Icon Grunge Lokal: Che Cupumanik dan Robi Navicula Part II
Icon

Icon Grunge Lokal: Che Cupumanik dan Robi Navicula Part II

by Pandu
Fri, 05-Feb-2016

Catatan Redaksi:

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari artikel bertajuk ICON Grunge Lokal: Che Cupumanik dan Robi Navicula.


Malam makin menghitam, trotoar depan kedai kopi itu kian banyak dilalui oleh mereka yang pulang kerja atau belanja. Beberapa dari mereka menengok ke arah tempat kami duduk, kaget mungkin mendengar tawa kami yang keras, akibat candaan vulgar Robi. Wanita-wanita karier itu lewat sambil bisik-bisik. Lalu ketawa girang, habis ketemu artis idola.

Artis idola yang saya maksud bukan Robi atau Che. ‘Pasar’ mereka berdua, bukan wanita-wanita karier. Che sempat menyebut di sela obrolan, groupies cewek di skena grunge tidak secakap skena lainnya. Tapi Robi tidak menyetujui itu. Wanita-wanita tadi menengok karena di meja sebelah kami ada Rio Dewanto yang sore itu juga ngopi di kedai yang sama, sepertinya berbicara tentang bisnis atau projek sinema berikutnya. Yeah, tentu saja dia ada di situ, Rio adalah salah satu pemilik kedai Filosofi Kopi.

Ketika kupu-kupu malam restoran Jepang sedang bersolek untuk berkeliaran di Melawai. Eko Wustuk dan temannya, Gede Manggala ikut duduk di meja. Memesan kopi hitam dan mengobrol bersama. Meneruskan icon grunge lokal yang kemarin bersambung..

Dulu itu kan arus informasi tidak seluas sekarang. Di era keemasan Grunge, Orba juga sangat represif. Gimana caranya kalian bisa dapat info tentang grunge?

Che: Gue ketolong sama temen gue yang pindah ke luar negeri. Ikut orangtuanya yang bercerai dan kawin sama orang bule. Sering bolak-balik sekitar tahun ’90-an. Waktu itu gue masih gila GN’R dan dia yang ngevaksin gue dengan Grunge. Tiba-tiba pulang punya tattoo Pearl Jam dan bilang, “Nih Che, lu dengerin Pearl Jam.” Sampai sekarang gue merasa berhutang budi sama dia.

Robi: Dulu waktu formasi awal banget, ada drummer kami, Ochenk. Dari dia dapet merchandise segala macem karena pacarnya orang Jepang, Yumeko. Terus ada temenku dulu yang tahu internet. Aku tanya-tanya ke dia lirik-lirik bahasa nyamuk. Hahaha. Abis “Nevermind” itu kan liriknya nggak lengkap. Kalau album punk-punk lama, dulu [Rudolf] Dethu itu yang koleksi, terus aku pinjam.

Kalian punya waktu magis ‘gitu nggak? Waktu ketika ide untuk berkarya itu muncul tiba-tiba..

Che: Jam magis gue itu menjelang deadline sama habis bikin dosa, apapun jenisnya.

Robi: Lagi bok*r sama naik motor. Kalau di mobil lebih sering dengerin musik soalnya. Sejak nikah ‘kan ada negosiasi lagu apa yang diputar, hehehe. Jadi mobilku adalah studio berjalan buat dengerin lagu, biar nggak ganggu istri.

Gue juga agak kurang setuju jika menjadi grunge atau bahkan punk sekalipun, sekadar lewat fashion statement. Pakai flannel lalu grunge. Rambut mohawk disebut punk..

Robi: Industri musik dan industri fashion sudah lekat. Jika kita ngomong Sex Pistol, kita akan ngomongin juga Sex Boutique punya Malcolm McLaren. Sepatu Doc Marteen dipopulerkan oleh siapa, lalu jaket kulit juga. Saat ini semua sudah tercampur. Generasi DJ sudah semua musik diblender begitu aja. Itu sebabnya kita mencintai rock n’ roll karena bagi kita indah, dan biarlah seperti itu. Bagaimana generasi sekarang mengintepretasinya, ya terserah. Aku masih suka ’90-an.


