}
Ip Man 3: Gelar Terlantar Karena Cinta
Film

Ip Man 3: Gelar Terlantar Karena Cinta

by Yogira
Wed, 30-Dec-2015

Legenda kung fu, Ip Man alias Yip Man kembali menghibur penonton film. Dari beberapa versi yang sudah diangkat ke layar lebar dan televisi, Ip Man dengan  pemeran utama Donnie Yen adalah yang paling populer.

Sebelumnya, aktor ini berhasil membintangi Ip Man [2008], dan Ip Man 2 [2010]. Nah, pada akhir tahun ini, Donnie tetap dipercaya memerankan sang legenda itu, dalam film Ip Man 3.

Tentu saja, ada benang merah mulai Ip Man pertama hingga yang terbaru ini, terutama dari sisi kehidupan dirinya dalam berumah tangga dan bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya. Ip Man kian jadi tokoh populer di mata mereka karena budi pekerti dan sifat penolongnya. Namun justru dalam film ini, nilai-nilai kebaikan dalam dirinya menjadi pemantik konflik, baik dengan sekelompok begundal yang dipimpin Frank [Mike Tyson], maupun konflik kepentingan dengan istrinya, Cheung Wing-Sing [Lynn Hung].

Ip Man menghadapi masalah dilematis. Di sisi lain, dia harus menjaga sekolah anaknya, yang dipaksa agar dijual kepada Ma King-sang [Patrick Tam] atas suruhan Frank. Namun di sisi lain, perlindungan Ip Man terhadap sekolah itu membuat istrinya merasa tidak diperhatikan lagi. Malah, sebelumnya Ip Man tidak tahu bahwa istrinya ini mengidap penyakit kanker. 

Masalah itu belum tuntas, Ip Man harus berhadapan lagi dengan perkara baru. Dia ditantang  berduel oleh  Cheung Tin-chi [Jin Zhang], yang mengaku seperguruan dengan Ip Man. Sebelumnya, Cheung Tin-chi hanyalah penarik beca, yang anaknya satu sekolah dengan anak Ip Man. Namun karena tuntutan ekonomi, dia membuktikan dirinya sebagai ahli kung fu aliran Wing Chun. Baru setelah sukses mendirikan perguruan silat baru, dia menantang Ip Man untuk menentukan siapakah yang paling layak mendapatkan gelar grand master kung fu Wing Chun. Bagaimana Ip Man menghadapi 3 masalah utama ini?

Mike Tyson Bikin ‘Kagok’
Dari awal hingga akhir cerita, Ip Man 3 berhasil menyuguhkan plot yang terjaga dinamis. Sang sutradara, Wilson Yip terlihat tak terlalu bernapsu menggembar-gemborkan aksi kung fu para pemainnya. Wilson memberikan jeda-jeda dramatik pada scene-scene tertentu sehingga sisi action film ini nggak terasa bombastis.

Ada dua kejutan, yang membuat film ini jadi pembeda daripada dua film Ip Man sebelumnya, yakni tampilnya karakter Bruce Lee, yang sudah dewasa [Kwok-Kwan Chan] dan Mike Tyson. Akting Kwok sebagai Bruce Lee lumayan pas. Dia bisa menghidupkan gaya bicara dan gestur Bruce Lee alias Lee Xiao Lung tersebut. Sebaliknya, kehadiran Tyson dalam film ini justru membikin kagok karena aktingnya yang sangat buruk. Tyson seperti dipaksakan hadir dalam film ini. Adegan pertarungan antara Tyson dengan Donnie yen pun tidaklah istimewa. Seolah cuma bumbu yang kurang menyedapkan. Yang menarik malah adegan pertarungan Ip Man dengan petarung Thai Boxing, yang diperankan Sarut Khanwilai. Perkelahian keduanya di dalam elevator, lantas berlanjut di tangga darurat termasuk adegan-adegan menegangkan, artistik, dan juga bermuatan dramatik. Tentu saja, pertarungan duel pada akhir cerita antara Ip Man vs Cheung Tin-chi menjadi suguhan klimaks yang sayang kalau dilewatkan.

Anda yang hendak menonton film ini jangan berharap banyak Ip Man bertarung habis-habisan. Ada adegan-adegan dramatik, yang justru membuat Anda bisa merenungi betapa pentingnya cinta daripada apapun, termasuk gelar kehormatan.

“Tiada yang lebih penting dari apapun selain yang mendampingimu” demikian kata Ip Man pada penghujung cerita. Perkatannya itu bisa jadi pesan berharga bahwa cinta memiliki kekuatan tiada tara dalam setiap jiwa manusia. [][teks @firza | foto berbagai sumber]