}
The Greatest Showman: Kisah Pencapaian Harapan
Film

The Greatest Showman: Kisah Pencapaian Harapan

by Hagi
Fri, 22-Dec-2017

Pernah punya tekad kuat dan ambisi meraih kesuksesan, Commuters? Apalagi jika --misalnya-- kita punya latar belakang keluarga dengan ekonomi yang sulit. Tentu, kita akan melakukan apa saja untuk bangkit dari kemiskinan. Perasaan tertekan dan rendah diri ini dialami Phineas. Ia seorang anak tukang jahit miskin, yang jatuh cinta kepada seorang gadis dari keluarga berada. Tentu terbayang perjuangannya untuk menggapai cita-cita membahagiakan kekasihnya itu. Kisah Phineas ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan tajuk The Greatest Showman, sebuah drama musikal besutan Michael Gracey. Film ini terinspirasi dari kisah nyata yang merupakan perjalanan hidup Phineas Taylor Barnum [1801 - 1891].

PT Barnum --yang asli-- merupakan penghibur, pengusaha, dan politisi Amerika dari Connecticut. Di film, karakter PT Barnum diperankan Hugh Jackman. Setelah menikah dengan Charity [Michele Williams], kehidupannya tak kunjung membaik. Apalagi mereka sudah punya dua putri yang mulai beranjak besar. Suatu hari perusahaan perkapalan tempatnya bekerja memecat semua karyawan karena armada kapal mereka tenggelam di Laut Tiongkok Selatan.

Berbekal akta kapal yang tenggelam itu, Barnum mengajukan pinjaman ke bank. Ajaib, pinjamannya dikabulkan dan dia membuka museum berisi hal-hal yang unik dan aneh. Tetapi, karena isinya mayoritas benda mati, dan ada beragam kepalsuan yang ia pertontonkan di museum itu, tak banyak orang yang tertarik untuk membeli tiket masuk ke museum itu. Padahal, ada angsuran bank yang harus dia bayar setiap bulan, termasuk kebutuhan harian, dan biaya sekolah kedua putrinya.

Saat putrinya bilang bahwa museum itu perlu sesuatu yang hidup agar lebih menarik perhatian pengunjung, Barnum mulai mencari orang-orang yang punya penampilan unik dan keterampilan khusus. Ia lalu merekrut orang cebol, wanita berkumis dan berjenggot tebal, manusia dengan tinggi badan di atas rata-rata, dan banyak lagi keanehan yang mereka miliki. Bersama mereka sebagai penampil, Barnum membuka sirkus spektakuler. Kali ini usahanya membuahkan hasil. Mulailah uang mengalir ke pundi-pundinya dan ia bisa meningkatkan taraf hidupnya.

Meski banyak yang suka dengan sirkusnya, ada juga sekelompok orang yang benci kepada Barnum, karena ia mengumpulkan orang-orang aneh. Sirkus Barnum juga mendapat penilaian buruk dari seorang wartawan pengamat seni. Tetapi itu bukan rintangan bagi Barnum. Demi mengembangkan usahanya, ia merekrut Phillip Carlyle [Zac Efron], seorang pengusaha pertunjukan sebagai kolaborator untuk mengangkat derajat sirkusnya. Lewat bantuan Carlyle, Barnum dipertemukan dengan Ratu Inggris. Di Inggris, Barnum diperkenalan dengan Jenny Lind [Rebecca Ferguson], seorang penyanyi opera dari Swedia yang setuju untuk menggelar konser di Amerika. Kini Barnum punya dua usaha yang cukup menyita perhatiannya: sirkus dan konser. Bagaimana ia mengusahakan kesuksesan keduanya? Bagaimana pula dengan waktu Barnum untuk keluarganya? Cukupkah kesuksesan yang telah ia raih itu memenuhi kepuasannya?

Drama musikal ini terbilang cukup membetot perhatian dan perasaan penonton. Musik dan original songs dari Benj Pasek & Justin Paul sangat megah dan amat menggugah. Keterampilan Hugh Jackman dan Michelle Williams menyanyi patut diacungi jempol. Demikian juga akting dan kemampuan olahvokal dari para pendukung film ini, seperti Zendaya, Keala Settle, dan Loren Allred.

Sekilas, film ini mengingatkan kita pada film drama musikal Moulin Rouge. Dan buat yang hendak mengunduh original songs-nya, bisa di laman ini ya.

The Greatest Showman yang juga memuat pesan kesetaraan manusia ini meraih 3 nominasi Golden Globe untuk kategori Best Motion Picture, Best Actor [Hugh Jackman], dan Best Original Song [“This is Me” – Benj Pasek & Justin Paul]. Jadi, jika Commuters belum punya agenda menonton film di akhir tahun ini, The Greatest Showman bisa jadi opsi yang menarik. Saksikan film ini di bioskop XXI ya. [][teks @hagihagoromo | foto Twentieth Century Fox]