Mungkin pertanyaan ini terdengar klise, tapi perlu. Selama ini ada yang menghalangi kalian untuk tetap grungy?

Che: Kalau menghalangi, hmm bahkan label gue sendiri [Aquarius] melakukan itu. Kami punya kontrak dua album yang terputus, karena secara literally mereka minta kami bikin musik kayak Peterpan. Jujur kalau pun diminta, gue juga nggak bisa mainin musik kayak mereka atau Dewa 19. Karena referensi musik kita kan juga berbeda. Itu yang menyebabkan gue bercerai dengan mereka.

Robi: Atau bikin aja kolaborasi antara Pearl Jam sama Peterpan jadi Peter Jam, hahaha.

Dankie sempat menyambut Silampukau di Rolling Stone Café dengan bilang “Selamat datang di industri musik yang berdarah-darah.” Kalian masih berdarah-darah sampai saat ini?

Lala: [nyeletuk] Made literally mengalami berdarah-darah, waktu lompat ke crowd pas manggung di Radio Show. Pas obat biusnya abis, langsung aduh-aduh, hahaha.

Che: Gue jelas ngalamin, sampai hari ini gue masih berdarah-darah. Penggemar gue belum menggelembung seperti yang gue inginkan. Sampai hari ini aja, semua kami lakukan mandiri. Sampai sosial media aja gue yang pegang pakai handphone ini. Masih berusaha untuk bisa produksi album baru. Juga job manggung yang terus dikejar..

Robi: Ya sampai saat ini aku masih berdarah-darah, masih berjuang.

Yang bener??

Robi: Iyaaaa.

Yang beneeeerrr?? Hahaha..

Robi: Iyaaaaaa bener. hahaha. Maksudnya itu, kita ‘kan step by step. Kita selalu ingin merealisasikan ide-ide baru supaya berkembang. Nah untuk mencapainya itu kita pakai jalur yang bisa dibilang berbeda dengan industri umumnya.

Lala: Karena faktor x jadi sebuah band besar itu banyak, Ndu. Kalau sekadar untuk jadi mapan itu gampang. Misalnya, tiket sudah jelas ditanggung panitia berangkat atau pulang kapan. Tapi kalau kami inginnya cari tandeman, jadi pas main ke Jakarta, bisa mampir juga di Bandung. Jadi sekali jalan bisa mampir-mampir. Ini dari sisi manajemen ya. hahaha.

Robi: Kerjanya jadi lebih ekstra kreatif. Kere tapi aktif, hahaha.

Che: Tapi kalau gue perlu berdarah-darah gitu. Karena gue setuju sama yang dibilang Jack White, ketika lo percaya sudah punya duit, bisa mendapatkan semua yang lo mau, saat itu kreativitas lo mati. Terlalu nyaman di comfort zone. Kayak kemarin gue ke Bali untuk bikin lagu bareng Robi, itu masih blank apakah akan ada lagu yang tercipta atau tidak. Lagunya kayak apa, kita nggak tahu. Apalagi akan bagaimana nantinya, karena nggak ada label juga. Berdarah begini perlu. Yang penting itu faith! Tapi gue inginnya lebih banyak bengong di kamar sih, hahaha.

Robi: Band-band kayak kami semua sama: sama-sama punya semangat DIY [Do It Yourself]. Tapi kita sekreatif mungkin harus berkolaborasi, karena Do It Together [DIT] ‘kan. Selain bagi-bagi beban, dua hal itu juga kan bagian dari Punk Rock Attitude.

Che: Seandainya nggak ada berdarah-darah itu tadi, gue nggak yakin mau melakukan itu.

