Motret Sampai Buta
Interview

Motret Sampai Buta

by Pohan
Fri, 13-Nov-2015

Dulu harga jual kamera profesional cukup tinggi. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memilikinya. Bahkan sampai ada yang membeli kamera di luar negeri. Fotografer era ini bersyukur karena ada banyak kemudahan untuk bisa memiliki sebuah kamera.

Fotografi memang bukanlah hobi semata. Sebagian orang menyebutnya profesi, atau lahan berkarya. Pria kelahiran Kisaran 30 Juli 1979, Yose Riandi cukup lama berkecimpung di dunia fotografi khususnya foto panggung. Ia menganggap fotografi bagian dari hidupnya.

Yose memulai karier sebagai fotografer saat magang di majalah NewsMusik 13 tahun yang lalu. Tanpa panjang lebar, simak yuk wawancara Reporter @pohanpow bersama pemilik akun Instagram @extrajose_ via WhatsApp di bawah ini:

Pertama kali lo nyebur ke dunia foto panggung kapan dan gimana ceritanya?
"Foto panggung sih gue mulai nyebur awalnya dari magang di majalah NewsMusik tahun 2002. Tapi kalau kenal kamera sejak tahun '98, ikutan basic training photography yang diadain sama UKM fotografi kampus. Tapi setelahnya, gue nggak pernah moto sampe tahun 2002. Sementara gue kayak baru mulai lagi, temen-temen gue yang bareng ikutan basic training udah pada mentas semua. Ada yang jadi pengurus UKM-nya, dapet job moto wisuda."

Berarti mulai aktif 2002 sampe sekarang?
"Iya...begitulah kira-kira. Apalagi kalo ada kegiatan di kantor atau acara temen atau ada temen wisuda, gue kebagian moto. Sampe saking seringnya motoin temen wisuda, jadi kepikiran, giliran gue wisuda siapa yang motoin ya?"

Maksud gue, lo aktif foto panggung sejak kapan yang sampe sekarang ini?
"Ya dari 2002 itulah. Tapi ya terhitung masih jarang karena di Semarang jarang acara musik. Paling pernah sebulan penuh tahun 2003. Tiap hari, tiap malam gue moto di panggung musik PRJ diajak sama orang-orang yang di tempat gue magang dulu. Selebihnya, ya paling acara kecil-kecilan gitu pake kamera digital pinjeman."

Lo hijrah ke Jakarta kapan? Apa lo aktif motret pas di Jakarta?
"Setelah 2003, gue itungannya sih termasuk sedikit aktif moto di Semarang. Gue pernah ke Java Jazz, tapi gue lupa tahunnya. Trus, ke Soundrenalin di Yogya juga, Jakarta Rock Parade. Setelah gue ke Jakarta tahun 2011, baru lah motret jadi aktivitas sehari-hari. Tapi gue nggak pernah nyebutnya bekerja ya untuk moto, tapi gue bilang berkarya."

Apa yang membuat lo bertahan di dunia foto panggung?
"Gue suka banget sama aktivitas panggung. Gue suka kagum ngeliat mereka, menghasilkan karya dan kemudian mementaskannya karena gue nggak bisa maen musik atau berteater atau menari. Gue penikmat aja."

Selain motret, 'kan lo ini buat artikel juga ya. Nah gimana tuh? Sejak awal apa karena untuk sebuah keperluan akhirnya moto dan nulis artikel juga?
"Semuanya berawal dari magang itu. Awalnya, gue mau nyeriusin moto tapi karena dari kampus harus ada pertanggungjawaban dalam bentuk artikel, jadinya gue juga nulis. Tapi nasehat orang yang menurut gue jadi mentor gue waktu magang yang bikin gue jadi jalanin dua-duanya, namanya Dion Momongan."

Apa tuh isi nasehatnya?
"Dia bilang, lo jangan cuma bisa moto atau nulis doang, biar bisa kepake semuanya. Dan terbukti nasehatnya kalau ngeliat kondisi lapangan yang kadang bisa liputan cuma dapat 1 ID karena kalau emang gue liat juga kadang fotografer lemah di penulisan bahkan untuk caption."

