}
Waspada Anak Kecanduan Game Online
Fakta

Waspada Anak Kecanduan Game Online

by Pohan
Thu, 30-Apr-2015

Orang memanfaatkan gawai untuk mendapatkan hiburan dan informasi. Tapi kini anak-anak doyan menggunakan gawai sekadar untuk main game online.

Pakar pendidikan lulusan Universitas Harvard dan Yale dari Amerika, Marc Prensky mengatakan bahwa anak-anak berusia 14 tahun ke bawah sebagai digital natives alias 'penduduk asli' yang menghuni dunia digital ini.

Komputer PC, tablet, PlayStation, sampai jenis smartphone lainnya yang dimiliki orangtua, pasti sudah tamat diutak-atik oleh si pra-remaja [10-12 tahun]. Mereka memakainya untuk main game yang tersedia online, baik dari unduhan gratis maupun berbayar.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics, main game bisa mengganggu proses tumbuh kembang anak apabila terlalu sering, di antaranya:


» Masalah Sosialisasi
Anak yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain dengan mesin [bukan manusia] bisa merasa canggung dan kurang nyaman saat datang kesempatan bergaul dengan temannya.

» Masalah Komunikasi
Anak yang kurang sosialisasi akan kesulitan berkomunikasi. Kegiatan berkomunikasi yang dimaksud bukan sebatas bicara dan mendengar kalimat yang terucap, namun juga membaca ekspresi lawan bicara.

» Mengikis Empati
Efek samping anak yang menyukai jenis game seperti peperangan, martial art, dan sejenisnya bisa terganggu mentalnya karena terpicunya agresivitas si anak dan terkikisnya empati terhadap orang lain.

» Gangguan Motorik
Anak yang menghabiskan waktu berjam-jam memegang gadget, tubuhnya kurang aktif bergerak secara menyeluruh. Risikonya, mereka bisa terserang obesitas dan pertumbuhan tinggi badannya tidak maksimal.

» Gangguan Kesehatan
Menatap layar gadget saat main game secara konstan dalam waktu lama bisa memicu serangan rasa sakit seperti sakit kepala, nyeri leher, gangguan tidur, dan gangguan penglihatan. [][teks @pohanpow/ parenting.co.id | foto dok. blog.kaspersky.com, incgamers.com]