}
Menggenjot Swasembada Pangan
Fakta

Menggenjot Swasembada Pangan

by Yogira
Fri, 16-Oct-2015

Makanan pokok orang Indonesia adalah beras. Tapi ironisnya, negeri yang katanya subur makmur ini malah masuk daftar pengimpor beras.

Pasca era reformasi, sekitar tahun 1998-2003, Indonesia dan Filipina secara bergantian menjadi negara pengimpor beras terbesar. Padahal, selain dikenal sebagai negeri maritim, Indonesia pun layak disebut negeri agraris.

Dikutip dari blog ganjarpamungkass.wordpress.com, ada beberapa faktor masalah sekaitan dengan beras di Indonesia, di antaranya:


Politik Beras pada Masa Lalu

Zaman dulu beras dikampanyekan sebagai pangan primadona, yang bisa jadi indikator kesejahteran rakyat. Akibatnya, masyarakat selalu bergantung pada beras sebagai makanan pokok utama. Sebaliknya, bahan pangan lainnya kurang mendapatkan perhatian, misalnya: singkong, jagung, dan ubi-ubian.  

Tingginya Tingkat Konsumsi Beras

Orang Indonesia adalah konsumen beras terbesar di dunia. Per tahunnya mencapai 139 kg per kapita. Kondisi ini tidak sejalan dengan ketersediaan lahan sawah yang ideal. Akibatnya, Indonesia pun seringkali mengimpor besar.

Rendahnya Penggunaan Teknologi Pasca Panen

Teknologi pasca panen yang belum maksimal mengakibatkan tingginya tingkat kehilangan produksi beras saat panen.

Ketiga faktor tersebut sekadar contoh. Ada beberapa kendala lagi yang membuat ketersediaan beras selalu menuai masalah. Belum lagi faktor cuaca dan musim, yang seringkali jadi penyebab gagal panen.

Guna mengatasi masalah itu, sebenarnya ada beberapa langkah yang bisa menggenjot swasembada pangan. Di antaranya adalah:


Percetakan Areal Persawahan Baru

Cara ini bisa menghasilkan surplus 10 juta ton beras, setidaknya dengan ketersediaan lahan sawah sekitar 1 juta hektar.

Diversifikasi Pangan

Cara ini bisa lewat promosi dan kampanye secara intensif dan efektif bahwa pangan tidak cuma beras. Singkong, umbi-umbian, jagung, dan sagu pun bisa jadi pengganti makanan pokok sehari-hari.

Pemanfaatan Lahan dan Sistem Irigasi Secara Efektif

Mengalihfungsikan lahan kurang produktif jadi pesawahan adalah cara lainnya agar produktivitas padi meningkat. Ini bisa terlaksana apabila sistem irigasi bisa dijalankan secara efektif dengan teknologi memadai dan ramah lingkungan.

Namun langkah-langkah tersebut akan jadi isapan jempol semata kalau pemerintah dan masyarakat terkait, terutama penggarap sawah [petani, penguasaha] belum bisa bekerjasama secara maksimal.

Jadi, ini sebuah tantangan untuk kita semua bahwa Indonesia sebagai negeri yang berswasembada pangan bisa teralisasi. Faktanya, Indonesia pernah mencapai swasembada beras pada tahun 1994, 2004, dan 2008. Seandainya setiap tahun berhasil seperti itu, niscaya swasembada pangan tidak lagi semata angan dan harapan. [][teks @firza/ganjarpamungkass.wordpress.com, berbagai sumber | foto ilustrasi adventurousalfred.wordpress.com, agenda.weforum.org]