}
Fakta Salah Tentang Bunuh Diri
Fakta

Fakta Salah Tentang Bunuh Diri

by Pohan
Tue, 07-Apr-2015

Menurut laporan U.S. Department of Health and Human Services, setidaknya 90 persen dari kasus bunuh diri adalah penderita satu atau lebih gangguan mental seperti depresi, gangguan bipolar, schizophrenia, atau alkoholisme.

Kasus bunuh diri terus berkembang dan menjadi masalah serius di kalangan remaja. Hal ini disebabkan banyak faktor termasuk permasalahan harga diri, keraguan akan sesuatu, juga perasaan terasing. 

Berikut fakta salah tentang bunuh diri supaya kita bisa membantu untuk mencegahnya:

1. Orang yang mengancam ingin bunuh diri, tidak akan melakukannya.
Hampir semua orang yang melakukan atau mencoba bunuh diri memberikan 'sinyal’ misalnya lewat pernyataan, "Lo bakal nyesel kalau gue mati!" Jangan pernah mengabaikan ancaman itu tak peduli seberapa santai/sekadar bercanda.

2. Siapa pun yang mencoba bunuh diri hanya orang gila.
Kebanyakan orang yang bunuh diri tidak menderita psikotik atau gila. Perlu diketahui bahwa orang yang sedang emosional [marah, berduka, depresi, putus asa], mereka belum tentu mengalami penyakit mental.

3. Tidak ada yang bisa menghentikan orang yang bertekad bunuh diri.
Orang yang putus asa, akan bimbang antara ingin hidup dan ingin mati. Mereka sebenarnya tidak ingin mati; melainkan hanya ingin rasa sakitnya berhenti. Ketika seseorang memberi dukungan itu semua tidak berlangsung selamanya.

4. Orang yang bunuh diri adalah orang yang tidak mau mencari bantuan.
Sebuah studi tentang korban bunuh diri telah menunjukkan bahwa lebih dari setengah telah meminta bantuan medis dalam enam bulan sebelum kematian mereka.

5. Berbicara tentang bunuh diri dapat memberikan seseorang ide.
Selama ini orang menganggap apabila kita berbicara tentang bunuh diri akan memberikan ide bagi orang yang putus asa untuk melakukannya. Namun ternyata hal itu membuat seseorang tidak jadi melakukan bunuh diri. [][teks @pohanpow/helpguide.org | foto digitaljournal.com, thinkprogress.org]