}
Mr Holmes, Ketika Detektif Jenius itu Pensiun
Film

Mr Holmes, Ketika Detektif Jenius itu Pensiun

by Yogira
Mon, 09-Nov-2015

Bagi penggemar cerita detektif, siapa sih nggak kenal Sherlock Holmes? Dia adalah tokoh fiktif ciptaan Sir Arthur Conan Doyle. Detektif cerdas dan legendaris asal Inggris ini populer dan mendunia. Karakter Holmes dikemas dalam berbagai karya, terutama buku, acara televisi, dan film layar lebar.

Dalam ranah film layar lebar, Robert Downey Jr. terbilang sukses memerankan Sherlock Holmes. Tokoh detektif ini pun kian populer di segala kalangan usia.

Lantas, bagaimana kalau akhirnya sosok detektif jenius itu harus menerima kenyataan hidup sebagai manusia yang renta?

Tontonlah film Mr. Holmes. Tapi jangan berharap Downey yang jadi pemerannya. Kali ini yang pantas menyandang peran Mr. Holmes adalah Ian McKellen. Dia aktor kahot asal Inggris, yang melakoni tokoh Gandalf dalam film The Lord of the Rings dan The Hobbit

Betul, Sherlock Holmes adalah tokoh fiktif. Fakta realitasnya tidak ada. Namun, film ini justru seperti menggambarkan bahwa sosok Holmes memang ada dalam kehidupan nyata. Dalam film ini, Holmes sudah pensiun sebagai detektif. Tubuhnya ringkih. Otaknya mulai pikun. Inilah sisi manusiawi alamiah dalam sosok detektif itu.

Holmes tinggal di kawasan pebukitan tak jauh dari pantai. Masa pensiunnya ditemani Mrs Munro [Laura Linney] dan Roger [Milo Parker]. Munro dan Roger adalah ibu-anak yang mengurus  Holmes, terutama kala sedang sakit.

Di rumahnya jauh dari keramaian, Holmes terus berupaya menulis kisahnya hidupnya sendiri dengan kondisi ingatan yang mulai lemah. Dia ingin mengungkap sisi hidupnya yang ‘gagal’ ketika harus memecahkan kasus Thomas Kelmot [Patrick Kennedy], yang mencurigai pengkhianatan istrinya, Ann Kelmot [Hattie Morahan]. Holmes juga merasa gagal membahagiakan temannya di Jepang Tamiki Umezaki [Hirekyuki Sanada]. Menghadapi dua masalah itu, Holmes merasa putus asa, sedih, murung, dan selalu dihantui rasa bersalah. Masih beruntung, dia masih punya Roger, yang dianggap paling cocok diajak teman diskusi.

Ada pesan berharga dalam film ini ketika Holmes ingin menuangkan segala unek-uneknya dalam karya tulis. Lantaran selalu berpegang pada fakta dan rasionalitas, Holmes sulit menulis kisahnya secara fiktif, seperti yang selalu dilakukan sahabatnya, Dr. John Watson ketika menulis Holmes yang digambarkan sebagai sosok sukses dan superjenius. Terinspirasi pada Watson, Holmes pun akhirnya menambahkan bumbu fiksi untuk kisah hidupnya. Jadi, pesan yang terkandung dalam film ini adalah: “kebohongan tidak selalu buruk kalau tujuannya untuk kebaikan”.

Anda ingin tahu lebih dalam kisah dalam film ini? Nantikan saja penayangannya di bioskop Cinemaxx di kota terdekat Anda. [][teks @firza  | foto nerdreactor.com, hitfix.com]