Robi: Semangatnya beda. Sawung Jabo cerita, waktu pertama kali lihat videoklip “Tatap Muka” yang kami buat. Dia bilang ‘gini, “Gila ya, band yang biasa gulung kabel atau set up alat sendiri, begitu mereka main, itu beda!” Jadi kalau band yang sudah biasa dari hal nol, waktu main juga rasanya berbeda. Ada jiwa yang ikut bermain di situ. Value-value yang terpakai di industri itu adalah produk yang kamu tahu story-nya. Di dunia seni musik itu nggak ada yang instan! Kamu datang langsung fame? Tidak ada story, tidak ada juga value di dalamnya. Merintis dari bawah, berdarah-darah tadi, capek nggak punya duit, semua itu [berharga]. Aku punya gitar pertama itu tahun 2003. Dari '96, setiap mau manggung, aku keliling Denpasar cari pinjaman. Rekaman album pertama kedua itu minjam, ndak punya gitar.

Che: Etos melawan keterbatasan itu penting dan berdarah-darah dibutuhkan.


Seandainya integritas kalian nggak setinggi itu, pastilah jaman sudah menelan kalian..

Robi: Kita membaca history yang sama dari para idola lewat The Year Punk Broke [1991] atau Heavier Than Heaven. Apakah Nirvana langsung dapat platinum begitu saja? Nggak. Mereka sampai ikutan turnya Sonic Youth. Mereka keliling naik Dodge di belakang bisnya Sonic Youth. Di sini aja Dodge keren, di sana sama aja kayak naik mobil Carry, hahaha.

Che: Orang-orang taunya Cobain cuma sosok depresif yang gila mabuk. Padahal otak marketing-nya dia itu jenius. Cobain sampai jadwalin jam berapa dia telepon untuk request lagu Nirvana diputerin di radio-radio.

Pernah terlintas di pikiran kalian untuk pensiun menjadi grunge? Karena masa pun sudah berubah..

Che: Kalau buat gue, grunge itu blueprint gue. Meskipun gue dengerin musik apa aja, yang gue makan dan lahap. Kayak misalnya gue sekarang dengerin Stoner, [tapi tetap] grunge nggak tergantikan, belum hilang.

Robi: Sama sih, aku juga. Habis mau gimana ya. Aku suka semua musik. Tapi soal selera dan influensi awal, ya grunge. Bahkan musik metal modern pun macam Mastodon kalau dicek influensinya di Wikipedia ya The Melvins. Se-Mastodon pun lho ya. Makanya aku suka Mastodon, soalnya ada unsur Melvins-nya. Drone-drone gitarnya itu kan Melvins banget. Queen of The Stone Age juga. Itu gila. Rock baru yang lepas dari Dave Grohl siapa? Dave Grohl itu kalau di dunia hip-hop udah kayak Timbaland.

Oia, gue suka tuh yang undangan 1.000 musisi dari Italia mainin “Learn To Fly” supaya Foo Fighters mau konser di sana..

Che: Tapi manajemen Pearl Jam menyarankan untuk tidak melakukan itu. Mereka tidak merekomendasikan. Karena pertimbangan konser bukan itu. Nggak perlu repot-repot, daripada kecewa. Apalagi Nirvana kalau masih hidup..

Gue pikir pertimbangannya kalau band luar asal negara itu aman, ada fan base plus bayaran oke, konser bisa digelar.

Che: Di buku Heavier Than Heaven, manajer Nirvana bilang Kurt Cobain lagi tajir dan nggak mau manggung di mana-mana. Padahal mau bangkrut karena ketergantungan sama heroin!! Dia terima tawaran bikin konser di Indonesia, 12 Milyar. Waktu itu kurs dollar masih 2.000. Gila! Kebayang kan kalau dia nggak wafat dan jadi main di sini..

Robi: Iya, makanya dia bisa punya rumah di kawasan elit. Tinggal di Washington Boulevard berarti tetanggan sama wakil presiden Amerika dia.


Gue baru tahu fakta 12 Milyar tadi, karena di film Kurt Cobain About A Son [2006], Cobain bilang akan pensiun dari bermusik setelah masa rehabilitasnya selesai. Dia hanya akan nge-band untuk pribadi dan anaknya. Bukan komersil.

