Arsitek Sekaligus Pencinta Fotografi Musik
Hobi

Arsitek Sekaligus Pencinta Fotografi Musik

by Pohan
Fri, 12-Jun-2015

Fotografer panggung musik asal Malang, Hendy Junindar Prasetyo keluar sebagai pemenang pertama Lomba Fotografi Konser 2015 yang digelar majalah musik Rolling Stone Indonesia, belakangan ini.

Melalui media sosial, Hendy mengunggah beberapa foto karyanya. Salah satunya adalah aksi panggung Teloch, yang dikenal sebagai gitaris Mayhem, band black metal asal Oslo Norwegia. Fotografer ini memotret Teloch yang berpakaian jubah kala tampil di Hammersonic Festival. Jepretan Hendy inilah yang berhasil mencuri perhatian juri. 

Sebenarnya, pekerjaan utama Hendy adalah arsitek di salah satu perusahaan developer di Surabaya.Saat hari libur atau akhir pekan, Hendy lebih sering menghabiskan waktunya untuk bercengkrama dengan peralatan kamera.

Awal mula terjun ke dunia fotografi musik, Hendy masih menjabat sebagai layouter majalah musik lokal Malang. Saat itu ia diminta membantu peliputan acara musik di kota tersebut.

Kejadian yang nggak sengaja itu membuatnya betah sampai sekarang berada di balik lensa kamera. Selain untuk arsip pribadi, ia juga berkontribusi mengisi halaman situs fotografi musik profesional Indonesia, Irockumentary.com dan Themetalrebel.com.

Dua tahun yang lalu, ia sempat menggelar pameran foto tunggal sebagai bukti keseriusannya menekuni dunia fotografi. Berikut wawancara Reporter @pohanpow dengan Hendy melalui WhatsApp:


Sejak kapan motret?
“Sebenarnya dari tahun 1999, tapi sempat berhenti karena nggak ada kamera, lanjut lagi tahun 2008 bareng media lokal. Kalau saya sih, sebenarnya motret musik buat bantu musisi lokal Malang agar dikenal lebih luas, tapi liat dari bandnya juga mau maju apa nggak. Makanya, saya lebih ke ngarsipin dokumen foto ke Flickr yang nggak pernah dilakukan [maybe] fotografer.”

Bagaimana awalnya terjun mendokumentasikan musik [panggung, dll]?
“Awalnya dulu sekitar tahun 2008-an diajak temen gabung di sebuah majalah musik lokal Malang, namanya Commonground. Di situ saya sebagai layouter. Karena kekurangan reporter, akhirnya ikut turun ke lapangan juga sekalian belajar motret dengan kamera pinjeman, dari mulai kamera pocket sampai DSLR. Dari situ keterusan sampai sekarang.”

Apa kamera pertama yang dipakai dan sekarang pakai gear apa?
“Kamera pertama pake pocket Sony [lupa serinya], setelah itu akhirnya bisa nyicil Canon 450D + lensa 18-55mm. KarenA 450D-nya harus istirahat, jadi sekarang pake 70D + lensa fix 50mm F1.4 + lensa fish eye 8mm. Kalau saya megang di luar gear itu, berarti saya minjem.”

Apa yang membuat Hendy betah motret sampai sekarang?
“Kalau dulu karena hobi, sekarang jadi passion. Makanya saya bisa bertahan sampai sekarang dan didukung juga oleh lingkungan saya yang lebih banyak dari kalangan musisi.”

Bagaimana Hendy melihat pendokumentasian musik di Indonesia saat ini?
“Menurut saya masih kurang untuk sekarang ini. Kalo yang mendokumentasikan sih banyak banget untuk zaman sekarang, yang bertujuan benar-benar buat diarsipkan mungkin di web atau di buku kan masih bisa dihitung.”

Jadi bagaimana seharusnya?
“Seperti yang saya bilang tadi, mungkin bisa dibikin pameran, dibuat buku, dll. Nggak hanya motret, pulang, disimpan di hardisk, share satu atau dua selesai, begitu seterusnya. Dokumentasi nggak selesai cuma sampai di situ doang.”

Selain mengunggah foto-foto di internet, apa rencana besar dalam pendokumentasian musik yang sudah terealisasi dan belum?
“Buat saya pribadi dari beberapa yang sudah terealisasi, masih jalan dan yang belum lebih untuk pertanggungjawaban kinerja profesi sebagai fotografer musik, membuat photo story [pengarsipan] dari band-band lokal, memperkenalkan musik/tempat dan kota malang itu sendiri, meskipun nggak bisa mencangkup semua karena keterbatasan waktu dan tempat. Kalau untuk umum, mungkin untuk mengajak hal yang sama atau bahkan lebih, karena untuk foto musik sendiri sangat jarang dilihat yang mengangkat musik lokalnya lewat sebuah foto, lebih milih motret artis/band yang sudah besar.”

