}
Interchange: Mitos Kemasan Modern
Film

Interchange: Mitos Kemasan Modern

by Sherra
Fri, 03-Mar-2017

Selain suku dan budaya, Indonesia juga kaya akan mitos dan takhayul. Misalnya aja, suku Dayak di Borneo. Mereka percaya kalau mereka difoto, nyawa mereka juga diambil. Yep, hal itu yang menjadi salah satu ide cerita film Interchange.

Adalah Adam [Iedil Putra], fotografer forensik yang akrab dengan pemandangan tubuh mayat korban mutilasi. Hingga akhirnya Adam lelah karena pekerjaannya itu membuat dirinya sering diusik halusinasi. Ia pun menutup diri dan besembunyi dalam apartemennya.

Namun terjadi rangkaian pembunuhan di salah satu kota di Malaysia di tempat Adam bermukim. Ia pun terseret dalam kasus yang tengah diselidiki sahabatnya, si polisi keras kepala, Detektif Man [Shaheizy Sam].

Di waktu yang sama, hadirlah Iva [Prisia Nasution], perempuan misterius asal Borneo yang membuat Adam jatuh cinta. Iva tengah mencari jiwa kaum sukunya yang terperangkap dalam kaca negatif selama 100 tahun. Dulu, kaumnya pernah difoto oleh etnografi asal Eropa.

Begitu juga Belian [Nicholas Saputra] yang bernasib terjebak dalam tubuh manusia selama ratusan tahun. Ia juga berusaha agar kembali bebas dalam wujud sebenarnya, yaitu burung rangkong gading.

Lalu apa yang akan dilakukan Adam untuk membantu Iva? Apakah Adam juga berhasil membantu Detektif Man untuk memecahkan kasus pembunuhan? Lantas, apa peran Nicholas Saputra di film ini sebagai Belian?

Film yang digarap selama 3 tahun ini memang sengaja ingin mengangkat kembali sejarah Indonesia yang kini seperti terkubur. Dan fokusnya adalah cerita dari suku Dayak yang dikemas secara modern. Film yang telah diputar di Piazza Grande, Italia ini juga ingin mengangkat kota di Malaysia yang dempet dengan Indonesia, yakni Sabah dan Sarawak.

"Memang saya nak buat film detektif. Tidak banyak segi kultural yang dipresentasikan. Kita tak pernah mengambil cerita mereka [suku-suku], padahal eksis," ujar Sutradara Dain Iskandar.

Penasaran gimana jalan ceritanya? Film yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantarnya ini tayang di bioskop mulai 2 Maret 2017. [][teks & foto @saesherra]