}
Pantja Sila Cita-Cita & Realita: Pancasila dalam Sinema
Film

Pantja Sila Cita-Cita & Realita: Pancasila dalam Sinema

by Yogira
Wed, 10-Aug-2016

Di tengah maraknya film cerita [feature film], yang secara bergantian tayang di bioskop, film malah jadi seperti oase atas jarangnya film dokumenter sejarah yang diputar di bioskop.

Yup, Pantja Sila Cita-cita & Realita adalah film dokumenter produksi Jakarta Media Syndication & Geppetto Production. Sutradaranya, Tino Saroenggallo dan Tio Pakusadewo.

Dalam film ini memang ada aktor Tio Pakusadewo yang memerankan Presiden Soekarno sebagai pembaca pidato tentang landasan negara, Pancasila. Juga ada beberapa pemain yang wajahnya tidak jelas terlihat, tapi terdengar suaranya saja.

Namun, dalam kata pengantar buku berjudul sama dengan titel  filmnya, Tino  menyebutkan, film ini termasuk dokumenter sejarah karena tokoh utamanya sebenarnya isi pidato lahirnya Pancasila, bukan Soekarno. Tio yang memerankan Soekarno sekadar media untuk menyampaikan teks pidato jadi bahasa verbal. Demikian juga, Teuku Rifnu Wikana [sebagai Mohammad Yamin], Verdi Soelaiman [Liem Koen Hian], Jantra Suryaman [Ki Bagus Hadikoesoemo], Wicaksono Wisnu Legowo [Abikoesno Tjokrosoejoso]. Mereka para aktor yang tidak terlihat mimik wajahnya karena visualisasinya diburamkan. Yang terdengar jelas adalah suaranya. Jadi, kekuatan film ini pada dokumentasinya, yakni pidato Soekarno.

Dalam durasi 79 menit, Pantja Sila Cita-cita & Realita nyaris semuanya mempresentasikan orasi Soekarno. Teks-teks pidato Soekarno [yang tersedia dalam buku hasil garapan Tino] mengalir jadi orasi verbal dari mulut Tio. Salut untuk Tio atas kerja kerasnya menghapal dan menyampaikan teks dengan kualitas akting mumpuni, terutama saat pelafalan istilah-istilah bahasa asing, yang biasa diselipkan Soekarno dalam pidatonya, seperti istilah bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Rusia, dan China.

“Ini film historical monolog. Saya belajar setengah mati, sekitar 3 bulan, semedi di Singapore karena kebetulan saat itu istri saya berobat di sana,” kata Tio dalam sesi jumpa pers setelah pemutaran film.

Menurut Tio, film ini dibuat berawal dari kegelisahannya bahwa Pancasila itu sakti, bahkan sampai pelajaran PMP saja dihilangkan. Bahkan Tio menegaskan, anaknya pun tak mengenal Indonesia secara luas, apalagi dirinya.

“Saya bertemu dengan seseorang, yang menyimpan dokumen pidato Bung Karno. Inilah jawaban kegelisahan saya untuk dibikinkan jadi film. Peran utamanya adalah pidatonya, bukan saya, karena itu yang pentingnya,” jelas Tio.

Untuk urusan dana produksi film, Tio mengaku memang ada kendala. Maklum, film semacam ini jauh dari komersialisme. Tapi beruntung, masih ada beberapa pihak yang mau jadi donaturnya.

Nah, kamu yang penasaran dengan isi pidato Soekarno yang cerdas dan inspiratif? Ttonton filmnya mulai 17 Agustus mendatang. Film ini sungguh berbobot, unik, dan membawa pesan nasionalisme yang sangat berharga. [][teks @firza | foto Media Syndication & Geppetto Production]