}
Go-Jek, BEKraf, dan In-Docs Dukung Film Dokumenter Indonesia dan Asia Tenggara
Film

Go-Jek, BEKraf, dan In-Docs Dukung Film Dokumenter Indonesia dan Asia Tenggara

by Intern 2
Fri, 20-Jul-2018

Commuters, In-Docs, sebagai lembaga nirlaba pengembangan film dokumenter bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di regional Asia Tenggara, selain mendapat dukungan dari BEKraf [Badan Ekonomi Kreatif], perusahaan on-demand berbasis aplikasi terbesar Go-Studio dari Go-Jek pun turut berkolaborasi untuk menciptakan sebuah skema pendanaan untuk film dokumenter Indonesia, yang diberi nama ‘Docs by The Sea Co-Production Fund’.

Chief of Corporate Affairs, Go-Jek, Nila Marita mengatakan Go-Studio dari Go-Jek mendukung apa yang dilakukan In-Docs dan BEKraf karena sejalan dengan visi dan misi Go-Jek yang sebagai pilar inovasi, sehingga Go-Jek membantu dan mendukung pendanaan maksimal agar program ini dapat terus berkembang.

Dukungan ini bertujuan untuk mendorong terciptanya film-film dokumenter berkualitas melalui program mentorship, skema distribusi, dan pendanaan.

"Yang baru dari Docs by The Sea tahun ini tentu banyak, namun yang sangat signifikan adalah berkat kehadiran Docs by The Sea tahun 2017 secara mengejutkan kita mendapatkan support yang luar biasa, ternyata minat dan perhatian terhadap potensi karya-karya film dokumenter di Indonesia secara khusus dan secara umum di Asia Tenggara luar biasa tinggi, tentu saja kalo kita melihat perkembangan global ini penting dan momentum ini tidak bisa disia-siakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas Docs by The Sea," ujar Ricky Joseph Pesik, Wakil Kepala BEKraf saat Press Conference Docs by The Sea 2018 yang diadakan di Harris Vertu Hotel, Harmoni, Jakarta Pusat, pada Kamis [19/7].

Tahun ini Docs by The Sea [forum global yang menghubungkan para pembuat film documenter Indonesia dan Asia Tenggara dengan industry dan investor film documenter Internasional] akan disellengarakan untuk kedua kalinya di Hotel Patra Kuta, Bali pada 2 – 9 Agustus 2018.

"Saya rasa tahun ini pesertanya juga harus lebih banyak dibandingkan tahun lalu dan juga sejumlah hadiah yang lebih banyak," tambah Ricky.

Pada acara Docs by The Sea 2018, 31 proyek film dokumenter dari Asia Tenggara dan dari Australia akan mengikuti program inkubasi selama empat hari yang dilanjutkan dengan pitching forum.

Tiga kemitraan strategis pada Docs by The Sea di antaranya, Docs Port Incheon, IDEA [International Documentary Forum Amsterdam], dan Tribeca Film Institut. Selain itu pendanaan juga didapat dari kedutaan Denmark dengan memberikan pendanaan kepada film Boarding School [Pesantren] dari Indonesia sebesar 68,000 Krone atau EUR 9,100.

Sebanyak 31 film yang telah terseleksi tersebut akan dipresentasikan kepada 35 lembaga donor, jaringan televise, distributor, dan platform-platform dunia yang membutuhkan film dokumenter, di antara institusi internasional yang telah mengkonfirmasikan kedatangannya adalah Tribeca Film Institute [Amerika], Guardian [Inggris], Al-Jazeera [Qatar], SBS [Jerman], Asian Network for Documentary [Korea Selatan], NHK [Jepang], dan Channel News Asia [Singapura].

Docs by The Sea 2018 akan diikuti 61 peserta workshop, 31 proyek dari 11 negara, di antaranya 15 proyek dari Indonesia, 71 peserta pitching forum, 41 proyek dari 11 negara, dan 42 pakar industri dari 31 institusi/perusahaan dari 14 negara yang akan menjadi mentor dan decision-makers.

