

Tanjung Luar, Kampung Orang Laut

by Pohan
Mon, 22-Feb-2016

Pagi hari, sekitar pukul tujuh, Desa Tanjung Luar begitu ramai. Hiruk pikuk pasar mulai terasa. Wanita-wanita di Pasar Tanjung Luar bersiap berdagang sembari menunggu para nelayan yang kembali dari melaut. Aroma ikan segar mulai tercium begitu kuat dengan pancaran hangatnya matahari pagi.

Kegiatan dimulai. Pagi itu, kapal-kapal nelayan bersandar di dermaga, silih berganti merapat ke bibir dermaga. Pria-pria sibuk menurunkan ikan hasil tangkapannya. Para wanita menyambut mereka dan menunggu ikan-ikan segar diturunkan dari kapal, yang selanjutnya akan mereka jajakan di pasar.

Nama Pasar Tanjung Luar begitu termasyur sebagai penghasil ikan segar dan beragam biota laut terbesar di pulau yang indah ini. Pasar ini juga dikenal sebagai pemasok ikan terbesar di Lombok. Berbagai biota laut diperdagangkan di tempat ini, mulai dari udang, kepiting, kerang, tiram, cumi, tenggiri, gurita, baronang, tongkol, pari hingga hiu.

Tanjung Luar berasal dari kata “Tanjung” yang berarti daratan yang menjorok ke laut, dan kata “Luar” yang muncul karena banyaknya orang luar [Suku Bajo] yang tinggal di kawasan tersebut. Desa yang terletak di sebelah timur Pulau Lombok ini identik dengan nelayan dan kekayaan lautnya.

Desa ini dihuni kurang lebih 756 kepala keluarga, yang mayoritas Suku Bajo. Selebihnya adalah Suku Suku Sasak, Jawa Madura, Bugis dan Mandar.

Melaut merupakan pekerjaan yang dijalani hampir seluruh masyarakat Desa Tanjung Luar. Lebih dari 90% masyarakat Desa Tanjung Luar manggantungkan hidupnya dari laut. Bagi mereka, laut ibarat lahan subur. Semua roda perekonomian di desa ini bergantung dari laut.

“Di sini, semua laki-lakinya ke laut, ya jadi nelayan semua,” tutur Eni, salah satu pedagang makanan di desa Tanjung Luar.

“Di sini tidak ada yang kerja lain selain nelayan, ada juga yang menjadi PNS tapi sedikit. Kalau tidak salah, ada 4 orang,” tambahnya.


Para wanita bersiap dengan ember kosong mambawa ikan ke TPI [Tempat Pelangan Ikan] Tanjung Luar. Tidak jarang ikan sudah habis terjual sebelum sampai ke tempat pelelangan ikan. Suasana tempat pelelangan ikan ramai padat setiap pagi. Banyak warga tumpah ruah di tempat ini. Terletak di jantung Desa Tanjung Luar, TPA ini menjadi pusat aktivitas pagi hari desa Tanjung Luar. Jalan berlubang dengan ganangan air, bau amis menjadi hal biasa i  di tempat pelelangan ikan.

Dari sebuah bangunan kumuh berbentuk segi empat, tercium babauan amis begitu menyengat,  lantas terlihat sebuah pemandang yang mencengangkan: ada hiu, sang  predator laut yang terkenal ganas itu terbaring tidak berdaya. Hiu berukuran dua hingga tiga meter bisa kita saksikan di sini. Tempat pelangan ikan Tanjung Luar memang dikenal memperjualbelikan hiu dengan bebas meskipun nelayan di sini mengerti bahwa hiu termasuk  hewan dilindungi dan dilarang untuk diburu.

Datang dari berbagai penjuru Pulau Lombok, para pengepul berbondong bondong datang untuk mendapatkan ikan segar setiap paginya. “Ikan di sini tidak hanya dijual di Lombok saja, tetapi juga sampai ke Sumbawa dan Pulau Jawa. Itu truk-truk besar nanti ngangkut ikannya sampai ke Jawa,” ujar Daeng Acok salah satu nelayan Desa Tanjung Luar.

Peminat ikan dari Tanjung Luar tidak hanya dari Indonesia. Tempat pelelangan ikan ini berhasil memikat pengekspor untuk datang ke sini.

Daeng Acok menuturkan, hiu yang besar-besar itu dibawa sampai ke luar negeri, dibawa ke Bali, Surabaya dulu nanti, setelah itu baru dikirim lagi ke luar negeri, misalnya ke China dan Hong Kong.

“Memang hiu itu dilindungi, tetapi karena permintaan banyak, ya nelayan nangkap hiu. Nelayan di sini juga kan butuh uang. Kalau untuk pasar lokal, biasanya yang paling laris tongkol,” tandas Daeng Acok.

Pasar Tanjung Luar tergolong beroperasi singkat.  Menjelang siang, tempat pelelangan ikan terlihat longgar. Kegiatan di sana berangsur angsur menurun. Saat waktu menunjukkan pukul 10 pagi, pasar Tanjung Luar semakin terlihat sepi. Siang hari tempat pelelangan ikan kembali kosong, tak terlihat kesibukan. Para wanita kembali ke rumah untuk menunaikan kewajibannya sebagai ibu, atau sebagai seorang istri. Sedangkan para pria masih sibuk membereskan jaring di kapal mereka.

Penangkapan Ikan

Bermodal kapal kayu tradisional dan perlengkapan penangkapan ikan tradisional nelayan Desa Tanjung Luar berlayar hingga laut lepas, Samudera Hindia hingga perairan Australia.

“Biasanya yang nangkep hiu kejar-kejaran sampe Australia," kata Husni.

Ayah satu anak ini juga mengungkapkan bahwa proses penangkapan ikan oleh nelayan Tanjung Luar masih menggunakan cara yang tradisional dan sederhana. Bagusnya, Mereka tak menggunakan bom yang bisa merusak biota-biota laut.

“Nelayan di sini nangkap ikannya masih tradisional, tidak ada yang merusak laut,” imbuh Husni.

Nelayan Desa Tanjung Luar menangkap ikan masih  menggunakan pancing atau  pukat tradisional. Walaupun cara ini tergolong lebih menguntungkan, ternyata menangkap ikan dengan cara memancing pun masih dilakukan masyarakat di sini. Mereka meyakini bahwa memancing termasuk cara paling aman.

Masyarakat  Desa Tanjung Luar memang tidak bisa dipisahkan dari laut. Meskipun mereka tinggal di darat, ketergantungannya akan laut sangatlah tinggi. Bagi masyarakat Tanjung Luar, laut ibarat ladang subur mereka untuk digarap. Nelayan Tanjung Luar menyadari  bahwa mereka harus menjaga lahan agar tetap subur. Selain laut sebagai penopang hidup mereka, para nelayan juga sangat memelihara ekosistem laut sebagai sumber panghasilan. [][teks & foto Ryza Wijayanda Nugraha]