}
Kartini, Harum Namanya
Fakta

Kartini, Harum Namanya

by Dewi
Sat, 21-Apr-2018

Karena sebait lagu, candaan ini jadi sering saya dengar. “Jadi namanya Kartini atau Harum?” Senyum aja ya Commuters, nggak usah diseriusin..

Wanita yang memperjuangkan emansipasi bagi kita, kaum wanita Indonesia ini, sudah membukakan pintu menuju banyak kesempatan. Bayangkan, jika saat itu Ibu Kartini nggak berhasil, belum tentu saat ini kamu sedang membaca tulisan saya. Belum tentu Susi Pudjiastuti jadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Belum tentu Najwa Shihab bisa se”garang” sekarang. Kondisi sulit itu di beberapa negara lain masih berlangsung, maka bersyukurlah kita..

Raden Adjeng Kartini adalah anak kelima dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara sekandung, beliau adalah putri tertua, yang berayahkan seorang patih, dan ibunya adalah putri seorang guru agama di Jepara. Jika ditelusuri, kakek moyangnya dari garis ayah, maka akan sampai pada Sri Sultan Hamengkubuwono VI, yaitu sultan keenam dari Kesultanan Yogyakarta.

Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, adalah salah satu bupati pertama yang memberikan pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Maka Ibu Kartini pun, hingga usia 12 tahun, diperbolehkan bersekolah di Europese Lagere School [sebuah sekolah dasar di zaman Hindia Belanda yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar]. Di sinilah Ibu Kartini belajar Bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Tradisi pingitan di masa itu memang berlaku bagi anak gadis yang dianggap sudah memasuki usia dewasa, di mana anak gadis harus lebih banyak belajar mengenai lingkungan rumah dan mempersiapkan diri untuk berkeluarga. Tidak lagi bisa menikmati kebebasan dan pendidikan.

Karena kemampuan Ibu Kartini berbahasa Belanda, beliau di rumah banyak membaca buku, koran, dan majalah Eropa, serta berkorespondensi dengan teman-temannya yang asal Belanda. Dari situlah Ibu Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Beruntung kemudian Ibu Kartini menikah dengan bupati Rembang, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang memahami keinginan beliau dan mendukungnya untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah Timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang. Namun pada 17 September 1904, beberapa hari setelah melahirkan puteranya, Ibu Kartini kembali kepada Sang Pencipta.

Tahun 1911, surat-surat Ibu Kartini diterbitkan. Conrad Theodore van Deventer, seorang ahli hukum Belanda, terkesan sekali dengan cita-cita dan pemikiran Ibu Kartini yang tertuang di situ. Sehingga tergerak untuk menulis sebuah resensi untuk menyebarluaskan cita-cita Ibu Kartini, yang cocok dengan cita-cita Deventer sendiri, yaitu mengangkat bangsa pribumi secara rohani dan ekonomis, serta memperjuangkan emansipasi mereka. Maka, didirikanlah Sekolah Kartini oleh Yayasan Kartini yang dibentuk oleh Keluarga Deventer. Dan salah satu sekolah tersebut yang ada di Semarang masih aktif hingga kini.

Commuters, jika kita menginginkan adanya perubahan, kita nggak bisa hanya bermimpi dan berharap itu terjadi. Semangat dan kegigihan Ibu Kartini bisa menjadi teladan kita.. [][teks @tantedow/berbagai sumber | image infobiografi.com & avoskinbeauty.com]