Press Conference Docs by The Sea 2018 dihadiri Ricky Joseph Pesik [Wakil Kepala BEKraf], Amelia Hapsari [Program Director In-Docs], Nila Marita [Chief of Corporate Affairs Go-Jek], dan Ismail Fahmi Lubis [Pembuat film dokumenter], Nicholas Kittel [Counselor Public Diplomacy Australian Embassy Jakarta], Paul Smith [Director British Council Indonesia], Dinyah Latuconsina [Koordinator Program Budaya Goethe-Institut Indonesia].

"Tahun lalu kami juga mendukung Docs by The Sea dengan menghadirkan salah satu mentor dari Jerman dan tahun ini kami bekerja sama namun dengan bentuk yang berbeda, saya tetap menjadi mentor, tetapi juga ditambah dengan salah satu mentor festival dokumenter tertua di Eropa," jelas Dinyah Latunconsina, Koordinator Program Budaya Goethe-Institut Indonesia.

Untuk patokan ataupun kriteria film dokumenter, Program Director In-Docs Amelia Hapsari mengatakan tidak pernah ada patokan ataupun tema, namun memang seleksi Docs by The Sea selalu melibatkan juri internasional, salah satunya dari Jepang, Finlandia, In-Docs, dan BEKraf untuk masing-masing juri itu membawa perspektif market dari kawasannya.

Amel juga mengatakan mendapat submission 100 lebih, kita harus pilih 21 yang ikut karena 10 dari IF THEN dan untuk memilih itu kita engage juri. Nanti di Docs by The Sea itu tidak ada jurinya, tetapi seperti investor, founder, broadcast, distributor, festival, jadi peluang apa saja pun bisa terjadi.

"Fund ada 22 yang didominasikan untuk mendapatkan pendanaan ini, jadi basicly syaratnya dapat fund adalah terpilih dulu Docs by The Sea. Selanjutnya kita pitch untuk semua decision maker, jadi meskipun tidak dapat, namun masih bisa mendapat tawaran yang lain, yang hadir di Docs by The Sea," jelas Amel saat ditanya target pembuat film dokumenter yang mendaftar.

Amel juga mengatakan tujuan In-docs ingin masyarakat Indonesia menjadi lebih terbuka dengan ide-ide baru, perspektif, terbuka terhadap kesempatan, dan challenge, karena film dokumenter itu seperti jendela.

Kalau di negara-negara lain penonton film dokumenter itu banyak dan diadakan literasi media sejak kecil di sekolah selalu tersedia film dokumenter. Selain itu juga punya televisi publik yang selalu menayangkan film dokumenter dengan reguler, sehingga penonton dokumenter itu terbangun.

Sayangnya di Indonesia tidak ada hal seperti di atas, bahkan penonton film dokumenter seolah-olah tidak ada.

"Kami senang sekali, Go-Jek mau mendistribusikan sehingga film documenter itu nantinya bisa diakses dengan mudah seperti layanan-layanannya yang lain dan saya juga sangat berharap nantinya dengan akses terhadap film dokumenter itu hadir, kami mengajak masyarakat Indonesia untuk menonton film dokumenter sebagai alternatif untuk melihat karya-karya para independen," tutup Amel saat diwawancarai usai Press Conference Docs by The Sea 2018.

Docs by The Sea Co-Production Fund with Go-Jek

#1 A Brave Man Story [Udik]

#2 Boarding School [Pesantren]

#3 My Big Sumba Family

#4 The Ghost Visitants [Tatung [Para Pemanggil Hantu]]

#5 The Journey

#6 The Last Survivor [Penyintas Terakhir]

#7 Rato and I [Rato dan Aku]

#8 When People Dare to Ask [Bila Rakyat Berani Mengeluh]

#9 You and I [Kau dan Aku]

#10 The Terrorist Whisperer

#11 Go Ashore

#12 The Flame [Bara]

#13 Help Is On The Way?

#14 Nchay Looking for Heaven [Nchay Mencari Suaka]

#15 Philosophy Gang: Your Fantasy Right Here!

#16 The Poly Bag Journal [Jurnal Kresek]

#17 Sculpting The Giant

#18 Diary of Cattle

#19 Home

#20 How Farr I’ll Go [Sejauh Kumelangkah]

#21 The Other Half [Golek Garwo]

[][teks & foto @yolabonnita/PR]