ICON Grunge Lokal: Che Cupumanik dan Robi Navicula
Icon

ICON Grunge Lokal: Che Cupumanik dan Robi Navicula

by Pandu
Mon, 11-Jan-2016

Matahari masih tinggi ketika saya duduk di bangku depan kedai Filosofi Kopi, Blok M. Perlu melihat jam untuk sekadar tahu pukul berapa itu. Karena ruko yang menjulang menghadang kemilau surya sampai di aspal. Saya lagi menunggu dua kawan yang sedang dalam perjalanan dari Sarinah ke Blok M.

Sementara itu di dalam mobil yang menuju Blok M, Lala --satu-satunya perempuan di situ-- sekaligus yang mengatur jadwal interview mengirim pesan kepada saya, pukul 16.37, “Otw dari Sarinah.”

Hari itu Jum'at, tanggal muda pula, pasti Jakarta kalap. Dilalap oleh banjir kendaraan di jalanan. Pikir saya, mereka akan tiba pukul 19.00. Sebelum Kopi Tiwus di meja itu dingin, saya sesap saja mumpung nikmat sembari melamun.

Melamun tentang kota Aberdeen --daerah suburban Seattle-- yang sepi tanpa riak pergolakan, beda dengan Jakarta. Jalanan macet, banjir, ditambah penguasa korup. Tapi dari kota kecil pinggiran itu lahir anak kecil yang kemudian menyelamatkan Kerajaan Rock N' Roll dari karam. Karena industri musik dikuasai oleh lelaki-lelaki androgini yang gemar bersolek. Baik sebagai rocker atau boyband.

Anak itu, Kurt Donald Cobain yang kemudian tumbuh jadi pria yang menginfluensi seluruh dunia dengan genre rock baru yang disebut Grunge. Supremasinya bahkan sampai mengganti kosakata ‘Never Mind’ [lupakan] menjadi Nevermind di kamus bahasa Inggris per tahun 1993. Kosakata baru tanpa spasi, berkat album kedua Nirvana Nevermind yang ludes dari pasar 250.000 kopi dalam empat hari.

Jauh dari Seattle, di tahun yang sama, di Bali dan Bandung. Dua kawan saya yang belum kenal satu sama lain juga terbius oleh wabah grunge yang menular. Entah bagaimana, ketika mereka mendengar musik grunge pertama kali, langsung klik. Keduanya juga lalu ikut membentuk band grunge sampai kini di Indonesia.

Secara tidak sadar, integritas mereka mengusung grunge di kepal tangan dan dasar hati. Membuat keduanya jadi ikon dari musik eksponen Generasi X di ranah lokal. Mereka adalah Che Cupumanik dan Robi Navicula yang tiba-tiba muncul di depan muka, tentu saja dengan Lala. Jalanan tumben lengang, kata mereka. Jadi cepat sampai sebelum malam.

Kopi Tiwus punya saya jadi punya teman di meja, Kopi Lestari dan kentang goreng. Lalu kami duduk di bangku kecil tengah trotoar. Berbicara tentang grunge, komunitas, sejarah, band dan lain hal.

Gue mulai dengan pertanyaan, apakah grunge lokal sudah mati?

Che: Orang yang mengatakan itu berarti delusional. Pasti dia kebanyakan tidur atau mabuk. Grunge lokal sudah punya catatan sejarah yang gila. Bisa main di event musik dalam atau luar negeri. Bahkan sampai main di skala internasional, misal, Java Rockin’ Land. Belum lagi di Facebook, ada banyak komunitas yang mengatasnamakan grunge. Belum lagi, Eko [Wustuk] berinisiatif membuat dua buku tentang grunge.

Robi: Grunge itu kan bisa dibilang genre baru di tahun ‘90. Seperti genre-genre lainnya, ia akan selalu muncul. Berotasi. Siapa bilang punk atau stoner rock mati? Genre-genre tahun ‘70, sekarang mulai bangkit lagi. Motown dan swing. Sekarang pun mulai muncul band grunge baru. Alain Johannes misalnya. Grunge telah jadi bagian dari Kerajaan Rock N' Roll yang besar. Nanti pasti berjaya lagi.

Menurut kalian juga, kenapa grunge Indonesia mandek? Karena dalam beberapa tahun terakhir yang muncul ke permukaan hanya Cupumanik, Navicula, Besok Bubar. Sisanya jadi pengekor dari Seattle Sound [Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden, dll].

Che: Gue akuin, untuk itu emang grunge kena fenomena “L4”. Lo Lagi Lo Lagi. Fenomena ini penyakit, tapi perlu ada. Biar ada yang terpecut, supaya nggak “Lo Lagi Lo Lagi”. Jadi L4 ini pe-er bersama [Komunitas Grunge] supaya nggak itu lagi band-nya. Biarlah dihujat atau apapun asal ke depannya jadi baik.

Robi: Hmm.. Kalau dicari sebetulnya banyak, karya-karya atau band yang bertebaran. Di ranah lokal pun, termasuk yang paling banyak pakai atribut-atribut grunge. Gigs di sini pun nggak sungkan jika harus spesifik untuk band “grunge”. Ketimbang di Amerika, misalnya. Tapi ketika kita ngomong industri musik, berarti kita juga ngobrol soal aspek bisnis. Berarti skena grunge dalam hal itu dianggap belum bisa menghasilkan uang. Sementara yang muncul ke permukaan, band yang punya kesadaran enterpreneur tinggi. Karena grunge adalah idealisme, berkarya itu kreativitas, sedangkan industri enterpreneurship. Idealisme masih ada, passion masih hidup, dengan bikin lagu terus lalu album. Tapi enterpreneurship yang kurang. Ketika melihat Grunge ini mandek, dari kacamata mana? Idealisme-kah? Passion? Atau enterpreneurship? Kalau aku lihat dari segi enterpreneurship-nya.