Che: Memang, tapi karena diimingi duit 12 milyar tadi, Cobain setuju. Tinggi lho bayaran band segitu di tahun itu. Jadi kalau ada yang pakai kaus Cobain, ngatain kalau [bayaran] gue dan Robi itu mahal. Padahal idola lo yang di kaus itu megastar komersil gila, hahaha..

Robi: Dan aku yakin, mereka masih bisa hidup dengan royalti-royalti dari Nirvana. Bahkan sampai keturunannya juga. Album Nirvana itu sudah terjual 130 juta kopi sekarang dan Nevermind dijadikan National Treasure-nya Amerika. Gila!!

Che: [Tahun 2014] Si Courtney ribut sama Dave Grohl itu karena Courtney jual katalog album Nirvana sampai 50 juta dollar, kalau nggak salah. Cardigan emak-emak yang dipakai Cobain pas di Unplugged itu aja tembus 2 Milyar pas dilelang sama Courtney Love.

Eko Wustuk lalu ikut memberi pertanyaan pada Che dan Robi.

Eko: Seandainya Kurt Cobain nggak mati dan Nirvana masih ada, kira-kira musik mereka ke mana sih?

Robi: DANGDUT KOPLO! Hahaha. Karena dia akan ke Indonesia jadi tetangga di Ubud cuma eat, pray, & love. Hahaha. Sampai dulu, Bali Total Grunge aku diminta bikin pengantar, aku buat aja asal sesuai imajinasi. “Kurt Cobain tidak mati, dia sekarang tinggal di Bali dan mengubah nama jadi Ketut Cobain.” Aku ngawur-ngawurin aja, hahaha.

Che: Kalau dijawab secara ilmiah, Kurt Cobain waktu itu pernah ngobrol sama personel band lain, dia nanya, “Musik lo kayak gimana sekarang?” Dijawab ada unsur orkestranya. Nah itu yang dia mau, nambahin unsur orkestra di musiknya. Gue baru baca bukunya Austin Kleon, Steal Like an Artist. Di situ dia bilang, musisi yang sukses sekarang itu karena mereka nerusin ide-ide gila musisi yang sudah mati. Misalnya kayak Cobain yang sudah mati, itu ditelusuri influensi musik sampai literasinya. Habis itu diprediksi kira-kira musik saat ininya bagaimana. Menurut gue kejeniusannya Daniel Johns di album Silverchair yang Diorama, dia meneruskan cita-citanya Cobain yang nggak kesampaian untuk album keempat.

Robi: Di Neon Ballroom [1999] juga mulai pakai orkestrasi.

Gue pernah menulis tentang kematian Cobain sih, jika dia tidak menjadi martir, maka dia nggak akan ada era industri musik seperti sekarang..

Che: Dulu sebenarnya ketika Cobain memuja-muja Melvins ya, gue nggak masuk sama musiknya. Butuh empat atau lima tahun baru sadar, pantesan Cobain demen banget sama Melvins ya. Anj*ng.. emang butuh daya lihat untuk dengerin Melvins. Gue agak maksa dulu, apa sih enaknya? Karena Melvins itu masuk kategori selebnya selebritis. Seleb yang nge-fans sama dia.

Robi: Istriku aja paling bete dia kalau aku muterin Melvins. Pusing dia bilang. Kalau lihat konsernya Melvins yang headbang itu personelnya Pantera, orang-orang gila. Melvins itu sama kayak Bjork atau Beck.

Che: Gue kemarin baru abis diskusi sama Robi soal grunge lokal, bahwa banyak yang suka sama Cobain tapi nggak bisa menangkap sesuatu yang catchy dari Nirvana. Cuma ingin keras dan berkarat, tapi nggak bisa nge-pop kayak The Beatles. Gimana Rob? Coba kamu jelasin teorinya.

Robi: Aku lupa... hehehe.

