Enaknya Kalau Hobi Dibayar
Hobi

Enaknya Kalau Hobi Dibayar

by Sherra
Tue, 05-Apr-2016

Coba bayangin deh, kalau kita menjalani hobi yang dibayar. Enak banget kan? Sebagai contoh, kamu demen traveling, nulis, dan foto. Trus setelah melanglang buana, kamu menuangkan ceritanya di blog. Lambat laun kamu di-endorse dan akhirnya bisa traveling dan juga dibayar.

Nah, tips dan trik soal traveling dan blogging dibeberkan di hari pertama acara Hitsss Talk 2016 yang berkolaborasi dengan Local Fest vol. 5.2 di Lotte Shopping Avenue, [01/04]. Jadi, bukan cuma lihat-lihat dan belanja barang dari produk lokal yang keren-keren, menikmati music performance, kamu juga bisa dengerin kisah inspiratif [dan juga bikin iri] para pembicara di Hitsss Talk 2016.

Setelah diskusi bareng Ayla Dimitri [Fashion Influencer, Content Creator] dan Marischka Prudence [Travel Blogger, Travel Influencer], ada sesi diskusi bareng Alexander Thian [Traveller, Book Author, Story Teller], Barry Kusuma [Travel Photographer & Videographer], dan Ariev Rahman [Travel Blogger, Travel Influencer] dengan tema "Traveling the World, Earn a Living".  Simak diskusi dengan mereka di Hitsss Talk 2016 berikut.


Udah pernah datang ke berapa negara dan provinsi di Indonesia?

Barry: Sabang sampai Merauke, berarti 34 Provinsi. Kalau luar negeri hanya ke wilayah Asia Pasifik.
Ariev: Kalau saya, Sabang dan Merauke udah. Kurang lebih sekitar 25 Provinsi dan 20 negara.
Alex: Negara di dunia ada sebanyak 170-an. Hampir semuanya gue belum [bercanda]. Kalau Indonesia, udah ke-34 provinsi.

Kapan sih mulai suka traveling dan gaya travelingnya gimana?

Alex: Dari kecil, setelah papa meninggal. Saat itu gue berumur 8 tahun dan harus pergi sendirian dari Pontianak ke Jakarta lalu naik bus ke Malang. Sejak saat itu gue senang pergi traveling, sendirian nggak apa. Kalau gaya traveling waktu itu, diusahakan gratis ya. Mau naik apa juga kalau gratis, enak, hahaha..
Ariev: Pertama kali nulis soal traveling dari tahun 2012. Cuma kalau jalan-jalan dari tahun 2010 atau 2011 karena patah hati, akhirnya jalan-jalan. Gaya traveling yang sengsara banget! Sebelum ada sponsor, tidur di hotel kalau dibayarin aja.
Barry: Dari awal kuliah tahun 2000 dengan gaya-gaya backpacker. Dulu hanya mengandalkan komunitas, saya jadi panitia untuk foto kegiatan. Lama-lama ketika ada acara pergi, saya diajak ikut. Sekarang lebih ke koper untuk alat-alat kamera. Apalagi ke daerah-daerah terpencil.

Apa hal menarik dari traveling untuk kalian?

Alex: Gue nggak pernah nulis blog soal how to get there. Yang ditulis adalah ketika kita di sana dan ngobrol dengan orang lokal. Yang penting interaksi dengan masyarakat. Ngobrol sama stranger itu menyenangkan dan hampir gue lakukan di setiap trip. Cerita-cerita itulah menambah pengetahuan. I love talking to stranger.
Ariev: Lebih ke plan sama kuliner dan momen yang saya temukan di sana.
Barry: Saya dapet foto dan karya. Dulu belajar motret pas traveling. Saya nggak mikir ini bakal jadi duit. Yang penting sih dapat kepuasan tersendiri saat punya karya dan orang lain bisa lihat.

Di mana tempat yang tak terlupakan dan berkesan buruk?