Menurut lo, seberapa penting fotografer juga harus bisa penulisan?
"Memang, nggak semua orang bisa multi-tasking termasuk gue juga masih terus belajar. Bagaimana 'membelah' otak ketika ada di lapangan. Gue kerap lupa momen atau omongan yang menurut gue penting untuk dimasukkan ke tulisan karena harus fokus juga moto. Tapi menurut gue, penting juga menulis karena seingat gue, pernah nulis di Facebook atau Twiter, 'sebuah gambar atau foto memiliki jutaan tafsir, tulisan mempersempit atau mengarahkan maknanya'. Gitu kalau nggak salah dulu gue nulis."

Apa kamera pribadi pertama lo dan apa gear yang lo pake sekarang?
"Gue lupa serinya yang pasti Canon tapi masih pake film tapi udah otomatis serinya. Kalau nggak salah, EOS 888. Sekarang gue pakenya Canon 550D sama 60D."

Kenapa sampe dua kamera gitu? Apa masing-masing punya fungsi yang beda dan lo punya berapa lensa?
"Awalnya, gue cuma punya satu kamera yang 550D tapi karena sering dipake akhirnya dia ngadat dan harus 'turun mesin' dan pas banget sama lagi banyak liputan. Jadi, mau nggak mau gue harus punya kamera lagi buat ngedukung di lapangan. Tapi setelah punya dua kamera, gue setidaknya nggak bakal kehilangan momen sebanyak pas kamera satu karena harus gonta ganti lensa. Jadi, satu kamera buat tele yang satu lagi wide. Gitu gue pembagiannya, lensa sejauh ini nyicil-nyicil gue udah punya 5."

Apa lensa favorit lo?
"Lensa Canon 10-22, sering gue pake di tempat kecil. Udah beberapa kali kepukul tuh lensa karena nekat 'nyebur' di antara orang yang lagi crowd surfing."

Selama motret panggung yang paling berkesan ketika lo motret siapa?
"Wuaduuuh siapa aja ya? Banyak banget dah. Mungkin foto David 'Naif' nyium tangan almarhum Murry, drumer-nya Koes Plus [lihat foto di atas artikel ini] karena itu pertama kali dan terakhir gue motret Murry. Gue nyesel pas Koes Plus konser yang ada Murry untuk terakhir kalinya gue nggak dateng. Satu lagi waktu acara peluncuran buku kumpulan cerpennya Djenar di GBB. Semua orang yang gue kagumi karyanya ada di satu panggung: Kartika Jahja, Anda, Bonita and the Husband, Aksan, Oppie, Iwa K, Dee. Motret di acara rutin Indonesia Kita yang dibikin Agus Noor sama Butet juga berkesan. Di situ gue bisa mengenal banyak ragam budaya dan seniman dari berbagai daerah. Dari situ gue bisa kenal Didik Nini Towok, Ayu Laksmi, Jogja Hiphop Foundation, Jecko Siompo pimpinan the Animal Pop, Endah Laras, dan lainnya."

Menurut lo mereka itu melihat keberadaan fotografer nggak sih?
"Ada yang seneng ada yang biasa aja sih, dari sekadar retweet/regram atau ngucapin makasih atau sampe minta filenya. Tapi banyak juga yang biasa aja nggak ada tanggepan, nggak tau tuh diliat atau nggak."

Nah, trus kan ada yang suka minta file gitu lo ngasih nggak?
"Ya gue kasih aja, itung-itung buat nyenengin hatinya. Siapa tau ke depannya dikasih kemudahan, kesempatan."

Kemudahan maksudnya?
"Dapet akses backstage atau mungkin diajak pas manggung ke mana gitu."

Lo nggak masalah kalau nggak dibayar?
"Buat gue nggak masalah asalkan ya mereka terus terang aja kalau nggak bisa bayar. Mungkin yang gue jalani selama ini bakal banyak dicela atau dicibir sama orang kalo tau gue sering nggak dibayar, karena menurut gue kadang kesempatan yang didapat itu lebih berarti buat gue."