Che: Hahahahaha. Jadi ada tiga frekwensi, yang di atas banget itu Melvins, di tengah-tengah Nirvana, dan dibawahnya itu Pop. Makanya Melvins itu bukan konsumsi massal.

Robi: Nevermind itu album pop. Kejeniusannya Cobain bisa meramu musik rock tetap dalam jalur pop. Makanya albumnya bisa meledak.

Karena Nevermind itu meledak, jadi banyak pintu yang kebuka untuk band punk dan grunge. Bukan cuma band Seattle aja yang dibantu, tapi juga band 924 Gilman Street..

Che: Mulut sampahnya Cobain kenapa selalu bisa diterima? “Pearl Jam, gue yang bukain pintu, elu tinggal enak-enakan aja jalan.” Sebenarnya dia nggak perlu bilang ‘gitu. Tapi siapa yang bisa bantah? Mulutnya emang kotor, tapi dia memang begitu. Sampai dia bilang Pearl Jam band komersil, karena Cobain merasa PJ nggak berdarah-darah.

Robi: Dulunya ‘kan yang dijagoin sama Sub Pop itu Soundgarden. Tapi yang meledak malah Nirvana. Semua band yang terpengaruh sama [Generasi X] ’90-an kalau nggak ada Nirvana sekarang nggak bakal jalan. Greenday, Radiohead, atau 30 Second To Mars, kalau nggak ada Nirvana ya mereka nggak ada. Muse bahkan bilang kalau nggak ada Nirvana, ya nggak ada Muse. Makanya rock jaman sekarang itu aku yakin pasti terpengaruh sama mereka.

Pearl Jam atau Nirvana?

Che: Anj*ng, kaki gue ada di dua-duanya. Hmm.. gimana ya. Buat gue keduanya itu dwitunggal yang nggak bisa dipisahin. Gue ngelengkapin deh, kalau Robi pilih Nirvana, gue pilih Pearl Jam.

Robi: Aku pilih Nirvana. Sebenarnya aku lebih suka Soundgarden atau Melvins. Tapi yang bikin aku nge-band itu Nirvana. Tanya Lala, di studioku, poster paling gede itu Nirvana. Karena aku berhutang budi sama mereka. Nirvana yang memicu [sub-kultur] ini dan Pearl Jam yang membawanya tetap langgeng. Sekarang orang tetap dengerin grunge ya karena Pearl Jam.



*****

EPILOG

Grunge barangkali tidak lagi diperhitungkan. Tidak lagi bisa menjual di ranah internasional. Tidak lagi dianggap eksis. Sekadar nostalgia atau cerita lalu, terserah. Tapi perlu dipahami agar tidak sesat, grunge berbeda dengan alternative rock. Karena band Seattle tidak memainkan musik Nickleback.

Grunge lahir dari rahim punk yang ketika itu mulai mapan dengan skenanya di tahun ’80-an. Bermain dengan ketukan cepat ala Bill Stevenson [Black Flag dan Descendents] dan menjerit tidak karuan seperti Ian McKaye [Minor Threat]. Berambut mohawk, memakai jaket kulit, pin dan spikey pun telah dipoles oleh kapitalis industri fashion jadi sebuah tren. Maka jika kembali ditengok ke belakang, grunge pernah ada untuk menantang kultur mapan punk.

Obrolan kami selesai oleh pilihan Nirvana atau Pearl Jam. Sebenarnya ada banyak gagasan yang masih bisa digali dari Che dan Robi. Tapi kami menyerah oleh perut lapar, yang meronta ingin diisi Soto Betawi yang gurih dan Es Jeruk yang segar di pelataran Blok M. Ngobrol tapi lapar, mana enak, ‘kan?

Ada dua pertanyaan mendasar yang saya urung tanyakan pada Che dan Robi. Kenapa? Sederhana, karena itu adalah pertanyaan yang musti dijawab oleh kalian yang membaca ini.

Terakhir, grunge itu apa? Dan, haruskah menjadi grunge itu berarti menjadi kucel? [][teks @HaabibOnta | foto Adi Tamtomo]