}
Blade Runner 2049: Perburuan Manusia Replika
Film

Blade Runner 2049: Perburuan Manusia Replika

by Yogira
Thu, 12-Oct-2017

Tahun 1982, Ridley Scott bikin gebrakan di kancah sinema dunia. Film besutannya bertajuk Blade Runner jadi buah bibir moviegoers kala itu. Maklum, Blade Runner menampilkan tema futuristik, semacam prediksi gambaran kehidupan dunia masa mendatang.

Terbukti, tiga dekade setelah itu, kenyataannya terjadi. Bahkan jadi inspirasi banyak orang, salah satunya Andrew Phipps Newman, seorang broadcaster, yang membuat terobosan dengan merancang teknologi DOOH [Digital Out of Home]. Dia mengaku terinspirasi membuat DOOH setelah menonton film Blade Runner. DOOH pun kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan juga dengan media PID [Passanger Information Display] di kereta commuterline Jabodetabek.

Nah, tahun ini film tersebut muncul dengan sekuelnya, bertajuk Blade Runner 2049. Sutradaranya, Denis Villeneuve, yang sebelumnya sukses membuat film berkelas Oscar, yakni Sicario dan Arrival. Mampukah  Denis membawa Blade Runner 2049 sukses sebagai film pilihan ajang Oscar 2018?

Dari sisi teknis filmis dan ide cerita, Blade Runner 2049 berpeluang juga sebagai calon film terbaik Oscar 2018. Film ini terbilang berhasil dari sisi sinematografi, sound editing, sound mixing, visual effect, dan ilustrasi musik. Mungkin juga Denis Villeneuve terpilih lagi sebagai nominee sutradara terbaik. Alasannya, dia memberikan cirikhas pada setting dan visual Blade Runner 2049 dengan gaya film noir [suasana gelap, murung], seperti halnya film Batman arahan Christopher Nolan. Lantas, bagaimana pula dengan ceritanya?

Lazimnya film sekuel, Blade Runner 2049 pun berbenang merah dengan Blade Runner pertama. Penanda utamanya adalah munculnya tokoh Rick Deckard [Harrison Ford]. Dia adalah mantan anggota "Blade Runner", yang menghilang selama 30 tahun. Polisi LAPD bernama ‘K’ [Ryan Gosling] berupaya mencarinya. K harus menemukan Rick, yang dianggap jadi ‘kunci’ agar bisa terungkap asal usul pembuatan manusia replika, yang kelak membahayakan dunia.

Meski K adalah seorang replicant [manusia kloning], toh dia tetap harus menjalankan mandatnya berburu replicant ilegal, yang sumbernya ternyata dari perusahaan milik Niander Wallace [Jared Letto].

K menemui banyak kendala ketika harus menyelidiki keberadaan replicant ilegal. Salah satu hambatannya  adalah sejumlah replicant terlihat sempurna sebagai manusia sehingga beberapa replicant sulit terdeteksi karena mereka pun mengaku manusia sesungguhnya.

Dibantu istri virtualnya, bernama Joi [Ana de Armas], perlahan tapi pasti, K mampu membongkar rahasia para replicant berikut rencana-rencananya, yang ingin menguasai bumi dari dominasi manusia nyata. Dengan cara apa K mengetahui keberadaan replicant?

Blade Runner 2049 terbilang film sangat serius dalam mencanggih-canggihkan kehidupan masa depan. Faktanya, film ini memakan durasi panjang [2 jam 44 menit]. Sampai separuh durasinya, kisahnya terasa masih monoton. Belum terasa greget ketegangan dan dramatiknya. Barulah ketika K bertemu dengan Rick, kisah film ini kian memperlihatkan titik terang, baik dari sisi konflik menuju klimaks, maupun suguhan action-nya.

Sebagai film science fiction, Blade Runner 2049 berupaya menyampaikan pesan kepada umat manusia bahwa teknologi pada masa mendatang, tidak hanya memudahkan dalam berbagai hal, tetapi juga bisa jadi ancaman untuk kepunahan manusia. Pesan seperti ini memang terdengar klise. Film Terminator, Matrix, dan Alien: Covenant memuat pesan semacam itu juga. Tapi, Blade Runner 2049 lebih berbeda dari pendekatan ilmiahnya. Tak percaya? Tonton saja langsung filmnya di bioskop Cinema 21/XXI. [][teks @yogirudiat | foto Columbia Pictures]