}
Gimana Rasanya Puasa di Luar Angkasa?
Health

Gimana Rasanya Puasa di Luar Angkasa?

by Yogira
Thu, 08-Jun-2017

Yang jelas, bukan makhluk alien yang mengalaminya. Tapi seorang Muslim bernama Sultan Salman Al Saud, pangeran dari Kerajaan Arab Saudi.

Salman adalah astronot yang pergi ke antariksa pada 17 Juli 1985 bertepatan dengan 29 Ramadhan 1405 H. Sebagai Muslim pertama yang terbang ke antariksa, Salman harus menjalani puasa, shalat wajib, dan tarawih disesuaikan dengan kondisi tanpa gravitasi.

Sebelum melaju dengan pesawat Discovery, Salman melaksanakan sahur dan shalat Subuh di bumi.  Sebagai persiapan terbang, Salman berlatih di NASA untuk menahan panas dan haus karena tahun itu Ramadhan tepat saat musim panas.

“Saya diberitahu ahli agama, saya bisa berbuka puasa dengan mengacu waktu di bumi tempat saya berangkat,” kata Salman.

Sedangkan untuk shalat wajib dan tarawih, Salman mengambil posisi duduk atau tidur terlentang, dengan wudhu memakai handuk basah.

Sebenarnya, berpuasa seperti Salman mendapatkan keringanan dengan mengganti pada waktu yang lain ketika sampai di bumi. Sebab menurut Dr. Maggie Aderin dari University College, luar angkasa kondisinya tak bersahabat dengan tubuh manusia, terutama asupan kalsium.

“Astronot bisa kehilangan banyak kalsium yang esensial terhadap tulang mereka sehingga menimbulkan osteoporosis,” kata Dr. Maggie.

Jadi, berpuasa di luar angkasa tidak direkomendasikan karena astronot dapat kehilangan 40 persen ototnya.

Tapi, pengalaman Al Saud bisa jadi inspirasi bahwa Islam memberikan keringanan dan cara lain ketika umatnya beribadah di mana pun juga.    [][teks @yogirudiat/berbagai sumber | foto marymount commons waitbutwhy.com]