}
WHO: Gaming Disorder Digolongkan Sebagai Gangguan Kesehatan Mental
Health

WHO: Gaming Disorder Digolongkan Sebagai Gangguan Kesehatan Mental

by Intern
Thu, 28-Jun-2018

Banyak orangtua yang mengeluh terhadap kebiasaan anak mereka, kecanduan bermain video game. Bahkan ada orangtua yang menyebut video game sebagai “heroin digital” karena menjadi salah satu hal yang paling adiktif di dunia.

Baru-baru ini, organisasi kesehatan dunia, WHO baru saja mengumumkan gaming disorder sebagai gangguan kondisi mental baru. Gaming disorder atau kecanduan bermain game, masuk dalam edisi ke-11 International Classification of Diseases atau klasifikasi penyakit internasional yang dirilis oleh WHO pada Senin, [18/06].

“WHO telah mengikuti tren, perkembangan yang telah terjadi dalam populasi dan di bidang profesional,” jelas Dr. Vladimir Poznyak, anggota Departemen Kesehatan Jiwa dan Penyalahgunaan Zat WHO.

Hal tersebut menuai banyak pertentangan. Tidak semua psikolog setuju bahwa gaming disorder layak dimasukkan dalam klasifikasi penyakit internasional atau yang dikenal sebagai ICD. Menurut Poznyak, terdapat 3 ciri-ciri diagnostik utama dalam gaming disorder.

“Salah satunya adalah perilaku bermain video game lebih diutamakan daripada aktvitas lainnya,” ungkap Poznyak.

Kategori yang kedua adalah gangguan kontrol perilaku. Sedangkan yang ketiga adalah kecanduan game mengarah kepada gangguan pribadi, keluarga, sosial, pendidikan atau pekerjaan. Secara keseluruhan, karakteristik utama dari kecanduan game sangat mirip dengan ciri-ciri pengguna zat psikotropika dan penjudi.

“Dampaknya nyata. Termasuk pola tidur terganggu, masalah diet, dan kekurangan aktivitas fisik,” katanya.

Untuk membuat sebuah diagnosa, tim peneliti dari WHO mebutuhkan waktu selama setahun. Mereka harus melihat pola perilaku negatif yang berlangsung selama 12 bulan.

Poznyak berharap bahwa dengan masuknya gaming disorder dalam klasifikasi gangguan kondisi mental, orang-orang terutama gamers akan lebih waspada terhadap keberadaan kondisi ini. Pada akhirnya, WHO berharap bahwa masuknya gaming disorder dalam klasifikasi akan merangsang penelitian lebih lanjut. [][teks @amuspitasari | foto dotesports.com & Block Chain Magazine]