}
Palangkaraya di Level Berbahaya
Health

Palangkaraya di Level Berbahaya

by Pandu
Mon, 28-Sep-2015

Palangkaraya mencapai titik batas bencana asap akibat pembakaran hutan oleh pihak tidak bertanggungjawab. Menurut laporan BMKG, Sabtu [26/09], Indeks Pencemaran Udara [ISPU] ibukota Kalimantan Tengah itu menjadi yang paling buruk.

Sampai berita ini diturunkan, Palangkaraya masuk pada Level Berbahaya dengan kadar pencemaran 1.912 gr/m3. Enam kali lipat lebih tinggi dari level normal yang seharusnya 300 gr/m3. Ini menjadi yang terburuk sepanjang sejarah bencana kabut asap nasional.

Kabut asap yang tebal pun ikut mempengaruhi kondisi transportasi di Palangkaraya. Jarak pandang para penduduk lokal hanya mencapai 50-300 m. Itu pun dalam keadaan siang hari.

Demi mengatasi bencana nasional ini, pemerintah menurunkan TNI-AD dan TNI-AU sejumlah 1.250 personel ke lokasi bencana. Bom-bom air juga akan dilepaskan agar bisa mematikan titik-titik api dari lahan gambut yang terbakar.

Bencana kabut asap berbeda sama sekali dengan bencana alam. Bencana alam terjadi di luar kehendak manusia, tidak bisa diprediksi kapan akan datangnya. Sementara bencana kabut asap, terjadi atas campur tangan manusia.

Lahan gambut yang terbentuk sejak 4.500 tahun lalu itu tersebar di luas di Sumatera dan Kalimantan. Sengaja dibakar oleh pihak tak bertanggungjawab agar bisa diganti dengan hutan sawit atau ladang persawahan.

Menurut Prof. Mark Cohrane, hal ini telah menjadi keputusan Presiden tahun 1996. Mendiang Soeharto memerintahkan pembuatan selokan sepanjang 5.000 km agar lahan gambut itu kering. Kondisi gambut yang mengering itu memudahkan timbulnya titik-titik api sehingga terjadi kebakaran.

Padahal gambut bisa dijadikan sebagai sumber energi alternatif. Di negara yang minim pepohonan, seperti Finlandia, gambut dijadikan alternatif pembangkit panas. Bukan penimbul asap yang merusak atmosfer serta paru-paru masyarakatnya. [][teks @HaabibOnta | sumber & foto berbagai media]