}
Sejarah Sepanjang Rel Bogor-Kota
Fakta

Sejarah Sepanjang Rel Bogor-Kota

by Pandu
Thu, 23-Apr-2015

Satu petuah dari Bung Karno yang selalu diingat, tapi jarang sekali digubris. JAS MERAH, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.

Setiap hari ada ratusan ribu orang yang melintas dari Bogor - Kota pp. Tapi mungkin belum banyak yang  tahu arti di balik kota Depok atau sejarah kawasan Mangga Besar? Kami mengumpulkan sejarah sepanjang rel yang membentang mulai dari Bogor hingga Kota. Simak yaa.. 

Bogor
Pada abad ke-17, Letnan Tanujiwa dan VOC melakukan ekspedisi ke bekas ibukota kerajaan. Tapi tidak ada yang tersisa. Kemudian mereka membabat hutan Padjajaran untuk dijadikan perkampungan dan menyebutnya Buitenzorg. Inilah cikal bakal kota Bogor.

Cilebut
Pemekaran Kecamatan Sukaraja pada tahun 1981 menciptakan dua wilayah baru. Cilebut Barat dan Cilebut Timur. Sementara Stasiun Cilebut ada di bagian Timur.

Bojong Gede
Tahun 1982, Bojong Gede yang sebelumnya hanyalah desa, diangkat menjadi kecamatan karena kemajuannya dianggap paling pesat di Bogor.

Citayam
Sejak era kolonial, Citayam merupakan daerah penghasil karet yang tersohor. Rel dan stasiun kereta pun dibangun agar pasokan karet ke Tapos lebih mudah.

Depok
Tahun 1696, pejabat tinggi VOC, Cornelis Chastelein mendirikan Sekolah Kristiani De Eerste Protestante Organisatie van Christenen yang disingkat DEPOK. Dari situlah nama kota ini berasal.

Depok Baru
Seiring perkembangan zaman, Depok mulai dilirik sebagai kawasan pemukiman. Bahkan ada singkatan baru untuk Kota Depok. Depok: Daerah Elit Pemukiman Orang Kota.

Pondok Cina
Dulu bernama Kampung Bojong karena banyak etnis Tionghoa yang bikin pondokan di sini. Namanya pun berubah menjadi Pondok Cina.

Universitas Indonesia
Mulanya, Universitas Indonesia berada di Salemba dan Rawamangun. Barulah pada tahun 1980-an kampus baru dibangun di Depok untuk memodernisasi fasilitas perkuliahan juga kegiatan mahasiswa.

Universitas Pancasila
Berada di perbatasan antara Jakarta dan Depok. Agar mudah disebut, kampus ini dikenal juga dengan nama UP. Kampus ini berdiri sejak tahun 1966, setahun setelah kejadian G30S/PKI.

Lenteng Agung
Menurut sejarawan Betawi Alwi Shahab, nama daerah Lenteng Agung berasal dari klenteng yang diagungkan oleh etnis Tionghoa yang tinggal berdekatan dengan daerah tersebut, yaitu Pondok Cina.

Tanjung Barat
Tahun 1933, tempat ini pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan kecil bernama Tanjung Jaya. Pendirinya adalah Prabu Wangsatunggal. Ia merebut wilayah ini dari Kerajaan Tarumanegara.

Pasar Minggu
Dulu, pasar ini bernama Tanjung Oost Passer. Sebelum tahun 1980-an, Pasar Minggu adalah sentra pasar buah di Jakarta. Akibat transmigrasi ke ibukota, lahan kebun buah berkurang. PasMing pun cuma jadi pasar biasa.

Pasar Minggu Baru
Stasiun ini dibangun agar bisa mengurangi bertumpuknya penumpang di Stasiun Pasar Minggu. Letaknya persis di perbatasan Kecamatan Pancoran dan Pasar Minggu.

Duren Kalibata

Nama Kalibata punya sejarah lain. Konon, nama itu muncul karena sungai di kawasan itu kerap dilalui rakit pembawa batu bata dari Bogor menuju Jakarta.

Cawang
Daerah ini dulunya wilayah kekuasaan seorang letnan Melayu yang mengabdi pada kompeni, bernama Ence' Awang. Lama kelamaan sebutan Ce' Awang berubah menjadi Cawang.

Tebet
Menurut Rachmat Ruchiyat, penulis buku Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta, Tebet berasal dari bahasa Sunda kuno 'Tebat' atau 'Tebet', berarti rawa. "Pada 1940-an, memang [Tebet] masih berbentuk rawa, belum menjadi permukiman,” tulis Rachmat.

Manggarai
Nama kawasan diberikan oleh kelompok penghuni awal, yaitu orang – orang Flores Barat [Murray 1961:38]. Mereka menamai tempat pemukimannya yang baru, Manggarai, sebagai pengikat kenangan pada kampung halaman yang mereka tinggalkan.

Cikini
Termasuk kawasan kota lama, sepanjang Cikini Raya membentang gedung-gedung tua. Sejak zaman kolonial, Cikini dikenal sebagai pusat perbelanjaan. Tanah di kawasan ini dulunya milik seniman termahsyur Raden Saleh.

Gondangdia
Ada dua versi sejarah tentang Gondangdia. Pertama, nama pengembang yang ditunjuk Belanda untuk membangun kawasan Menteng, yaitu NV Gondangdia. Kedua, berasal dari nama kakek yang terkenal dan disegani di kampung tersebut, namanya Kyai Kondang.

Juanda
Pada era kolonial, tempat ini bernama Jalan Noordwijk. Kawasan pemukiman orang elit. Bahkan Raffles sampai menghancurkan toko-toko dan gedung Tionghoa untuk membangunnya.

Sawah Besar
Zaenuddin HM, dalam buku karyanya berjudul 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe, disebutkan bahwa  wilayah ini ada pohon sawo yang besar. Seiring zaman, kata sawo terpeleset menjadi sawah.

Mangga Besar
Sejak zaman kolonial, tempat ini telah menjadi kawasan hiburan malam bagi siapapun, mulai Pejabat VOC hingga rakyat jelata. Sampai sekarang pun tidak berubah. Diskotik, hotel, dan spa masih lestari di kawasan ini.

Jayakarta

Dinamai sama dengan penguasa pelabuhan Batavia, Pangeran Jayakarta. Kekuasaanya berhasil direbut oleh VOC pada tahun 1619. Tapi asal-usulnya masih tersamarkan, tidak jelas.

Stasiun Kota
Pemerintahan kolonial menyebut stasiun ini Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij [BEOS]. Dibangun tahun 1876, tapi stasiun ini baru mulai beroperasi sejak 1929. [][teks @HaabibOnta/berbagai sumber | foto wikipedia]