}
Pemberontakan PETA 14 Februari 1945
Fakta

Pemberontakan PETA 14 Februari 1945

by Dedi
Sat, 13-Feb-2016

Bertepatan dengan hari kasih sayang, 14 Februari adalah hari yang bersejarah bagi Bangsa Indonesia dengan adanya sebuah peristiwa heroik di kota Blitar.

Hari itu dikenang sebagai peristiwa Pemberontakan Pasukan Pembela Tanah Air [PETA] terhadap kekuasaan pemerintah pendudukan Tentara Jepang di Indonesia.

PETA direkrut dari para pemuda Indonesia untuk dijadikan sebagai tentara teritorial guna mempertahankan Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera dari pasukan Sekutu.


Shodancho Supriyadi, Shodancho Muradi, dan rekan-rekannya adalah lulusan angkatan pertama pendidikan komandan peleton PETA di Bogor. Namun nurani para komandan muda itu tersentuh melihat penderitaan rakyat Indonesia ketika mereka kembali ke daerah asalnya untuk bertugas di bawah Daidan [Batalyon] Blitar.  

Dan pada September 1944, Supriyadi dan rekan-rekannya merencanakan pemberontakan yang merupakan revolusi menuju kemerdekaan bangsa Indonesia. Tanggal 14 Februari 1945 dipilih sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan pemberontakan, karena adanya pertemuan besar seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar . Diharapkan nantinya anggota PETA lainnya akan ikut bergabung dalam aksi perlawanan untuk menguasai Kota Blitar dan mengobarkan semangat pemberontakan di daerah-daerah lain.


Tetapi tiba-tiba pertemuan besar seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar dibatalkan dan Kempetai [polisi rahasia Jepang] ternyata sudah mencium rencana Supriyadi. Tanggal 13 Februari malam hari, Supriyadi memutuskan pemberontakan tetap harus dilaksanakan. Siap atau tidak siap, inilah saatnya tentara PETA membalas perlakuan tentara Jepang. Walaupun tahu mereka akan kalah, Supriyadi berharap bahwa pengorbanan dirinya dan rekan-rekannya para akan mengobarkan semangat perjuangan bangsa Indonesia.  

Tanggal 14 Februari 1945 pukul 03.00 WIB, pasukan menembakkan mortir ke Hotel Sakura yang menjadi kediaman para perwira militer Kekaisaran Jepang. Markas Kempetai juga ditembaki senapan mesin. Tetapi ternyata kedua bangunan tersebut sudah dikosongkan, karena pihak Jepang telah mencium rencana mereka.

Sebanyak 78 orang perwira dan prajurit PETA dari Blitar akhirnya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara untuk kemudian diadili di Jakarta. 6 orang divonis hukuman mati di Ancol pada 16 Mei 1945, 6 orang dipenjara seumur hidup, dan sisanya dihukum sesuai dengan tingkat kesalahan.

Akan tetapi, nasib Supriyadi tidak diketahui. Shodancho Supriyadi menghilang secara misterius tanpa ada seorang pun yang mengetahui kabarnya.