}
Murder on the Orient Express: Kasus Terbaik Hercule Poirot
Film

Murder on the Orient Express: Kasus Terbaik Hercule Poirot

by Hagi
Tue, 05-Dec-2017

Commuters penyuka cerita detektif pasti tak asing dengan kisah-kisah novelis Agatha Christie. Pasalnya, karya penulis fiksi kriminal Inggris ini boleh dibilang paling laris sepanjang masa, di bawah ketenaran karya William Shakespeare. Salah satu karya paling terkenal dari Agatha Christie yang pernah diangkat ke layar lebar adalah Murder on the Orient Express pada tahun 1974, dua tahun sebelum Agatha Christie meninggal dunia.

Tahun ini, kisah tersebut diangkat kembali ke layar lebar dengan judul sama. Tentu saja, para pemainnya baru semua. Jika yang menjadi tokoh sentral di tahun 1974 adalah Albert Finney, maka kini yang menjadi Hercule Poirot adalah Kenneth Branagh. Ia juga menjadi sutradara di film terbaru ini.

Kisahnya dibuka dengan setting Yerusalem, ketika Poirot --dibacanya Poaro--diminta untuk memecahkan kasus pencurian benda pusaka di tanah suci tiga agama tersebut. Tersangkanya ada tiga, yaitu pemuka ketiga agama, yang tentu saja menimbulkan kehebohan di seluruh kota. Dengan gemilang, Poirot berhasil memecahkan misteri tersebut dengan membuka kedok sang pencuri.

Lelah dengan berbagai kasus misteri dan kriminal yang selalu mengikutinya, Poirot memutuskan untuk mengambil libur sejenak dan berangkat dari Istanbul menuju London menggunakan kereta api Orient Express. Tapi dasar detektif kenamaan, selalu saja ada kasus menarik yang menyertainya. Saat kereta tersebut terpaksa berhenti karena cuaca buruk dan jalan tertutup longsoran salju tebal, salah satu penumpang kereta ekspres itu ditemukan sudah tak bernyawa, akibat tusukan bertubi-tubi di tubuhnya. Uniknya, sebelum meninggal, si korban pernah meminta perlindungan Poirot, karena ia merasa ada yang menginginkan kematiannya. Dari hasil penyelidikan Poirot didapatkan fakta bahwa si korban adalah penjahat yang pernah menghabisi nyawa anak kecil. Dan detektif berkumis antik ini mendapati temuan bahwa beberapa penumpang patut dicurigai dan punya kemungkinan menjadi pembunuhnya. Masalahnya: siapa?

Bagi yang sudah membaca novel Pembunuhan di Orient Expres tentu sudah dapat mengetahui pembunuhnya. Meski begitu, film ini menyajikan sensasi yang hampir sama saat membaca novelnya. Setting yang digarap apik. Panorama Yerusalem dan Istanbul. Juga stasiun kereta api yang megah. Penempatan kamera. Dan tentu saja, akting para pemainnya yang rata-rata memang kaliber pemenang penghargaan. Sebut saja misalnya Judi Dench, Michelle Pfeiffer, Johnny Depp, Willem Dafoe, Penelope Cruz, Daisy Ridley, Leslie Odom Jr, Tom Bateman, dsb. Jangan lupakan departemen kostum dan wardrobe yang telah menghias tubuh para pemain film ini dengan baik. Tak berlebihan jika film ini berhak mendapat nominasi dari kategori busana terbaik.

Jika Commuters merasa terganggu dengan kumis Poirot, hal ini bisa dimaafkan dengan kepiawaian Kenneth Branagh membawakan karakter pengidap obsessive compulsive disorder itu. Adegan yang menarik adalah saat Poirot mengumpulkan keseluruhan tersangka di ujung terowongan sesaat sebelum kereta berhasil dikembalikan ke relnya lagi. Mereka duduk dalam satu deret, persis adegan Last Supper. Rasanya tak sabar untuk menonton film Agatha Christie lain yang juga pernah diangkat ke layar lebar seperti Death on the Nile, Evil Under the Sun, dan Appointment with Death. Commuters punya request lain? [][teks @hagihagoromo | foto Twentieth Century Fox]