}
Pengabdi Setan: Ibu Datang Lagi, Teror Kengerian dari Joko Anwar
Film

Pengabdi Setan: Ibu Datang Lagi, Teror Kengerian dari Joko Anwar

by Hagi
Thu, 28-Sep-2017

Takut itu amat personal. Well, ungkapan itu ada benarnya. Dan karena itu juga, saya mengiyakan ajakan seorang sepupu, saat ia minta ditemani nonton midnite film Pengabdi Setan pada Sabtu lalu [23/09]. Besutan Joko Anwar ini adalah reboot dari film bertajuk sama produksi Rapi Films yang disutradarai Sisworo Gautama Putra dan menebar horor pada 1980.

Tahun 1981. Dikisahkan, Mawarni Suwono adalah penyanyi yang sudah tiga tahun mengidap penyakit berat. Ia terbaring tak berdaya di sebuah kamar lantai dua di sebuah rumah tua di tepi hutan. Untuk memanggil anak-anaknya, ia menggunakan sebuah lonceng kecil. Saat penyakitnya tak lagi bisa tertangani, ia meninggal. Malam setelah kematiannya, dari kamar bekas tempatnya tidur, lonceng itu berdenting kembali. Dan anak-anaknya mulai diteror kengerian, karena ternyata, ‘sang ibu’, datang kembali. Dan oh, ‘ia’ tak sekadar datang, tapi hendak mengambil dan membawa anak-anaknya.

Premis film yang naskahnya juga ditulis Joko Anwar ini cukup sederhana. Kesederhanaan inilah yang menjadikan banyak sekali celah yang bisa disisipi elemen horor. Aroma kengerian sudah tercium saat scene Mawarni [Ayu Laksmi] terbaring sakit. Belum mati saja, parasnya sudah membuat penonton merasa ogah memandangnya. Ditambah lagi ketika aroma kengerian terbangun sesaat sebelum ia meninggal.

Sama seperti banyak film horor, kita selalu disuguhi momen-momen penyesalan diri. ‘Kenapa gue mau ya nonton film ini?’ Kira-kira begitulah yang ada di benak saya. Yang cukup jadi persoalan adalah, momen seperti itu hadir cukup sering. Saat lonceng berbunyi, rasanya langsung, ‘duh, males deh, pasti sebentar lagi setannya nongol.’ Belum lagi ditambah scoring yang sesekali mengagetkan dipadu sound-sound horor tahun ’80-an. Yang menyelamatkan tentu saja adalah saat film berakhir. Dan kita tahu, harga tiket yang dibayar sesuai dengan harapan kita, tertakuti habis-habisan.

Menariknya, di film ini, Joko emoh menggunakan teknik CGI. Keengganan itulah yang membuat elemen horornya bertambah tinggi. Belum lagi akting para pemainnya yang terbilang cukup baik saat membangun ketegangan. Tara Basro, Endy Arfian, Nasar Annuz, dan M. Adhiyat bermain kompak sebagai empat anak Mawarni. Ditambah lagi akting Bront Palarae sebagai ayah yang cukup meyakinkan. Aktor Malaysia ini pernah main di serial Halfworlds besutan Joko Anwar.

Hanya memang, ada sejumlah perbedaan cerita dibandingkan dengan film aslinya. Misalnya, dulu anak Mawarni hanya dua: Rita dan Tomi, kini anaknya empat: Rini, Tony, Bondi, dan Ian. Tokoh Karto tak muncul. Peran tokoh Darminah --yang dulu dimainkan dengan sangat baik oleh Ruth Pelupessy dan kini diperani Asmara Abigail-- menjadi tidak menonjol. Dan ini juga yang menimbulkan kecurigaan bahwa akan ada film susulan setelah yang satu ini mendulang sukses. Saya menilai demikian, karena film ini boleh dibilang mampu mengembalikan marwah film horor dalam negeri yang tidak dikotori cerita ngeseks dan komedi slapstick.

Commuters yang tak bernyali ciut, tentu akan segera membuktikannya dengan melahap yang satu ini mulai 28 September 2017. Dan karena saya sudah berjanji tidak akan membeberkan spoiler, maka duduklah dengan tenang, nikmati saat bulu kuduk meremang, keringat dingin membanjir, dan lutut Anda melemas. Selamat terkencing-kencing. [][teks @hagihagoromo | foto Rapi Film]