}
 Billy Lynn's Long Halftime Walk: Beban Jiwa Jadi Tentara
Film

Billy Lynn's Long Halftime Walk: Beban Jiwa Jadi Tentara

by Yogira
Fri, 11-Nov-2016

Banyak tentara Amerika bertempur di Irak. Ketika pulang dengan selamat, mereka dielu-elukan bak pahlawan. Tapi tak semuanya tentara senang menerimanya.

Billy Lynn's Long Halftime Walk boleh dibilang film yang mewakili realitas itu. Yup, kepahlawanan tak selamanya bikin senang. Bisa saja malah jiwa jadi meradang. Termasuk tentara Bravo Squad setelah pulang berperang dari Irak.

Billy Lynn [Joe Alwyn] termasuk anggota Bravo Squad. Pemuda berusia 19 tahun ini membawa beban jiwa yang berat setelah sepulang dari Irak. Mentalnya sedikit terganggu. Hatinya berkecamuk. Pengalamannya saat berperang di Irak dan upayanya menyelamatkan rekannya, Shroom [Vin Diesel] terus menghantui benaknya.  Ketika Lynn dan anggota Bravo Squad lainnya disambut dengan pesta meriah di sebuah stadion, Lynn menanggapinya kurang gairah. Ada yang mengganggu pikirannya.

Kehadiran dua perempuan spesial dalam hidupnya, Kathryn [Kristen Stewart] dan gadis pemandu sorak bernama Faison [Makenzie Leigh] membuat dirinya dilematis, antara berangkat lagi perang di Irak atau pensiun dini sebagai tentara. Kathryn adalah saudara yang sangat disayanginya, sedangkan Faison adalah harapan dia untuk menjalin asmara. Lantas, apa pilihan terbaik bagi Lynn untuk menghadapi persoalan ini?

Film ini diadaptasi dari novel bertajuk sama, karangan Ben Fountain. Entahlah, apakah novelnya ‘miskin’ konflik dramatik atau adaptasi skenarionya yang gagal menangkap kelebihan novel tersebut. Akibatnya, sang sutradara, Ang Lee seperti tak memperlihatkan kecemerlangannya sebagai sutradara kelas Oscar, mengingat dia berhasil dalam film Life of PI, Brokeback Mountain, dan Crouching Tiger, Hidden Dragon.

Pengisahan film ini terasa datar meskipun dieksekusi dengan visualiasi kilas balik. Yang terasa cuma percik-percik ironis seputar persoalan psikologis di balik dunia militer Amerika berikut pasukannya. Dan karakter Lynn adalah representasinya. Ada pesan sindiran juga penggambaran kondisi munafik, yang mungkin menohok Amerika sendiri terkait nilai-nilai patriotisme dalam sejarah peperangan mereka.

Ada sedikit yang memuaskan secara teknis bahwa film ini enak dilihat, yakni resolusi gambarnya yang berkualitas tinggi. Gambar pun jadi sangat terlihat jernih.

Kamu ingin menonton film ini, silakan segera ke bioskop Cineplex 21/XXI. Semoga kamu bisa memetik hikmah di balik sebuah peperangan. [][teks @firza |  | foto Bona Film Group, Film4 Productions]