Bagaimana Hendy melihat fotografer muda yang sukses, misalnya mereka yang berkesempatan menjadi official photographer band ternama?
"Semua tergantung tujuan. Saya nggak merasa tersaingi. Justru belajar juga dari mereka. Mungkin suatu saat saya ditawarin kesempatan yang sama, jadi bisa tau apa yang harus dilakukan."

Apakah musisi Indonesia peduli akan pendokumentasian?
“Beberapa [yang saya dengar dari cerita teman-teman]. Saya belum bisa bilang keseluruhan, karena saya nggak melakukan riset. Kalau yang saya lihat,  hanya beberapa. Maksudnya beberapa  yang mencangkup all coverage documentation dan membayar fotografer untuk melakukannya.”

Apa solusinya agar fotografer dan para pelaku seni bisa saling bekerja sama?
Kalau yang saya lakukan selama ini sih langsung pendekatan personal ke musisinya. Kalau secara global, mungkin belum.”

Pernah mengalami bosan atau jenuh motret?
“Pernah, kadang-kadang. Tapi jarang sih.”

Apa tips untuk mereka yang baru mulai motret?
“Tipsnya mungkin mulailah dari yang ada di lingkungan kita, tetap explore, bangun karakter, jangan lupakan etika ketika motret [hal sepele yang kadang dilupakan], dan satu lagi, konsisten dengan yang dilakukan. Kalau untuk masalah teknik, bisa learning by doing aja.”

Mengikuti perlombaan foto itu bagian dari belajar fotografi nggak sih?
“Bisa juga, lomba foto kadang bisa membuat kita mempelajari hal-hal baru.”

Pasti senang ya saat diumumin jadi pemenang pertama Lomba Fotografi Konser majalah Rolling Stone Indonesia.  Apa menurut Hendy itu perlombaan bergengsi?
“Pasti senang, setidaknya buat achievement pribadi. Banyak yang protes kayaknya ya, tapi saya menang saja nggak nyangka. Aslinya saya jagoin fotografernya SID, si Guswib. Lumayan bergengsi, karena kompetitornya sendiri banyak dari fotografer-fotografer musik yang hebat dan bagus-bagus apalagi yang mengadakan majalah Rolling Stone.”

Saat memberikan penilaian foto bagus/tidak itu dari segi apa?
“Kalau saya lebih ke momennya, tanpa caption pun foto itu bisa bercerita.”

Setiap unggah foto di internet melakukan pengeditan foto atau tidak? Kalau iya ngedit dengan aplikasi apa yang memang tersedia di Instagram misalnya atau Photoshop?
“Sudah pasti diedit, biasanya pake Photoshop dan Lightroom.”

Bagaimana soal penggunaan hashtag #makeportraits di akun IG Hendy?
“Itu awalnya saya pake hashtag #makeportraits buat project saya, mau buat buku isinya foto-foto portrait. Saya senang liat dan mengambil foto ekspresi orang-orang dari mulai sekitar saya, backstage, foto band bahkan sampai live perform.

Bukunya lagi digarap?
“Belum, masih ngumpulin foto-fotonya. Yang lagi digarap buku photo story- nya Houtenhand Coffee and Beer House di Malang [tempat showcase band Malang. Band-band luar malang saat tur pun gelar pertunjukan di sana bahkan internasional].”

Pertanyaan terakhir nih. Kalau hari ini adalah hari terakhir motret, siapa yang ingin sekali Hendy abadikan dan sebutkan alasannya!
“Wah... ini susah [mikir keras]. Sebenarnya kalau bisa band-band black metal Norwegia, tapi kalau disuruh milih salah satu, saya milih motret all coverage konser Dimmu Borgir full orchestra. Karena band ini,  awal membuat saya suka dengan black metal. Dan pas liat konsernya dengan full orchestra di DVD sangat pengin ikut mengabadikan juga.”

foto dok. Hendy Junindar Prasetyo

Twitter/Instagram: @hendisgorge
Facebook: Hendisgorge Junindar Prasetyo
Blog: http://hendisgorge.wordpress.com/
Portfolio: http://projeqt.com/hendisgorge
Archive: https://www.flickr.com/photos/hendisgorge/collections/