}
Lion: Malarindu Anak Adopsi
Film

Lion: Malarindu Anak Adopsi

by Yogira
Wed, 01-Feb-2017

Rindu dahsyat itu seperti demam, semisal malaria. Bisa bikin depresi. Pas banget kalo ada ungkapan malarindu. Nah, film Lion mengisahkan tokoh utamanya mengalami demikian.

Lion berdasarkan kisah nyata, diadaptasi dari buku berjudul A Long Way Home. Sebuah memoar yang ditulis Saroo Brierley. Dalam bukunya itu, dia memaparkan kisah hidupnya yang getir, terpisah dari keluarganya di India selama 25 tahun.

Kisah Lion bermula dari tersesatnya anak kecil bernama Saroo [Sunny Pawar]. Dia terjebak di gerbong kereta api yang berangkat ke Kalkuta. Saroo merasa bersalah ketika tak mematuhi nasihat Guddu [Abhishek Bharate], kakaknya yang meminta Saroo nggak ke mana-mana kala keduanya kemalaman di stasiun kereta. Maklum, keduanya hanya anak miskin, yang mencoba mengais rezeki dari stasiun hingga ke lorong-lorong kota.

Ketika terbawa jauh kereta api dari kampung halamannya, Saroo berupaya mencari pertolongan. Tapi  banyak orang tak peduli padanya. Saroo dianggap cuma anak jalanan. Padahal Saroo ingin sekali pulang ke pangkuan ibunya. Dia merasa berdosa sudah meninggalkan ibunya, yang cuma buruh angkut batu.

Saroo terkena razia operasi anak jalanan. Lantas dia masuk ke panti sosial. Untung saja, hidupnya nggak sampai tamat. Saroo seolah mendapat malaikat. Setelah dari panti sosial, dia pindah ke Australia, jadi anak adopsi pasangan suami istri berhati mulia. Mereka adalah John Brierley [David Wenham] dan Sue Brierley [Nicole Kidman].

Saroo [Dev Patel] sudah beranjak dewasa. Dia jadi pemuda tampan. Tak heran, dia bisa punya pacar, bernama Lucy [Rooney Mara]. Nah, pada masa inilah Saroo benar-benar diserang malarindu. Dia ingin mencari ibunya dan kampung halaman, yang tak diketahui namanya. Konflik batin mengemuka, antara rasa sayangnya kepada orangtua angkatnya, terutama kepada Sue, juga terhadap Lucy. Tapi rindu yang paling kuat, dia ingin bertemu ibunya, nun jauh di India. Bagaimana Saroo bisa menemui ibu kandungnya? Mengapa judul filmnya Lion?

Film ini bisa bikin kamu ‘nangis bombay’. Kisahnya sangat menyentuh, apalagi pas adegan klimaksnya, hati seperti teriris, mengalirkan tangis. Patut diacungi jempol untuk penulis skenarionya, Luke Davies. Dia mampu menuangkan kisah Saroo dari buku menjadi film drama menggagumkan. Sang sutradara, Garth Davis berhasil mengeksekusi skenario itu jadi aneka visualisasi yang menawan. Sinematografinya keren. Banyak pengadegan gambarnya seolah-olah bisa ‘bicara sendiri’ tanpa harus diungkapkan dengan dialog atau narasi verbal. Dengan arahan kamera, Greig Fraser, penonton pun bisa terhanyut dengan pemandangan Tasmania, Australia, yang indah jelita.

Berkat kelebihan filmis itulah, Lion wajar masuk nominee film terbaik Oscar 2017, dengan 6 kategori, yakni film terbaik, skenario adaptasi, sinematografi, ilustrasi musik, dan juga aktor pendukung terbaik [Dev Patel], aktris pendukung terbaik [Nicole Kidman].

Lion tak sekadar film hiburan. Karya sinema ini mencuatkan pesan-pesan humanis universal, terutama tentang perlindungan anak di negara-negara berkembang. Pasangan suami istri John Brierley dan Sue Brierley, yang memang dalam kehidupan nyata ada layak disebut orang inspiratif. Mereka bisa menggugah kita untuk menyelamatkan anak-anak yang kurang beruntung. So, film ini jadi tontonan wajib para pencinta kemanusiaan. Saksikan Lion di bioskop Cinema 21/XXI. Pasti kamu dapatkan pesan yang berharga.  [][teks @firza | foto The Weinstein Company]