}
Ayat-ayat Cinta 2: Dilema Cinta dan Teroris
Film

Ayat-ayat Cinta 2: Dilema Cinta dan Teroris

by Yogira
Wed, 20-Dec-2017

Tak selamanya cinta itu indah. Seringkali juga jadi persoalan rumit ketika cinta itu hilang, lantas berbuntut kesedihan, kebencian, dan ketidakberdayaan. Memang terdengar klise. Namun ketika kondisi tersebut diangkat ke layar lebar dengan skenario matang, niscaya cinta jadi hal yang menegangkan dan menggemaskan.

Mungkin itu semacam formula untuk pengisahan film Ayat-ayat Cinta 2. Seperti pada Ayat-ayat Cinta [2008], Fahri Abdullah tetap jadi tokoh sentral. Lagi-lagi, dia jadi ‘magnet’ para perempuan di sekitarnya. Tak hanya karena ganteng, pintar, dan sukses sebagai pengusaha, Fahri pun sangat penyabar, penolong, dan tentu saja taat beribadah. Fahri seperti refleksi lelaki yang nyaris sempurna. Dalam film Indonesia, steretotipe ini pernah melekat dalam tokoh Si Boy dalam film Catatan Si Boy, yang diperankan Onky Alexander. Bedanya, tokoh Fahri dalam Ayat-ayat Cinta dikemas secara agamis, Sedangkan penggambaran Si Boy terasa lebih hedonis.

Penonton yang sudah menonton Ayat-ayat Cinta sebelumnya mungkin penasaran, apakah wacana poligami mengemuka lagi dalam film Ayat-ayat Cinta 2? Ternyata tidak. Fahri memang masih menghadapi dilema cinta, tapi dalam Ayat-ayat Cinta 2 persoalannya kian rumit karena dia harus sabar menghadapi tuduhan sebagai teroris.

Sejak kehilangan Aisha selama tujuh bulan, Fahri berupaya tegar menjalani rutinitasnya sebagai pengajar sekaligus pengusaha di Edinburgh, Scotlandia. Tiba-tiba ada perempuan cantik yang mendekatinya, yakni Hulya. Bahkan gadis ini semakin akrab dengan Fahri. Namun di sisi lain, Fahri masih menahan diri karena masih terikat cinta dengan Aisha sebagai istrinya. Belum lagi ada dua perempuan lain, yang mencari perhatian darinya. Sebagai lelaki normal, Fahri jadi kikuk dengan rentetan rayuan dari para perempuan itu.

Ketika diterjang dilema cinta, Fahri pun mendapatkan ujian dari tetangganya, yang beragama lain, yakni: kakak-adik Keira dan Jason, juga Catarina. Bahkan, Keira sangat membenci Fahri dengan menuduhnya sebagai teroris. Masalah kian kompleks dengan munculnya lelaki jahat bernama Baruch. Akibatnya, konflik batin yang menerpa Fahri datang secara bergantian. Lantas, bagaimana Fahri menjalani semua masalah itu?

Sutradara Guntur Soehardjanto lumayan sukses menafsirkan skenario yang ditulis Alim Sudio dan Ifan Ismail menjadi karya sinema yang enak ditonton, terutama dalam hal dinamika konflik antartokoh, juga pengambilan gambar di Edinburgh, yang artistik. Ini tak lepas juga dari kontribusi sinematografer Yudi Datau dan penata artistik, Allan Sebastian. Ilustrasi musik hasil garapan Tya Subiakto dan Krisna Purna memberikan pula efek dramatis sejumlah penggadegan antarpemainnya, hingga penonton sesekali akan terpancing keharuannya.

Film yang berdasarkan novel karya Habiburrahman El Shirazy ini sepertinya akan menjadi film box office berkat kematangan pengisahan dan juga set lokasi syuting yang indah dan mengesankan.

Pemain:
Fedi Nuril sebagai Fahri bin Abdullah Shiddiq
Tatjana Saphira sebagai Hulya
Chelsea Islan sebagai Keira
Dewi Sandra sebagai Sabrina
Nur Fazura sebagai Brenda
Pandji Pragiwaksono sebagai Hulusi
Bront Palarae sebagai Baruch
Dewi Irawan sebagai Catarina
Deborah Whyte sebagai Janet
Cole Gribble sebagai Jason
Arie K. Untung sebagai Misbah
Melayu Nicole Hall sebagai Layla
Millane Fernandez sebagai Lynda
Mathias Muchus sebagai Paman "Fahri"
Syifa Hadju sebagai Fatimah
Paul Lapsley sebagai Anggota Polisi
Dian Nitami
Jihane Almira
Nino Fernandez
Produksi: MD Pictures
Produser: Manoj Punjabi, Dhamoo Punjabi

[][teks @yogirudiat | foto MD Pictures]