}
Gunung Agung dan Kehidupan Religi Umat Bali
Fakta

Gunung Agung dan Kehidupan Religi Umat Bali

by Intern 2
Fri, 24-Nov-2017

Masyarakat Bali percaya, bahwa Gunung Agung merupakan tempat bersemayamnya para dewa. Sehingga meletusnya gunung tertinggi di Bali ini, merupakan pertanda bagi Masyarakat Bali bahwa dewa sedang marah.

Gunung Agung merupakan gunung tertinggi di Bali, yang puncaknya mencapai 3.031 mdpl. Di kaki gunung ini terdapat pura yang terkenal, yaitu Pura Besakih. JIka diamati, bentuk puncak gunung ini kerucut sempurna, namun sebenarnya bentuk ujung dari gunung tertinggi di Bali ini memanjang, dan terdapat kawah besar dan dalam. Sehingga beberapa waktu, gunung ini terlihat mengeluarkan asap dan uap air.

David J. Stuart Fox menulis disertasi Pura Besakih: A Study of Balinese Religion and Society pada 1987. Tulisannya ini sampai sekarang masih dipakai untuk mengulas kehidupan masyarakat dan spiritualitas masyarakat Bali yang berada disekitar Pura Besakih, termasuk ulasan Gunung Agung. Salah satu acuan tulisan dari David Fox ini adalah Babad Pasek yang ditulis ulang oleh I Ketut Sengod di Tahun 1987. Babad Pasek ini sebelumnya berasal dari lontar tua di Karangasem.

Gunung api di Pulau Jawa dengan Pulau Bali sebenarnya memiliki keterkaitan satu sama lain dalam Agama Hindu. Alkisah, dahulu Hyang Pasupati menempatkan empat gunung di tiap sisi Pulau Bali. Sebelah Utara ada Gunung Bratan, Selatan ada Gunung Andhakasa, Barat terdapat Gunung Watukaru, dan Timur ada Gunung Lempuyang. Namun keempat gunung itu tidak serta merta membuat Pulau Bali 'berdiam' di tempatnya. Oleh karena itu, Hyang Pasupati memotong puncak Gunung Mahameru, dan membawanya ke Bali, potongan gunung ini menjadi pasak untuk Pulau Bali dan dikenal sebagai Giri Tohlangkir, sebelum dikenal sebagai Gunung Agung. Karena inilah, mengapa Gunung yang sekarang sedang erupsi ini, begitu disucikan oleh masyarakat Bali, karena masih 'bersaudara' dengan Gunung Semeru, dan juga tempat bersemayamnya dewa-dewa.

Masyarakat Hindu Bali sedang bersembahyang. foto: netralnews.com

Umat Bali percaya, bahwa semakin tinggi suatu tempat, maka semakin sucilah lokasi tersebut. Mereka percaya bahwa puncak Gunung Agung adalah tempat bersemayamnya Sanghyang Widhi Wasa. Bagi Masyarakat Bali, Gunung itu memberi mereka kehidupan, seperti air untuk mengairi sawah, kebun dan kebutuhan makhluk hidup yang melimpah keluar dari gunung. Bagi pendaki yang ingin naik ke atas gunung, wajib menanggalkan 'keduniawian' yang melekat di tubuh. Maksudnya, setiap orang yang ingin naik tidak boleh memakai jam tangan, emas, serta uang. Selain itu, membawa daging sapi juga dilarang jika ingin naik ke Gunung Agung, karena bagi masyarakat Bali dan tentu juga Hindu, sapi adalah hewan yang dikeramatkan. Mereka meyakini, jika ingin mendekatkan diri kepada Tuhan, harus menyederhanakan dirinya terlebih dahulu. Masyarakat Bali juga percaya, jika menyucikan Gunung Agung, maka para dewa yang mendiami gunung tidak akan murka kepada manusia.

Namun ternyata, Gunung Agung tercatat beberapa kali 'batuk'. Terakhir, Gunung Agung erupsi pada tahun 1963, yang memakan korban jiwa ribuan orang. Penduduk sekitar percaya, letusan gunung itu karena dewa yang bermukim di puncak gunung murka, karena ketidakseimbangan alam dan juga kemurkaan atas tidak hormatnya manusia terhadap dewa.

Masyarakat akan mengadakan ritual untuk memohon kepada dewa agar jangan membuat gunung api aktif itu meletus, yang biasanya dipimpin oleh banyak sulinggih atau pendeta. Masyarakat berharap, dengan dilakukan ritual permohonan yang dipimpin pendeta yang menggunakan Bajra Sarana Genta, mampu memberikan suara kosmis sehingga dapat menyejukkan alam. Intinya, masyarakat akan meminta permohonan, jikalau gunung juga meletus, tidak akan menyebabkan banyak kerusakan di sekitar gunung.

Jika diulas secara sains, tiap gunung berapi berbeda dengan gunung api lainnya, karena memiliki karakter yang berbeda pula. Letusan Gunung Agung yang terjadi Selasa kemarin merupakan letusan jenis freatik, terjadi akibat adanya uap air bertekanan tinggi. uap tersebut terjadi karena air hujan yang meresap ke dalam gunung, yang bertemu dengan magma dan akhirnya menyebabkan uap bertekanan tinggi. 

Begitulah, bahwa masyarakat Bali mempunyai spiritual yang tinggi dengan Gunung Agung, hampir tak seorang pun tidak memanjatkan doa kepada Gunung Agung, tempat bersemayamnya para dewa. [][teks @apra_manuela/berbagai sumber l foto netralnews.com, manusialembah.com]