}
Miss Peregrine's Home for Peculiar Children: Kisah Anak Istimewa
Film

Miss Peregrine's Home for Peculiar Children: Kisah Anak Istimewa

by Yogira
Fri, 30-Sep-2016

Ini kisah tentang anak-anak istimewa yang diasuh perempuan cantik, sakti, dan eksentrik. Namun untuk ukuran penonton Indonesia, film ini lebih cocok untuk remaja. Alasannya: ada adegan ciuman!  Jadi, anak-anak kecil kurang cocok menonton film ini, kecuali orangtuanya menutup mata anaknya saat adegan ciuman itu.

Miss Peregrine's Home for Peculiar Children menyuguhkan cerita fantasi yang surealis. Zaman bisa diputar-balik. Jack Portman [Asa Butterfield], yang sejatinya hidup di zaman sekarang bisa enteng keluar masuk dari masa sekarang ke masa lalu. Dia juga punya kemampuan melihat dengan mata telanjang sosok Hollow alias monster jahat, padahal orang biasa tak bisa melihatnya.

Yup, Jack adalah anak istimewa. Dia sudah disiapkan kakeknya, Abraham 'Abe' Portman [Terence Stamp] untuk menyelamatkan anak-anak istimewa lain yang diasuh Miss Peregrine [Eva Green] dari ancaman Barron [Samuel L. Jackson] dan komplotannya. Abe yang juga lelaki istimewa memberi petunjuk kepada Jack bahwa Miss Peregrine dan anak-anak asuhannya berada di sebuah pulau di Wales.

Lantas, bagaimanakah Jack bisa bertemu Miss Peregrine dan anak-anak istimewa lainnya? Dengan cara apa dia menyelamatkan mereka dari kejahatan Barron dan Hollow?

Ini film Tim Burton banget. Sebagai sutradara kawakan, Tim kembali menyuguhkan fantasi dengan dramatisasi yang cenderung gloomy dan keseraman yang indah, seperti dalam filmnya terdahulu, semisal: Corpse Bride, Alice in Wonderland, atau Charlie and the Chocolate Factory. Tim tetap mempertahankan gaya visualnya secara teatrikal dengan aksen warna tata artistik yang mencolok.

Dari sisi cerita, Miss Peregrine's Home for Peculiar Children tidaklah istimewa. Ada beberapa film fantasi sejenis, yang lebih kuat dramatik pengisahannya. Mungkin karena memang diangkat dari novel berjudul sama, film ini harus kompromi mengorbankan sisi dramatis, yang pastinya lebih banyak tertuang dalam novelnya.

Meski begitu, film ini layak ditonton sebagai hiburan tanpa harus berkerut kening memikirkan keliaran imajinasi mengenai perputaran waktu atau perpindahan zaman para tokoh-tokohnya. Imajinasi adalah anugerah indah. Nggak percaya? Tonton dan nikmati film ini di bioskop Cineplex 21/XXI.  [][teks @firza | foto Chernin Entertainment, Tim Burton Productions]