}
Bahaya Aplikasi Lipsync Bagi Anak
Gadget

Bahaya Aplikasi Lipsync Bagi Anak

by Intern 2
Fri, 29-Jun-2018

Demam aplikasi lipsync, seperti Musical.ly dan Tik Tok pun menjalar hingga ke Tanah Air dan membidik Generasi Millennial dan Generasi Z Indonesia.

Aplikasi video pendek ini memiliki dukungan musik yang banyak, sehingga penggunanya dapat melakukan performanya dengan tarian atau gaya bebas.

Meski tengah populer di Indonesia, namun aplikasi lipsync yang paling terkenal ini, yakni Tik Tok berasal dari negeri Tiongkok.

Aplikasi ini dikembangkan platform bernama BYTEMOD PTE.LTD, salah satu perusahaan IT terbesar dengan pertumbuhan paling pesat di China. Rupanya, aplikasi pengunduh tertinggi kini bukanlah WhatsApp.

Dilansir dari Bussines Insider, justru Tik Tok-lah yang paling laris diunduh dengan angka mencapai 45,8 juta unduhan, sedangkan WhatsApp hanya 33,8 juta unduhan.

Namun, di balik ramainya pengguna media sosial 'berkontribusi' dalam berbagai unggahan video menarik menggunakan aplikasi lipsync, seperti Tik Tok ternyata ada bahaya tersembunyi di balik penggunaan aplikasi lipsync ini yang tidak disadari.

Sosiolog Daisy Indira Yasmin menangkap aplikasi lipsync semacam Tik Tok tidak memiliki panduan nilai bagi para penggunanya. Alhasil, banyak video yang justru mengaburkan nilai moral dan mengabaikan asas kesopanan.

"Anak sekarang semakin kreatif tapi kalau lihat kontennya semakin parah. Seperti tidak ada panduan nilainya, apa yang disebarkan secara publik menjadi blur antara mana yang pantas dan tidak," ujar Daisy.

Daisy menilai alasan sederhana mengapa aplikasi semacam itu sangat digandrungi adalah karena berbeda dari platform media sosial lainnya, seperti Facebook dan Instagram.

Selain mengasah kreativitas, aplikasi lipsync tak memiliki filter sehingga siapa pun termasuk anak di bawah usia 10 tahun bebas mengaksesnya.

Terlebih, selebritas dan influencer media sosial pun turut meramaikannya.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia [KPAI] Retno Listyarti, mengatakan aplikasi lipsync dengan kecenderungan penggunaan yang mengarah ke eksploitasi seksual dapat berdampak buruk pada anak-anak.

Retno menilai aplikasi lipsync dapat mengeksploitasi seksualitas terhadap remaja dan anak-anak. Hal ini sama saja dengan memancing kejahatan siber seperti 'predator' anak.

"Ini kan seperti memancing predator. Banyak kasus anak mengalami kejahatan siber, tidak memancing saja dia bisa kena. Akan sangat mudah pada anak yang punya respons baik pada orang yang baru dikenal," pungkasnya.

Seperti yang banyak diberitakan dan tersebar di media sosial, beberapa tindakan tak pantas dilakukan dengan aplikasi ini, sehingga mengundang emosi banyak orang hingga meminta aplikasi ini diblokir di Indonesia.

Tak heran, jika para pengguna aplikasi lipsync, seperti Musical.ly dan Tik Tok kerap mendapat kritikan dan cacian.

Namun yang jelas, baik buruknya sesuatu hal tergantung orang yang memakainya. [][teks @yolabonnita/medcomm.id, kumparan | foto indonesianstudent.com, cerko.com]