Maksudnya lo lebih mengedepankan berkarya daripada materi?
"Jadi gue seneng dan berterima kasih kalo mereka ngasih kesempatan buat gue yang belum tentu semua orang bisa dapetin hal yang sama dari mereka. Gue nggak munafik. Gue masih butuh materi juga. Tapi bukan mendewakannya. Melihat mereka berlatih keras, bercanda di backstage, saling menguatkan satu sama lain, merasakan ketegangan sebelum pentas. Itu tidak bisa digantikan dengan materi apapun."

Gimana menurut lo foto panggung di Indonesia saat ini?
"Kalau gue liat sih, ketika menyebut foto panggung,  lebih banyak pada pentas musik ya. Itu menurut yang gue liat. Itu pun juga kadang masih suka milih-milih yang mau mereka foto. Ketika nama musisi semakin besar, itu jadi bejibun peminatnya. Apalagi kalau maunya langsung panggung gede dengan tata cahaya mewah. Padahal panggung kecil intim dengan penonton berjubel dan cahaya minim itu kan juga jadi tantangan dan nguji diri, sejauh mana loe nguasain medan dan 'senjata' loe. Kalau lampu redup, boleh pake flash, ya hajar aja. Kalau memang momen nggak dapet, setidaknya ada 'oleh-oleh' yang dibawa dari pentas yang difoto."

Saat mengunggah foto di media sosial perlu dikasih watermark nggak sih?
"Gue sih awalnya ngasih watermark tapi lama-lama nggak pake juga. Ya, kalau dibajak dan nggak diakui yawis lah mau gimana lagi. Makanya, sekarang kalau upload ya filenya kecil ajalah."

Lo memaafkan orang yang mencuri/memakai foto loe tanpa izin?
"Ya kalau gue bisa dapet kontaknya atau email atau DM, ya gue tanya aja dulu baik-baik kok foto gue diakuin. Kalau dia nyolot atau nggak mau tau yawis lah. Yang penting gue udah complain atau palingan tinggal gue umumin aja di media sosial ada yang nyolong dan nyolot."

Punya persiapan nggak sebelum memotret?
"Kalau gue dikasih kesempatan, gue pengin liat dari persiapan mereka [penampil di panggung-red] agar gue tau blocking dan adegan penting. Kalau nggak dapet ya udah, persiapan seadanya aja lah, nebak-nebak."

Ada nggak trik/tips untuk menghasilkan foto yang bagus?
"Sering-sering aja motret nanti juga bakal ketemu kok dengan sendirinya gayanya. Banyakin referensi juga buat contoh foto, ditiru juga gpp kok namanya juga masih awal. Tapi ya jangan keterusan. Gue suka ngeliat foto-foto jazz zaman dulu. Gue suka banget."

Apa yang mungkin membuat lo akan berhenti motret?
"Kalau mata gue nggak bisa ngeliat lagi atau hal-hal lain berkaitan dengan kesehatan dan kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk beraktivitas lagi."

Modal utama motret apa sih menurut lo?
"Rasa penasaran dan keingintahuan. Gue suka dengan quote dari fotografer yang gue suka karyanya, Annie Leibovitz. 'When I say I want to photograph someone, what it really means is that I'd like to know them. Anyone I know I photograph'."

Lo juga jadi official fotografer sebuah band nggak?
"Kebanyakan cuma diajak atau gue inisiatif minta ikut.”

Punya impian nggak motret backstage siapa gitu, band luar mungkin,  atau backstage pertunjukan apa gitu?
“Siapa ya.. Gue sih kepikiran siapa aja senimannya. Nggak cuma pas aktivitas di panggung tapi sehari-harinya juga. Gue sih pengin ngerasain moto show di luar negeri seperti Pina Bausch [Jerman]. Moto pentas di Broadway, New York juga. Tapi juga ada keinginan motret seniman-seniman maestro Indonesia.

Punya keinginan gelar pameran tunggal nggak?
“Iya, pengin sih tapi belum ada kesempatan dan modal aja. Gue pengin pameran untuk ngebuktiin atau ngasih tau ke orangtua gue, yang udah gue lakuin selama ini." [][foto courtesy of Yose Riandi]