}
Teknik Pelayaran Maritim Nusantara Mula-Mula
Fakta

Teknik Pelayaran Maritim Nusantara Mula-Mula

by Intern 2
Fri, 24-Nov-2017

Kedatuan Sriwijaya sudah terkenal sebagai kerajaan maritim terbesar pada zamannya. Gelar tersebut tidak terlepas dari masyarakatnya yang mengerti mengenai tenik perkapalan dan pelayaran. 

Dari sisa-sisa reruntuhan kapal yang tenggelam di perairan Nusantara, para peneliti dapat mengidentifikasi dan menyimpulkan cara masyarakat dahulu mengerti teknologi perkapalan. Teknologi yang ditemukan antara lain teknik ikat, teknik pasak kayu atau pasak bambu, teknik gabungan ikat dan pasak kayu atau bambu, dan perpaduan teknik pasak kayu dan paku besi. Selama masa itu, ada dua jenis kapal berdasarkan wilayah yang diteliti. Yaitu kapal tradisi Asia Tenggara, dan Daratan China.

Haluan kapal Punjulharjo, diperkirakan ada di abad ke-7, zaman Mataram Hindu

Tradisi Asia Tenggara, mempunyai ciri lambung berbentuk huruf 'V', sehinggabentuk buritan dan haluan simetris. Selain itu, proses pembuatannya tidak menggunakan paku besi, melainkan menggunakan pasak kayu atau pasak bambu. Cara menyambung papan juga hanya menggunakan tali ijuk. Pembangunan teknik ini disebut dengan teknik papan ikat dan kupingan pengikat.

Cara penyambungan papan dasar kapal

Setelah bentuk dasar selesai, perahu diberi cadik di sebelah kiri dan kanan kapal. Cadik merupakan penyeimbang perahu, yang biasanya terbuat dari batangan pohon.

Kapal ini juga memiliki kemudi ganda di bagian kiri dan kanan buritan. Contoh bukti kapal khas Asia Tenggara adalah rangka kapal Punjulharjo, yang memiliki panjang 15 meter dan lebar 5 meter. Para peneliti memperkirakan kapal sebesar ini digunakan untuk perdagangan, baik jarak dekat maupun jarak jauh, karena dapat menampung banyak komoditi.

Bekas kapal situs Samirejo

Selain itu, kapal tradisi China dengan bentuk dasar bulat. Badan perahu dipasang dengan sekat yang struktural, dan sambungan antarpapan disambung dengan paku besi. kemudi kapal khas China ini mempunyai kemudi sentra tunggal. Contoh perahu seperti ini adalah perahu pakur dari mandar. Perahu pakur memiliki layar berbentuk tanjaq, dan cadik seperti yang ada di relief Candi Borobudur. Layar awalnya terbuat dari daun sejenis lontar.

Contoh perahu perkiraan abad ke-6-12 masa Kerajaan Sriwijaya dahulu

Perahu jenis ini biasa digunakan dalam perdagangan rempah-rempah dari Ternate, Tidore, Makassar, hingga temasik atau yang dikenal dengan Singapaura saat ini. Karena itu, ada lagu 'nenek moyangku seorang pelaut' karena memang, nenek moyang kita dahulu sudah mahir bepergian dengan mengarungi lautan. [][teks @apra_manuela l foto @apra_manuela, jalurrempah.com]