}
5 Rekomendasi Novel Karya Pramoedya Ananta Toer
Hobi

5 Rekomendasi Novel Karya Pramoedya Ananta Toer

by Intern
Mon, 25-Jun-2018

Commuters, siapa disini yang suka baca novel? Atau pernah dengar nama Pramoedya Ananta Toer? Yap, Pramoedya Ananta Toer atau biasa disebut Pram merupakan salah satu tokoh sastrawan Indonesia yang dikenal karena karya-karya fenomenal.

Lahir di Blora pada tanggal 6 Februari 1925, ia merupakan seorang pejuang hak asasi manusia dan kebebasan berbicara pada masa kolonial Belanda. Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya sastra yang diterjemahkan ke dalam 41 bahasa asing.

Buat Commuters yang suka baca novel atau baru memulai untuk membaca, Linikini punya 5 rekomendasi novel karya Pramoedya Ananta. Let’s check 'em out!

1. Bumi Manusia

Bumi manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Pulau Buru. Buku ini ditulis Pram ketika ia dipenjara di Pulau Buru. Bercerita tentang seorang tokoh yang bernama Minke, Bumi Manusia berlatar belakang pada masa kolonial Belanda. Minke merupakan satu-satunya anak pribumi yang bersekolah di HBS [sekolah untuk orang Eropa]. Minke digambarkan sebagai seorang tokoh yang revolusioner. Banyak siswa-siswi di HBS yang tidak menyukai Minke karena ia merupakan seorang pribumi. Melalui buku ini, Pram menggambarkan keadaan yang terjadi pada masa kolonial Belanda, ketika orang-orang Indonesia diperlakukan secara tidak adil. Dalam novel ini, Pram juga menyiratkan pesan betapa pentingnya belajar. Bahwa dengan belajar dapat mengubah nasib seseorang. Setelah diterbitkan, Bumi Manusia sempat dilarang beredar setahun kemudian atas perintah Jaksa Agung. Sampai tahun 2005, buku ini telah diterbitkan dalam 33 bahasa.

2. Gadis Pantai

Buku ini menceritakan kisah pernikahan dini dan kritik terhadap situasi sosial yang digambarkan Pram melalui tokoh yang bernama Gadis Pantai. Pram memberikan gambaran mengenai situasi feodalisme di daerah Jawa. Wanita selalu ditempatkan di posisi terbawah dalam budaya Jawa. Gadis Pantai dipaksa untuk menikah dengan seorang priyayi ketika dirinya masih berusia 14 tahun. Setelah menikah dan tinggal di rumah priyayi selama beberapa tahun, Gadis Pantai hamil dan melahirkan seorang anak. Tak disangka-sangka, setelah melahirkan, Gadis Pantai diceraikan priyayi dan kembali ke kampung halamannya. Ia ingin membawa anaknya pulang ke kampung, tetapi dilarang mantan suaminya. Cerita ini dibuat Pram berdasarkan kisah pernikahan neneknya sendiri. 

3. Jejak Langkah

Jejak langkah adalah novel ketiga dari Tetralogi Pulau Buru. Pram menggambarkan kisah perjuangan Minke sebagai aktivis yang memilih untuk berjuang melawan kolonial dengan melalui karya-karya jurnalistik. Minke memilih untuk meninggalkan Surabaya dan pergi ke Betawi [Batavia] untuk melanjutkan pendidikannya di STOVIA [sekolah kedokteran untuk pribumi di Hindia Belanda]. Tulisan-tulisan Minke yang kritis terhadap pemerintah Belanda dan nilai yang buruk menyebabkan ia diusir dari sekolah kedokteran. Kemudian ia mendirikan majalah dan suratkabar pertama yang dimiliki dan dikelola pribumi. Tiga hal yang kerap disuarakan Minke dalam novel ini, meningkatkan boikot, berorganisasi, dan menghapuskan kebudayaan feodalistik.

4. Arus Balik

Untuk Commuters yang menyukai novel berlatar belakang sejarah, agaknya novel Arus Balik milik Pram ini cocok untuk dibaca. Arus Balik menceritakan sebuah kisah yang berbalik setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit. Dahulu, Majapahit adalah kerajaan maritim terkuat di Nusantara. Setelah wafatnya Gajah Mada, Kerajaan Majapahit runtuh dalam perang saudara dan masuknya agama Islam ke Nusantara. Kerajaan-kerajaan yang berada di bawah kekuasaan akhirnya melepaskan diri. Selain kisah peperangan, dalam novel ini Pram pun mengisahkan bagaimana akulturasi budaya masyarakat Jawa yang dahulunya Hindu-Buddha menjadi Islam.

5. Larasati

Novel ini menceritakan pergolakan revolusi di Indonesia pascaproklamasi melalui sudut pandang seorang perempuan bernama Larasati. Larasati berasal dari Yogyakarta yang memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Ia dalah seorang bintang film di masa itu. Pram menggambarkan sosok Larasati seabagai wanita yang keras dan apatis terhadap nasionalisme. Pram tidak hanya menyajikan kisah-kisah heroik kepahlawanan namun juga lengkap dengan segala kemunafikan kaum revolusioner, keloyoan, omong banyak tetapi kosong dari para pemimpin, pengkhianatan, dan kisah percintaan. [][teks @amuspitasari | foto MLDSpot.com & Locita.co]