}
Guru Ngaji: Kisah Mukri Yang Serba Salah
Film

Guru Ngaji: Kisah Mukri Yang Serba Salah

by Andiska
Tue, 20-Mar-2018

Ada sebuah profesi yang sangat penting tetapi hingga kini, masih dipandang sebelah mata dan kurang diperhatikan, itulah guru ngaji. Untuk mengapresiasi pekerjaan yang sangat mulia ini. Chanex Ridhall Pictures mempersembahkan film Guru Ngaji.

Berdurasi 100 menit, film ini menyorot soal keihlasan, kejujuran dan toleransi. Produser Rosa Rai Djalal juga mengatakan bahwa film ini sengaja dihadirkan untuk memberikan penggambaran nyata kehidupan seorang guru ngaji.

Kisahya tentang sebuah dilemma seorang guru ngaji bernama Mukri [Donny Damara] yang juga berprofesi sebagai badut di sebuah pertunjukan pasar malam. Ia melakukan dua hal tersebut untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dan berhasil menjalani kedua profesinya secara diam-diam dengan alasan untuk menjaga citranya sebagai guru ngaji. 

Tapi suatu hari, Kepala Desa yang diperankan Tarzan menyuruhnya menjadi pembaca doa pembuka acara ulangtahun anaknya. Di saat yang bersamaan, pemilik pasar malam yang mempekerjakan Mukri sebagai badut juga memintanya menjadi badut di acara ulangtahun anak Pak Kades tersebut.

Hal ini lah yang membuat Mukri awalnya berniat untuk menolak salah satunya. Karena sangat membutuhkan uang, akhirnya Mukri menerima keduanya dengan segala risiko yang ada. Ia melakukannya bergantian secara “kucing-kucingan” dengan Pak Kades. Bersembunyi di balik makam untuk tempat berganti baju pun ia lakukan supaya tidak ketahuan.

Tak disangka, sebuah kejadian membuat kedoknya terbogkar di hadapan Istrinya dan Pak Kades. Mukri pun mengecewakan keluarga dan warga-warga kampungnya hingga akhirnya para warga mengecamnya dengan persoalan wibawa seorang guru agama yang tercoreng dengan badut yang pada dasarnya dijadikan alat tertawaan anak-anak.

Saking banyaknya kecaman yang datang, Mukhri merasa kehilangan jati diri dan bimbang. Ia pun bertanya pada banyak pihak agama mengenai apa yang telah ia lakukan.

Dalam film ini banyak pelajaran yang bisa diambil dan makna hidup yang dalam dari kisah sebuah profesi guru ngaji yang nampaknya serbasalah. Menyentil isu agama memang salah satu tujuan dibuatnya film ini, namun sang sutradara dan penulis naskah sangat baik mengolah adegan menjadi tidak menimbulkan profokasi dari pihak manapun.

Dengan kemasan cerita yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat seluruh adegannya mudah sekali menyentuh perasaan penonton. [][teks @andiskaraf | foto Chanex Ridhall Pictures