Alex: Yang buruk itu di Kiluan, Lampung. Jadi ada travel agent apa gitu yang ngejanjiin buat lihat lumba-lumba. Udah gitu, pas malam orang-orang pada makan seafood, gue cuma dikasih mie instan sama nasi. Saat itu dia juga cerita kalau pernah ngajak orang untuk lihat lumba-lumba di tengah laut, eh malah tenggelam dan mati semua. Ya gue memilih untuk nggak ikut. Buat apa dia cerita soal itu ke gue? Kalau yang memorable adalah pas di London. Waktu itu gue foto pas banget ada yang ciuman. Menyenangkan aja lihatnya.
Ariev: Di Manchester. Saya udah beli tiket bola seminggu sebelumnya. Saya beli di situs yang kayaknya sih udah terpercaya. Tapi sampai 5 jam dan 1 jam sebelum pertandingan tiketnya belum saya terima. Tapi katanya udah diantar kurir. Terbang ribuan mil untuk nonton bola, pas nonton hanya di local bar. Saya pakai baju Newcastle di tengah-tengah Manchester.
Barry: Dari dulu emang punya wishlist mau ke Lembah Baliem, Wamena. Waktu itu saya motret Suku Dani. Sekali motret, diminta duit, motret lagi, duit lagi. Mereka cerita ke saya, kebiasaan meminta uang itu karena pernah ada orang Eropa datang dengan jet pribadi, lalu melihat kondisi mereka dan orang Eropa itu membagikan uang. Sedihnya saya sempat sakit 2-3 hari dari 8 hari di sana.

Bagaimana dengan target konten, konsistensi, dan kualitasnya?

Alex: Soal konsistensi, gue nggak. Awalnya gue ambisius. Tapi lama kelamaan ada kerjaan lain. Kalau gue sih antara kuantitas dan kualitas, why not both?
Ariev: Saya usahakan seminggu sekali nulis konten. Cuma dua bulan lalu sempat sih nggak seminggu sekali. Aku lebih ke kualitas.
Barry: Konsisten itu penting. Harus jaga mood. Kalau saya minimal upload foto ke instagram minimal sehari dua foto. Kalau blog yang males, karena saya bukan blogger. Yang konsisten adalah konten yang berkualitas.

Artikel yang bagus seperti apa?

Alex: Bagus atau enggaknya sih selera. Tekankan, tulis apa yang kamu tahu. Bukan soal travel aja. Soal apapun untuk nulis blog. Melakukan yang disuka itu biar ada sisi fun-nya. I write what I like. Gaya bahasanya seperti ngobrol aja.
Ariev: Lebih suka artikel yang bercerita, informatif, dan ada foto yang mendukung. Kalau tulisan aku serius bercanda dan ngasih informasi.

Apa tips untuk bikin fotografi travel?

Barry: Yang penting konsistensi. Orang juga mudah mengenal karakter. Misalnya lebih jago human interest atau landscape. Sebuah kamera itu penting dan juga teknik dasar fotografi.

Bagaimana memilih brand untuk menjadi endorsement?

Alex: Pokoknya yang elo post itu bakalan menjadi personal branding. Kalau gue, harus memilih brand sesuai dengan citra gue. Ya, main sesuai segment followers. Dibayar juga nggak harus dengan uang. Tapi dapet pengalamannya.
Ariev: 2-3 tahun belakangan sih yang penting related content. Soal travel.
Barry: Kalau saya, related ke travel dan fotografi. Soal brand, saya jual foto. Nggak niat untuk dapat endorsement. Saya anggap endorsment itu bonus. Kalau kita bagus pun, brand akan datang kok.

Nah, semoga cerita mereka bisa menambah inspirasi Commuters yang punya hobi sama ya. Ingat, semuanya nggak mudah, banyak usaha yang harus dilakukan biar bisa seperti mereka. [][teks & foto @saesherra]