6 Mitos Pantangan Naik Gunung
Hobi

6 Mitos Pantangan Naik Gunung

by Pandu
Tue, 11-Oct-2016

Kalau Ibu Sud bilang ‘nenek moyang kita adalah pelaut’, itu cuma separuh yang benar. Karena sebelum Selat Malaka mulai terbuka untuk perdagangan jalur sutra di abad ke-13, nenek moyang orang Indonesia adalah pendaki.

Terbukti dari Prasati Tuk Mas [G. Merapi] yang ada sejak abad ke-6 dan Prasasti Ranu Kumbolo [G. Semeru] abad ke-11. Laut dipakai untuk berdagang. Sedangkan gunung dipakai untuk bersemedi.

Leluhur yang mendaki pasti sedang dalam misi mensucikan pikiran. Harusnya sih pendaki kekinian mencotoh leluhur. Bukan atas nama selfie dan eksistensi sosial media, terus berangkat naik gunung. Hipster!

Bagi pendaki yang mengutamakan selfi dan eksistensi sosial media, ingatlah pantangan ini seperti pesan mama.

#1 Jalan Maghrib

Pas banget maghrib mending istirahat. Jangan maksain jalan. Di gunung bukan cuma manusia yang tinggal. Ada yang lain baru mulai aktivitas pas maghrib. Jadi tunggu aja, sambil seduh kopi.

#2 Bomb sembarangan

Misi-misi kalau mau tanam bom, jangan-jangan ada yang tinggal di lokasi kamu nge-bomb ya kan. Kalau yang punya tempat marah bisa ikut sampai rumah lho, Hiiiiii!

#3 Kelompok ganjil

Hmm, nggak masalah sih ganjil atau genap sebetulnya. Lebih enak ketika sistem voting justru. Selama nggak terpisah dan ada yang betugas jadi leader, advance, dan sweeper. Ingat, berangkat bareng, pulang juga bareng.

#4 Lagi haid

Selain mengundang tamu lain, mendaki ketika haid itu bisa nyusahin teman juga. Karena pasti fisik nggak sempurna. Lagipula, bekas pembalut kan nggak bisa dibuang sembarangan di gunung. Amis!

#5 Mata jelalatan

Kalau ndaki malam hari, sudah pandangan fokus ke depan. Melihat sepanjang jalur. Biasanya yang jelalatan itu yang kena zonk. Jadi santai aja nggak perlu was-was. Kalem.

#6 Ngomong kasar

Yang suka kelepasan nih, cocok terapi ke gunung. Biar bisa jaga omongan biar nggak asal jepret. Coba ayo dijajal naik gunung, omong sembarangan. Biar tahu rasa aja. [][teks & foto @HaabibOnta]