}
Kilas Pintas Konferensi Asia Afrika
Fakta

Kilas Pintas Konferensi Asia Afrika

by Yogira
Thu, 16-Apr-2015

April ini Bandung kembali menjadi magnet perhatian negara kawasan Asia dan Afrika. Ya, Kota Kembang  akan menggelar lagi Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika [KAA], pada 24 April 2015. Tapi sebelumnya, Jakarta ambil bagian sebagai tuan rumah pada 19-23 April ini.

Kementrian Luar Negeri RI memastikan 72 negara dan 109 pemimpin negara serta perwakilan 25 organisasi akan hadir. Mereka akan mengikuti agenda KAA, yakni "Asia-Africa Business Summit" dan "Asia-Africa Carnival". Tujuan utama konferensi ini adalah peningkatan kerjasama antar negara di kawasan Selatan di bidang kesejahteraan dan kedamaian.

Tahun ini jadi momen sejarah KAA yang ketiga kalinya. Sebelumnya, KAA digelar pertama kalinya di Gedung Merdeka, Bandung, 18-24 April 1955. Lantas yang kedua di  gedung yang sama pada 19-24 April 2005.

Mengapa Indonesia selalu menjadi tuan rumah KAA? 

Maklum, beberapa founding father negeri tercinta inilah penggagas sekaligus pelopor KAA. Pada  23 Agustus 1953, Perdana Menteri Indonesia pada era Soekarno, yakni Ali Sastromidjojo mengusulkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Sementara agar Indonesia mengadakan kerjasama antara negara di Asia dan Afrika, yang rata-rata memang baru merdeka.

Bak gayung bersambut, usul Ali mendapat respons baik. Maka, pada 25 April-2 Mei 1954, Ali bersama timnya terbang ke Sri Lanka untuk membahas rencana KAA dalam acara yang dinamakan Persidangan Kolombo. Hadir saat itu, para pemimpin dari India, Pakistan, Burma [sekarang Myanmar], dan Indonesia. Pada 28-29 Desember 1954, dalam acara yang disebut Persidangan Bogor, gagasan KAA dimatangkan dan dirumuskan lebih rinci, mengenai tujuannya serta calon pesertanya.

Alhasil, dua persidangan tersebut membuahkan agenda: KAA akan digelar di Bandung pada 18-24 April 1955 oleh Presiden Soekarno dan ketuanya adalah Ali Sastroamidjojo.  

Sebanyak 29 delegasi negara di Asia-Afrika bertukar pikiran dalam acara ini, terutama mengenai kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan menolak kolonialisme atau neokolonialisme, yang saat itu muncul dari Amerika Serikat dan Uni Soviet. Bahkan dua negara adidaya ini telah menciptakan ‘perang dingin' dengan konsep Blok Barat dan Blok Timur. Selain itu, masih ada beberapa negara lain yang masih menerapkan konsep imperialisme, terutama pada negara-negara dunia ketiga.  

Munculnya masalah itu  memicu peserta KAA membuat kesepakatan bersama untuk kedamaian dan kesejahteraan negara di Asia-Afrika yang tertuang dalam “Dasa Sila Bandung” dengan mengacu pada prinsip Piagam Perdamaian PBB dan prinsip Nehru. KAA yang pertama ini akhirnya menghasilkan Gerakan Non-Blok pada tahun 1961, sebuah gerakan yang bertujuan untuk menolak dan tak memihak Blok Barat dan Blok Timur. [][teks @yofirza/berbagai sumber | foto courtesy of aacc2015.id