Oke, dulu itu Navicula pernah masuk Major Label, Sony BMG. Kalau Cupumanik, Che?

Che: Dulu itu kami, Aquarius.



Bagaimana bisa dulu itu, kalian mulai ditengok oleh major label, selain karena industri waktu itu mau melirik genre sidestream. Lalu bergolak, dan menoleh ke Melayu sebagai penyelamat. Hingga sekarang terjun payung.

Robi: Waktu itu ‘kan Bali lagi dilirik tuh. Kebetulan, aku satu manajemen sama SID. Jadi setelah itu Navicula. Kebetulan timing-nya pas dan kami dapat momentum. Saat itu juga kami sudah siap. Kalau belum siap nggak mungkin diambil. Siap nggak siap, kami maju. Hahaha.

Che: Gue dulu malah mau independen. Dulu itu lagu “Maha Rencana” Cupumanik masuk majalah indie di Bandung. Kebetulan Aquarius langganan majalah itu. Naksir lah mereka. SONY juga sempat menawarkan kontrak. Tapi terlalu lama dan berlarut. Jadi kami putuskan ambil tawaran dua album dari Aquarius.

Dulu ketika kalian merambah major, skena bawah tanah menentang kalian nggak?

Che: Gue mengalami dulu di Bandung. Karena memang begitu kulturnya, SKA booming, hero-nya masuk major langsung dicaci atau dihujat. Tapi percuma, biarpun major, gue tetap mainnya di acara-acara indie terus. Hahaha. Akhirnya hujatan itu mereda.

Robi: Kalau aku nggak dapat itu. Hahaha.

Beruntunglah kamu, Rob. Hahaha. Dulu itu apakah sudah ada skena grunge? Kalau nggak ada kalian masuknya lewat metal atau punk?

Robi: Sudah ada dulu itu skena grunge. Sebelum masuk SONY, Navicula sudah berinteraksi dengan skena grunge Jakarta. Tapi memang seperti antara ada dan tiada.

Che: Nah itu, antara ada dan tiada. Kenapa Robi menyebut ada dan tiada? Karena memang grunge itu sifatnya sub-genre.



Karena setelah baca-baca, gue nggak menemukan satu gigs yang benar-benar dibuat khusus untuk band grunge. Misal, Grunge Vol. 1 atau Grunge Never Dies Vol. 1..

Che: Di Bandung itu dulu ada yang namanya Grungy. Gigs yang memang acara grunge. GOR Saparua yang selalu jadi rumah skena metal pernah penuh oleh atribut grunge. Bandung pernah membuktikan itu, 32 band grunge main.

Kalau misalnya di 2015, grunge cuma disebut mitos atau legenda dari tahun ‘90-an. Menurut kalian gimana?

Robi: Kalau disebut mitos berarti kan ndak ada bukti-bukti tertulis. Hahaha. Tapi kan ini ada buku, film, albumnya juga..

Che: Oke maksudnya apakah di 2015, grunge sudah jadi mitos? Jangankan disebut mitos, grunge dibilang nostalgia aja gue tidak terima. Hey, gue sama Robi masih di sini, di tengah kancah peperangan grunge. Jangankan mitos, nostalgia aja tidak. Kami masih menghidupi ini. Dengan adanya buku Rock Memberontak, juga menguatkan skena itu. Bahwa skena grunge lokal telah didukung literasi.

Dulu gue menangkapnya, anak-anak grunge adalah pemuda ignorant yang menyerah pada kemapanan. Lalu kalian berdua datang mengubah penilaian itu. Robi selalu bicara tentang isu lingkungan. Che berteriak tentang hukum. Bagaimana bisa jadi seperti itu?

Che: Pertanyaan itu tentang ketidakmampuan manusia sebetulnya. Contohnya gini, Kurt Cobain ingin seperti The Melvins, tapi dia nggak mampu. Ketidakmampuannya itu dicampur pengalaman, kepribadian, dan pengetahuan, jadilah Nirvana. Paul McCartney, bilang The Beatles adalah campuran Elvis Presley dan Chuck Berry. Mereka tidak bisa menyamai inspiratornya. Dari ketidakmampuan itu lahir sesuatu yang baru. Gue akui tidak bisa seperti Nirvana atau Pearl Jam. Tapi gue bersyukur dari ketidakmampuan itu lahir Cupumanik. Ketidakmampuan Navicula dan Cupumanik jadi seperti mereka, adalah kelebihan. Tumbuhlah kami di sini, jadi sesuatu yang baru.

Robi: Ya, Radiohead juga bilang kalau mereka nyontek album Nevermind-nya Nirvana. Tapi hasilnya malah begitu, beda jauh. Karena mereka nggak mampu. Hahaha. Lagipula kalau nulis lirik, paling gampang itu nulis yang kita tahu. Kerjaan aku di luar musisi, mengurusi LSM dan aktivisme. Jadi cuma data-data yang aku tahu. Hahaha, itu saja yang dijadikan lirik. Daripada mengarang. Tiap hari di meja makan selalu ngobrolin isu lingkungan, karena keluarga aku aktivis. Jadi ya itu saja dijadikan bahan. Dapat gosip baru dijadikan lagu. Hahaha.

Che: Nah itu yang nggak gue dapat, makannya kami berbeda.