Letjen Jamin Gintings, Pahlawan Nasional yang Lolos dari Gestapu
Fakta & Trivia

Letjen Jamin Gintings, Pahlawan Nasional yang Lolos dari Gestapu

by Intern
Wed, 27-Sep-2017

Sudah merdeka kita nake!!! Merdeka!

Begitu sedikit adegan Letnan Jenderal Jamin Gintings, pahlawan nasional dalam film Tiga Nafas Likas.

Letjen Jamin Ginting Suka atau Gintings, lahir di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, 12 Januari 1921. Tokoh militer ini bergabung dalam organisasi ketentaraan Jepang yaitu Pembela Tanah Air [PETA] setelah menamatkan pendidikan sekolah menengahnya, yang nantinya akan memperkuat Jepang mempertahankan wilayah di Asia. Di organisasi ini juga, Jamin, panggilan jenderal bintang tiga ini menjadi komandan dalam bidang kemiliteran.

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, Jamin segera membentuk satuan tentara di Sumatera Utara [cikal bakal Kodam I Bukit Barisan], dengan meminta teman-temannya sesama anggota PETA waktu itu, untuk bergabung. Dari kesatuan yang dibentuk ini pula muncul tokoh-tokoh militer lainnya seperti, Kapten Bangsi Sembiring, Kapten Selamat Ginting, Kapten Mumah Purba, Mayor Rim Rim Ginting, Kapten Selamet Ketaren.

Kodam I Bukit Barisan yang dipimpin Kolonel Maludin Sibolon pada waktu itu, memberontak kepada Pemerintah Pusat, menuntut keadilan dari Pemerintah Pusat melalui kekuatan bersenjata. Jamin Gintings, yang waktu itu menjadi Wakil Komandan, tidak sejalan dengan atasannya. Jamin sangat loyalis dengan Pemerintah Republik Indonesia untuk membela negara, dan profesionalitasnya yang tinggi sebagai seorang prajurit sesuai Sapta Marga. Oleh karena itu, pemerintah pusat segera mengangkat Jamin Gintings menjadi orang nomor satu di Kodam I Bukit Barisan itu, untuk menggantikan Kolonel Maludin Simbolon. Selain itu, Jamin Gintings juga pernah menumpas gerakan separatis yang dilancarkan Pasukan Nainggolan dan Sinta Pohan dengan melancarkan “Operasi Bukit Barisan”.

Letnan Jenderal Ahmad Yani, sebagai Menpangad [sekarang KASAD], pada akhirnya memilih Jamin Gintings sebagai Asisten II Bagian Operasi Dan Latihan, dengan pangkat Mayor Jenderal, karena terbukti loyalis serta Pancasilais-Nasionalis dan anti komunis.

Pada tanggal 29, 30 September, dan 1 Oktober 1965, Mayjen Jamin Gintings mendapatkan tugas mendadak dari Menpangad Letjen Ahmad Yani, untuk mengawal Wakil Perdana Menteri Soebandrio yang berkunjung ke Sumatera Utara. Putra Tanah Karo ini dipilih karena mengetahui dan mengenal territorial Sumatera Utara, dan pernah bertugas sebagai Komandan [sekarang Pangdam] Kodam I Bukit Barisan. Ternyata penugasan ini menyelamatkan hidup jenderal berbintang dua ini, lantaran 1 Oktober dinihari, setengah dari PATI [Perwira Tinggi] Angkatan Darat diculik dan dibunuh oleh Pasukan Cakrabirawa dan gerombolan simpatisan PKI lainnya yang dikenal dengan Gerakan September 30 [Gestapu] atau Gerakan 1 Oktober [Gestok]. Menpangad Letjen Ahmad Yani dan beberapa asistennya dalam Angkatan Darat gugur sebagai bunga bangsa dalam mempertahankan Ideologi Pancasila.

Sepulang dari Sumatera Utara, Mayjen Jamin Gintings dikawal dengan menggunakan panzer, menuju kediamannya di Jl. Sisingamangaraja, Jakarta Selatan, untuk menemui istri dan anak-anaknya. Setelah itu, berangkat lagi menuju Mabes AD dan diberi perlindungan khusus di Mabes Kostrad di bawah kendali Mayjen Soeharto.

Pasca gestapu, suami Likas Tarigan ini menjabat sebagai Inspektur Jenderal Angkatan Darat [Irjenad]. Setelah itu ditugaskaryakan menjadi anggota DPR Komisi II sekaligus Ketua Diskusi Luar Negeri, dengan pangkat Letnan Jenderal. Pada 22 Maret 1972, Presiden Soeharto melantik Letjen Jamin Gintings menjadi Duta Besar Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kanada. Di negara ini jugalah “Pejuang Karo” ini wafat di usianya yang ke-53 tahun.

Untuk mengenang perjuangan Letnan Jenderal Jamin Gintings, pada tanggal 7 September 2013, telah  diresmikan Museum Mahaputra Utama Letjen Jamin Gintings. Museum itu menyimpan semua barang peninggalan Almarhum Letjen Jamin Gintings. Selain itu, pada 7 November 2014, Presiden Joko Widodo mengangkat Putra Karo ini sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 64/TK/Tahun 2014 tanggal 11 Agustus 2014 dan Nomor 115/TK/Tahun 2014 tanggal 6 November 2014. [][teks @apra_manuela/dari beberapa sumber I foto kolektorsejarah.wordpress.com]