}
Banda, Jamrud Berdarah Punya Indonesia
Film

Banda, Jamrud Berdarah Punya Indonesia

by Pandu
Tue, 01-Aug-2017

Banda adalah jantung Nusantara. Jauh sebelum ikrar kebangsaan Indonesia diucapkan di Jakarta, empat negara Eropa berebut melempar sauh di dermaga. Tapi yang jadi korban justru para pribumi. Laut memerah darah, gara-gara biji pala.

Ketika itu biji pala adalah komoditi utama perdagangan. Lebih bernilai daripada emas, lebih mahal daripada sutra, dan simbol kemakmuran bangsawan. Jadi apapun caranya, pala adalah segalanya meski darah harus ditumpahkan.

Film besutan Jay Subiyakto bertajuk Banda mengupas sejarah kelam pulau itu dari sudut pandang para pelaku dan saksinya. Penulis naskahnya, Irfan Ramli, memadatkan cerita periode ganasnya VOC, konflik horisontal '98, hingga peliknya perdagangan biji pala saat ini, ke dalam format sinema berdurasi sekitar 90 menit.

Penjajahan di atas Nusantara berawal dari Banda. Sebab penjajah sadar bahwa bangsa ini kaya sumber daya alam. Barulah setelah itu menyebar ke seluruh daerah Jawa, Sumatera, dan Maluku.

Banda sempat dikenal sebagai tempat pembuangan tahanan politik, seperti Hatta dan Sjahrir. Di sini pula, manifesto ke-Indonesiaan dibangun. Untuk saat ini, Banda lebih dikenal sebagai destinasi pariwisata bahari karena glamornya flora fauna di lautan. Padahal ada sejarah serta sumber daya yang hanya terkandung pada Banda.

Secara garis besar, film ini layak ditonton untuk menyingkap sejarah yang hampir dilupakan. Untuk yang malas membaca tapi ingin tahu, Banda bisa menegaskan lagi. Bahwa sejatinya, bangsa ini dibangun dari ramah-tamah antarras dan suku. [][teks @haabib_onta | foto PR]